“How Do You Fund Your Trip?”


Menjadi orang Indonesia di luar negeri memang sering bikin sulit, selalu dianggap remeh dalam segala hal. Perlu rasa percaya yang tinggi untuk jadi orang Indonesia supaya bisa bergaul dalam pergaulan internasional.  Walaupun begitu, aku tak merasa harus minder dengan mereka. Malah, salah satu hal yang paling kusuka saat traveling adalah kumpul-kumpul di ruang makan penginapan sambil ngobrol tentang perjalanan dengan traveler dari berbagai negara.  Kami biasanya nongkrong di ruang makan ini ngobrolin tentang perjalanan sambil menikmati bir (dan ganja…:-p).

Sedikit berbeda rasanya ketika aku berada di Timur Tengah dan Afrika karena setiap kali aku mengutarakan rencana perjalanan keliling duniaku (walaupun cuma berakhir di Afrika), ada sebuah pertanyaan seperti judul di atas yang selalu ditanyakan oleh traveler-traveler dari negara lain yang kebanyakn bule. Maklumlah traveler-traveler yang mengunjungi negara-negara di luar Asia Tenggara biasanya orang bule dari Eropa. Bahkan traveler Korea dan Jepang yang biasanya mendominasi Asia sudah mulai berkurang ketika memasuki Timur Tengah dan Afrika.

Para traveler  bule ini seakan tidak percaya kalau orang dari Indonesia bisa melakukan perjalanan keliling dunia.  Mungkin menurut pikiran mereka Indonesia adalah negara dunia ketiga yang penghasilannya jauh di bawah negara-negara Eropa dan Amerika. Nah, kalau yang menjelaskan perjalanan itu tadi berasal dari negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika Utara pasti tidak akan ada yang mengajukan pertanyaan dan menganggap itu hal yang biasa.
Setelah pertanyaan diatas, pertanyaan selanjutnya akan seperti ini, “What is your job and how much is your salary?” Mereka pasti mikir dari mana nih orang Indonesia dapat duitnya. Sudah menjadi berita yang umum kalau Indonesia salah satu negara terkorup di dunia dan negara miskin, jadi mungkin saja aku dianggap koruptor yang lagi menghambur-hamburkan uang dengan cara keliling dunia…:-p. Walau kalimat yang terakhir itu sedikit mengada-ngada tapi sempat juga terpikir olehku. Biaya keliling dunia kan nggak murah.

Pada akhirnya aku menjelaskan tentang pekerjaanku sebagai konsultan di bidang pengeboran minyak yang tiga tahun belakangan bekerja di luar negeri. Aku juga bercerita kalau banyak insinyur-insinyur perminyakan Indonesia yang bekerja di luar negeri dan dibayar dalam dollar. Aku juga bilang dengan sedikit sombong kalau gaji orang-orang Indonesia yang kerja di perusahaan minyak di luar negeri lebih tinggi daripada gaji rata-rata gaji orang Amerika dan Eropa pada umumnya. Aku tidak mau mereka meremehkan Indonesia. Nasionalisme ketika tinggal di luar negeri memang selalu jauh lebih membara ketimbang ketika tinggal di Indonesia. Wajar saja, tinggal di Indonesia setiap hari nonton soal dagelan politik yang bikin perut mules….:-p.

Setelah dipikir-pikir, aku mungkin salah memilih negara-negara untuk traveling. Indonesia bukanlah negara yang dikenal di Afrika apalagi oleh  traveler-traveler yang pergi kesana. Malaysia jauh lebih dikenal daripada Indonesia di Afrika. Kalau aku tadi pergi ke Paris mungkin aku tidak akan mengalami pengalaman ditanya-tanya soal gaji, pekerjaan dan biaya perjalananku. Orang di Paris justru bingung kalau aku traveling kesana hanya tinggal di guesthouse murah karena orang disana tahu kalau orang Indonesia banyak duitnya. Maklumlah katanya banyak orang-orang kaya Indonesia dan para pejabat yang berbelanja disana, sampai-sampai penjaga butik di Paris memperkerjakan wanita-wanita muda asal Indonesia. Ke Afrika, siapa yang mau pergi kesana?

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi