Suku Masai (Maasai) “The Warrior”
Suku Maasai terkenal sebagai suku pengembara dan petarung yang tangguh. Cerita tentang ketangguhan bertarung mereka terutama melawan binatang-binatang buas sudah tersiar ke seantero jagad berkat film-film dokumenter yang disiarkan oleh saluran-saluran televisi seperti “National Geographic” dan “Discovery Channel”. Di film-film dokumenter yang dibuat oleh kedua saluran televisi terkenal ini, orang Maasai sering disebut sebagai ”Maasai Warrior”. Tak hanya di film, kehebatan para “Maasai Warrior” juga diakui oleh seorang temanku di Tanzania yang bekerja sebagai pemandu safari selama puluhan tahun di savana Afrika. Menurut ceritanya, singa-singa di Savana Afrika hanya takut kepada orang Maasai. Setiap kali kawanan singa melihat orang Maasai, singa akan langsung lari dan menghindar. Gimana kalau singa-singa ini melihat orang biasa? Yah, siap-siap saja menjadi santapan si singa.
Tanzania dan Kenya adalah dua negara yang sekarang menjadi tempat tinggal kebanyakan orang Maasai. Sebagian besar dari mereka tinggal di perkampungan-perkampungan yang berada di taman-taman nasional di kedua negara seperti Serengeti dan Maasai Mara. Perkampungan orang Maasai yang masih hidup dengan cara tradisional biasanya berbentuk lingkaran dan berpagar tinggi untuk melindungi diri dari serangan binatang buas. Kebetulan, banyak taman-taman nasional di Tanzania dan Kenya terletak di perbatasan kedua negara sehingga para anggota klan suku Maasai ini bisa bermigrasi dengan leluasa. Uniknya orang Maasai tak harus pusing dengan urusan keimigrasian karena mereka dibebaskan oleh Pemerintah Tanzania dan Kenya dari aturan keimigrasian dan kewarganegaraan. Pemerintah Tanzania dan Kenya memang sangat menghormati budaya suku Maasai dan melepaskan mereka dari banyak aturan pemerintah. Mungkin karena budaya suku ini menjadi salah satu atraksi yang paling disukai oleh turis-turis yang berkunjung ke Tanzania dan Kenya.

Perkampungan Suku Maasai di Serengeti National Park
Walaupun sekarang menjadi “habitat” orang Maasai, Tanzania dan Kenya bukanlah negara asal suku ini. Nenek moyang mereka berasal dari Sudan, dan masih punya pertalian dengan suku Dinka di Sudan. Mereka rela melakukan perjalanan sampai ribuan kilometer untuk mencari padang rumput terbaik untuk ternak-ternak mereka yang jumlahnya ribuan. Yup, seperti juga saudara mereka suku Dinka, suku Maasai juga adalah peternak yang ulung. Mungkin tak banyak orang yang tahu soal pekerjan suku Maasai ini. Bisa dikatakan segala kehebatan yang dipunyai oleh “Maasai Warrior” termasuk bertarung dengan binatang puas seperti singa hyena atau leopard ada kaitannya dengan profesi mereka sebagai peternak. Setiap pemuda suku Maasai harus melewati proses inisiasi menjadi “Maasai Warrior” dengan membunuh singa dan keahlian-keahlian lain tentunya. Bagi suku Maasai, satu nyawa sapi yang dibunuh singa harus dibayar oleh singa dengan nyawanya.

Orang Maasai Di Arusha, Tanzania
Penjualan ternak seharusnya membuat orang Maasai lebih sejahtera karena mereka punya hewan ternak yang tidak sedikit. Sayangnya, sebagaian besar uang hasil ternak mereka habis untuk membeli minuman keras. Orang Maasai rupanya doyan mabok juga. Mereka sepertinya sudah termakan paham hedonistik tentang bagaimana cara menikmati hidup.
Orang Maasai pernah sangat bangga dengan pakaian tradisional mereka sampai-sampai orang asing atau orang-orang yang memakai celana dijuluki “illorida enjekat”, yang dalam bahasa Maasai berarti “orang yang menampung kentutnya”. Menjadi cukup ironis rasanya ketika orang-orang Maasai saat ini ini mulai meninggalkan cara berpakaian yang mereka banggakan itu. Aku sudah terbiasa melihat mereka berkeliaran di kota-kota di Tanzania dan Kenya dengan pakaian modern (pakai celana panjang) dengan telepon genggam di tangan. Beberapa orang dari suku Maasai rupanya sudah mulai terbiasa ”menampung kentut” mereka……:-p
Pengalaman pertamaku berinteraksi dengan orang Maasai sebenarnya bukan saat aku mengunjungi perkampungan mereka di Tanzania atau Kenya, tetapi ketika aku bersama beberapa teman dari Amerika pergi ke “Irish Bar”, sebuah bar yang cukup terkenal di Dar Es Saalam, Tanzania. Beberapa orang Maasai berjaga-jaga di depan pintu gerbang Bar. Mereka menjadi tenaga keamanan disitu. Orang Maasai sadar kalau mereka cukup ditakuti di Tanzania. Imej tentang kehebatan mereka yang banyak dibantu oleh film-film dokumenter keluaran National Geography dan juga Discovery Channel memang menjual. Bukan hanya di bar-bar, mereka juga menjadi petugas keamanan di bank-bank di Tanzania dan Kenya. Aku pernah bertanya kepada orang lokal di Tanzania tentang banyaknya orang Maasai yang menjadi penjaga keamanan di Dar Es Salaam. Dia berkata begini, “No one mess up with Maasai. They will just throw their spears if you make trouble with them and they are very good with it.”
Suku Maasai memang boleh bangga dengan “kehebatan” mereka, tapi tak semua orang yang setuju dengan itu. Setidaknya, seorang teman yang kutemui di Kenya punya pendapat yang berbeda. Dia tidak setuju dengan julukan orang Maasai yang pemberani dan tidak takut mati. Dia mengaku melihat pernah beberapa “Maasai Warior” yang bersenjata tombak dan parang lari terbirit-birit ketika perampok bersenjata berat datang menyatroni sebuah bank di Nairobi yang dijaga oleh mereka. Pendapat temanku ini memang ada benarnya. Di Tanzania jarang terjadi perampokan bersenjata berat setelah tentara Tanzania mengusir orang Somalia sedangkan di Kenya khususnya Nairobi, perampokan dengan senapan mesin dan senjata berat lainnya adalah cerita biasa. Maasai rupanya belum kebal peluru, ciut juga nyali mereka berhadapan dengan senjata api.

Pekerjaan Asli Suku Maasai, Beternak
Bagi “Maasai Warrior” yang kurang beruntung mendapat pekerjaan sebagai petugas keamanan, menjadi sales pernak-pernik Maasai di depan taman-taman nasional adalah pilihan yang bagus. Mobil jeep safari kami dikerubungi oleh sekelompok orang Maasai di pintu gerbang Taman Nasional Ngorongoro. Semuanya mengaku bahwa pernak-pernik yang mereka jugal terbuat dari gigi dan tulang singa yang mereka bunuh. Pemandu safari kami yang bernama Steven memberitahu kami sebelumnya kalau semua pernik-pernik yang dijual orang Maasai di depan taman nasional Ngorongoro dibuat dari tulang-belulang sapi, bukan dari tulang singa. Dia juga mengatakan kalau para Maasai disini penipu. Harga pernak-pernik yang ditawarkan selangit.
Steven juga melarang kami mengambil foto orang Maasai secara langsung karena menurutnya orang-orang Maasai sekarang ini sudah sangat komersil. Setiap orang Maasai akan meminta bayaran 5 dollar untuk satu kali pemotretan. Untung saja Steven memberitahu kami. Kalau tidak, uang 100 dollar bakal lewat karena ada sekitar 20 orang Maasai yang mengerumuni kami saat itu. Para ”Maasari Warrior” ternyata sudah sangat paham dengan konsep kapitalisme. Tak ada yang gratis bagi mereka. Mereka tahu banyak turis yang ingin mengambil foto mereka atau foto bersama mereka sebagai bukti “perjalanan hebat” para turis ini di Afrika. Bagiku, lain lagi ceritanya. Jujur saja, aku merasa rugi membuang uang $ 5 per orang hanya untuk memotret atau berfoto dengan mereka. Perjalananku di Afrika bukan hanya untuk melihat orang Maasai. Lagiupla, dengan lensa tele Nikkor F-2.8/ 200m yang kupunya, aku masih bisa dengan leluasa memotret mereka tanpa mereka ketahui…..:-)
.
Cerita Perjalananku Di Afrika lainnya: Rasta……Sebuah Jalan Kehidupan Afrika….Benuanya Orang-Orang Bersenjata TIA….This Is Africa!!! In God We Trust Copyright: Jhon Erickson Ginting Sumber: Pengalaman Pribadi Copright Photo: Jhon Erickson Ginting
Terima kasih sile responnya. Saya buka catatan ternyata saya ke Tanzania sudah lama sekali yakni tahun 1991. Waktu itu saya bebas memfoto mereka, mungkin waktu itu mereka belum komersil. Waktu mereka menari lompat-lompat beberapa diantaranya adalah perempuan, tapi tidak melompat. Saya beberapa kali ambil foto para perempuan itu karena cara mereka berpakaian tidak terlalu menutupi payudaranya. Saya kagum dengan nyanyian mereka yang menggunakan suara di leher, susah menggambarkannya. Tahun itu Dar Es Salam masih terbelakang sekali, jalan utama di kota itu berdebu dan banyak orang india. Pada tahun itu mungkin Kabanjahe lebih bagus. Yang masih membekas di ingatan saya, pada waktu makan di restoran saya dan 5 teman pesan nasi putih, tapi heran mereka tidak mengerti. Padahal itu adalah hotel terbagus di ibukota Tanzania.
Mas Agus, Waduh, saya tahun segitu masih baru kuliah dan berkeliaran hanya di Indonesia. Itupun kebanyakan hitchiking alias modal dengkul. Kapitalisme memang sudah merasuk kemana-mana termasuk kepada orang Maasai yang terkenal sangat kuat adat istiadatnya. Setelah mengenal uang, tentu saja tak ada lagi yang gratis. Mereka juga mulai meninggalkan cara hidup nomaden dan sebagian sudah memakai pakaian modern. Dar Es Salaam mungkin tak jauh beda Mas. Jalanan masih rusak sana-sini dan berdebu, tapi ketika saya datang tahun 2008, pembangunan infrastruktur dan gedung2 tinggi baru mulai. Sekarang sudah lumayanlah Mas. Kriminal di sana juga rendah sehingga keluar tengah malam juga gak apa-apa. J.E Ginting https://ginting.wordpress.com/