Safari Afrika (Tanzania) – Lake Manyara, Ngorongoro Crater, Serengeti National Park


Safari dalam bahasa Swahili artinya kurang lebih perjalanan atau traveling. Tetapi, bagi orang awam  terutama di Indonesia, safari lebih dikenal sebagai “tour melihat-lihat binatang” di taman nasional. Mungkin karena image yang sudah tertanam di kepala banyak orang ketika melihat binatang-binatang di taman safari. Sebenarnya safari di Afrika sangat berbeda dengan hanya sekedar melihat-lihat binatang. Safari di Afrika bersifat petualangan atau lebih tepatnya perburuan tanpa menggunakan senjata. Binatang-binatang yang mau dilihat tidak bisa ditemukan begitu saja seperti di kebun binatang atau taman safari di Indonesia. Peserta safari seperti pemburu, tidur di dalam tenda di lokasi sama dengan binatang-binatang liar mencari makan baik binatang pemakan rumput dan juga predator seperti Singa, hyena, leopard, atau cheetah. Terkadang para peserta safari turun menjadi korban keganasan binatang buas ini jika tidak hati-hati.  Menurut pemandu safari kami yang bernama Steven, hampir setiap tahun ada peserta safari yang tewas karena diserang binatang buas dari jenis predator.

Bersafari di  Afrika juga sering disebut “game drive” karena aktivitas safari menggunakan kendaraan bermotor seperti jeep. Kata “game drive” ini awalnya dipakai dalam istilah perburuan di Afrika dan sampai sekarang  masih dipakai oleh para  operator safari.

Setiap operator safari terutama di Arusha pada saat aku berada di sana tahun 2008 tidak memberi patokan harga safari per orang. Biasanya mereka menghitung biaya jeep per hari secara keseluruhan. Untuk budget safari, harga per orangnya sekitar $ 80 – 350 per hari tergantung jumlah orang per jip. Bonafide safari bisa mencapai $ 3000 per hari per orang. Kebetulan pada saat aku mencari operator safari, di Arusha sedang sepi dari turis. Aku dan seorang teman perempuanku asal Amerika terpaksa menggelandang di jalan-jalan di Arusha untuk mencari teman yang mau ikut safari supaya harganya lebih murah. Untunglah ketika kami hampir putus asa, seorang teman memperkenalkan kami kepada seorang direktur di sebuah kantor operator safari. Selamatlah kami karena operator ini sudah punya tiga orang peserta sehingga jika ditambah aku dan temanku, harga bisa turun jauh. Kami hanya perlu membayar $ 110 per orang untuk empat hari 3 malam bersafari di Lake Manyara, Ngorongoro Crater, dan Serengeti. Harga yang kami bayarkan sudah termasuk pemandu, koki, makan tiga kali sehari, jip dan tenda. Seperti yang kusebutkan di atas, pemandu kami bernama Steven yang merangkap supir dan koki kami bernama John.

Sebagaian besar orang yang bersafari di Lake Manyara, Ngorongoro, dan Serengeti  mempunyai ambisi untuk bisa melihat lima binatang yang dijuluki sebagai “The Big Five”. Istilah “The big Five” ini juga berasal dari istilah perburuan yang merujuk kepada lima binatang yang paling sulit diburu. Kelima binatang tersebut adalah Gajah, Singa, Banteng, Badak, dan Leopard. Empat binatang pertama tidak begitu sulit untuk ditemukan, hanya leopard yang perlu sedikit keberuntungan untuk menemukan dan melihatnya mereka dari jarak dekat.

Lake Manyara adalah tujuan pertama safari kami. Manyara berasal dari kata Swahili untuk menamakan sebuah jenis semak-semak yang banyak terdapat disekitar Lake Manyara. Nama ilmiah untuk semak-semak tersebut adalah Euphorbia tirucalli. Lake Manyara terkenal dengan pemandangan puluhan ribu burung Flamengo yang sedang mencari makan. Sayang, walaupun kami boleh keluar dari jeep tetapi kami tidak boleh mendekat ke tepi danau. Kami hanya diperbolehkan melihat dari sebuah tempat peristirahatan safari yang berjarak sekitar 500m dari Lake Manyara. Selain supaya tidak mengganggu habitat di sekitar danau, juga untuk menghindari binatang buas seperti singa yang banyak berkeliaran di sekitar danau.

Burung Flamengo di Lake Manyara

Selain burung flamengo, gajah dan gazelle (sejenis rusa) adalah binatang yang mudah ditemukan di sini. Ada dua jenis gazelle yang hidup Lake Manyara yaitu Thompson Gazelle dan Grand Gazelle. Yang menarik dari Thompson gazelle adalah satu jantan beristrikan 20 lebih betina. Sungguh beruntung pejantan tangguh tersebut.  Para pejantan lain yang kurang beruntung berada dalam kelompok yang disebut “bachelor”. Untuk  bisa mendapatkan 20 betina yang dikuasai oleh pejantan tangguh, pejantan dalam kelompok bachelor harus mengalahkan pejantan tangguh dalam sebuah pertarungan hidup dan mati. Merebut 20 betina dalam sebuah pertarungan hidup dan mati aku rasa sangat layak untuk dilakukan daripada harus puasa seumur hidup!!!

Thompson Gazelle jantan (yang bertanduk) dengan para istri-istrinya

Grand Gazelle Di Ngorongoro

Karena perjalanan dari Arusha ke Lake Manyara memakan waktu sekitar 4 jam, kami hanya sempat bersafari sekitar 3 jam saja. Pukul 5.00 sore, semua jip safari harus sudah keluar dari Lake Manyara untuk menghindari pertemuan dengan binatang-binatang predator. Sempat terjadi insiden dalam perjalanan kami pulang dari Lake Manyara. Seekor gajah besar tiba-tiba menghadang jalan kami dari jarak sekitar 2 meter. Gajah itu menatap kami dan tidak mau mundur dari jalan. Kami semua menarik nafas dalam-dalam dan terdiam karena tegang. Steven menyuruh kami untuk tidak melakukan gerakan tiba-tiba. Dia memundurkan jip safari kami dengan sangat perlahan. Semua menjadi sangat tegang apalagi ketika Steven dengan cueknya bilang bahwa gajah sebesar itu dengan mudah melemparkan 1 jip safari  seperti yang kami gunakan sekarang. Kebayang kalau gajah ini ngamuk. Kami semua yang berada di dalam jip bakal jadi rempeyek. Beruntung nasib baik masih berpihak kepada kami. Gajah itu mundur dan pergi menghilang di semak-semak. Mungkin dia hanya mau menunjukkan siapa yang berkuasa di kawasan ini.  Peristiwa kami dihadang gajah membuktikan bahwa safari di Afrika bukan tanpa resiko. Seperti kata-kata Steven pemandu kami bahwa setiap tahun ada saja turis yang tewas karena diserang oleh hewan liar.

Hari kedua safari, kami berangkat menuju Ngorongoro Crater yang berjarak 2-3 jam perjalanan dari Lake Manyara. Di pintu gerbang Taman Nasioanl Ngorongoro, beberapa orang Masai menawarkan dagangan mereka berupa kerajinan yang terbuat dari tulang. Mereka mengaku kalau kerajinan tangan dari tulang yang mereka buat berasal dari tulang singa yang mereka bunuh. Tetapi, Steven dan John memberi tahu kami jika kerajinan tulang buatan orang Maasai tersebut terbuat dari tulang sapi. Selain itu harga yang ditawarkan oleh para Maasi ini sangat mahal.

Jeep Safari dan Seekor Singa Jantan di Ngorongoro

Ngorongoro Crater adalah sebuah Savana yang luas. Zebra dan wilderbeast adalah dua binatang pertama yang kami lihat selain jerapah. Berbagai jenis burung mulai dari jenis burung puyuh dan burung elang juga banyak terlihat. Binatang-binatang di Ngorongoro lebih bervariasi daripada Lake Manyara. Kami juga melihat dua binatang ”The Big Five ” disini yaitu banteng dan Singa.  Adalah suatu pengalaman yang menakjubkan bagiku bisa  melihat singa yang lagi beristirahat di tepi jalan yang kami lalui. Jarak singa dengan jeep safari kami hanya sekitar 1 meter. Pemandangan seperti ini  biasanya hanya kulihat di layar TV dalam chanel Discovery atau National Geography.

Seekor badak dan anaknya

Di Malam kedua kami bersafari, kami menginap di salah satu camp site di  Ngorongoro. Steven dan John sudah mengingatkan kami sebelum tidur bahwa  camp site tempat kami memasang tenda adalah tempat hewan-hewan pemakan rumput mencari makan. Rumput disekitar camp site kami memang sangat subur. Menurut Steven, dimana ada hewan pemakan rumput, disitu juga pasti ada predator. Selain itu Steven mengingatkan kami supaya tidak menyimpan makanan di dalam tenda karena hyena bisa mencium makanan dari jarak yang sangat jauh. Tahun lalu ada peserta safari yang diserang hyena karena menyimpan makanan di tenda.

Menjelang pagi, aku kebelet pingin “boker”. Jarak tenda dengan toilet sekitar 15 meter. Aku sempat ragu untuk keluar dari tenda karena mengingat nasehat Stevend dan John, tetapi “panggilan alam” lebih kuat sehingga aku tak perduli lagi dengan nasehat kedua orang ini. Malah, setelah selesai memenuhi panggilan alam, aku berkeliling camp site sendirian. Ketika aku menceritakan apa yang kulakukan kepada John dan Steven, mereka mengomeliku. Mereka bilang aku beruntung tidak dimakan singa…..:-p.

Migrasi hewan dan Maasai Mara ke Ngorongoro

Setelah selesai sarapan pagi, rombongan kami bergegas ke Serengeti, taman nasional yang menjadi area penjelajahan kami di hari ketiga safari. Serengeti sendiri yang berasal dari bahasa Masai yang berarti dataran yang tidak berujung karena memang sangat luas. Kami berharap bisa bertemu dengan dua sisa binatang ”The big Five”  yaitu badak dan Leopard. Aku juga sudah memberi pesan kepada Steven kalau aku ingin melihat cheetah. Steven bilang mudah-mudahan keberuntungan ada pada kami karena jarang sekali orang yang bisa melihat semua binatang ”The Big Five” dalam hanya satu kali safari.  Kami cukup beruntung karena baru saja kami tiba di Serengeti, kami sudah melihat badak beserta anaknya. Steven kemudian membawa kami ke bagian Serengeti yang lain untuk melihat migrasi wilderbeast dan Zebra dari Maasai Mara.  Ada jutaan wilderbeat dan Zebra yang berkumpul di Serengeti. Rumput Serengeti yang berwarna hijau menjadi berwarna hitam oleh wilderbeast dan Zebra.  Sangat menakjubkan melihat jutaan Wilderbeast dan Zebra dalam satu tempat. Mereka sedang bermigrasi dari Masai Mara dengan tujuan akhir NgoroNgoro. Tidak pernah kulihat binatang sebanyak itu.

Hal yang membuatku yang membuatku lebih takjub lagi adalah kerja sama antara wilderbeast dan zebra untuk menghindari serangan singa. Menurut Steven, zebra adalah binatang cerdas. Cara zebra mendeteksi singa cukup unik. Mereka saling mengeluarkan suara untuk menandai kedatangan singa. Selain itu cara mereka berjaga-jaga adalah saling berhadap-hadapan dan melingkarkan leher sehingga mereka bisa melihat ke semua arah. Karena kecerdasan zebra tersebut, wilderbeast selalu ikut dalam rombongan zebra kemanapun mereka pergi. Ada satu hal lagi yang unik mengenai zebra, mereka selalu membelakangi dan tidak pernah menunjukkan wajahnya kepada mahluk lain kecuali dalam posisi berjaga-jaga tadi. Aku dan teman-teman safariku sudah putus asa untuk bisa memotret wajah zebra dari depan karena zebra-zebra ini selalu membelakangi kami.

Kumpulan Banteng Di Serengeti

Kuda Nil dengan tatapan penuh selidik

Cheetah dan Leopard adalah  dua binatang yang sukar ditemui karena sifatnya yang penyendiri. Beruntung kami punya pemandu seperti Steven. Matanya yang sangat awas melihat binatang karena pengalaman yang sudah belasan tahun dalam persafarian bisa menandai Cheetah dari jarak sekitar 500m hanya dengan melihat cara cheetah menegakkan kepalanya. Kalau jadi pemburu Steven pasti hebat.  Yang menjadi masalah, cheetah itu tidak berada dalam jalur mobil sehingga sulit melihatnya dari dekat. Kalau kami menerobos dan tidak mengikut jalur, kami bisa kena denda 50 dollar. Karena ingin memenuhi keinginan kami melihat cheetah dari dekat, akhirnya Steven mengambil resiko didenda dengan memotong jalan setelah tidak melihat ada mobil safari lain di dekat kami.  Jip safari kami berhenti sekitar 2 m dari cheetah. Binatang ini merasa sedikit terganggu dengan kedatangan kami. Matanya tidak lepas menatap kami dengan tajam. Akupun tidak menyia-nyiakan kesempatan mengabadikan salah satu binatang yang paling kukagumi ini. Melihat cheetah langsung di habitat aslinya adalah sebuah sebuah kebahagiaan tersendiri bagiku. Aku sempat mengambil beberapa fotonya sebelum cheetah tersebut menghilang di semak-semak.

Cheetah Di Serengeti

Leopard, The Big Five terakhir yang kulihat

Leopard adalah binatang ”The Big Five” terakhir yang kami buru. Hari sudah menjelang sore dan kami belum juga bisa menemukannya. Walaupun kami sudah mengitari Serengeti berulang-ulang, Leopard tak mau menunjukkan batang hidungnya. Aku dan teman safariku sudah pasrah jika kami tidak akan melihat seluruh ”The Big Five” di hari ketiga kami. Karena merasa tak ada harapan menemukan leopard, Steven akhirnya memutuskan pergi ke camp site karena hari sudah gelap. Ajaibnya, beberapa puluh meter dari lokasi camp site, kami secara tak sengaja menemukan leopard yang tidur persis di pinggiran jalan menuju camp site. Kami benar-benar beruntung. Dengan berbisik Steven berbicara kepada kami supaya tidak mengeluarkan suara. Dengan hati-hati aku mengabadikan leopard dengan kamera Nikonku.  Hari yang benar-benar penuh keberuntungan bagi kami. Hanya dalam satu kali safari, kami bisa melihat ”The Big Five”. Banyak orang yang pernah sampai tiga kali ikut safari, tapi tidak bisa melihat “The Big Five” secara keseluruhan.

Malam hari kami ngobrol sampai menjelang tengah malam. Aku tidak merasakan gigitan beberapa nyamuk Tse-Tse yang bisa membuatku pingsan. Mungkin karena aku sangat gembira dengan keberhasilan kami hari ini. Sebelum tidur, Steven kembali mengingatkanku untuk tidak keluar menjelajahi camp tengah malam seperti di Ngorongoro kalau tidak mau menjadi santapan singa. Dia juga mengajari kami  beberapa trik untuk menghindar dan juga mengusir singa. Menurut Steven, Serenora camp tempat kami memasang tenda adalah salah satu tempat favorit singa berburu zebra dan banteng karena kawasannya yang penuh dengan semak-semak.

Pukul 4 pagi aku kembali terbangun karena “panggilan alam”. Aku membuka jendela tendaku dan melongok keluar. Setelah kuperhatikan beberapa menit, aku tak menemukan ada singa yang berkeliaran di sekitar camp site. Hanya ada rubah yang mengendap-endap mencari makan di tempat pembuangan sampah. Aku akhirnya memberanikan diri keluar dari tenda. Aku mengendap-endap sambil melirik kiri kanan menuju toilet yang jaraknya sekitar 20 meter dari lokasi tenda. Gara-gara cerita John dan Steven yang bilang banyak singa berkeliaran di sini, aku pun jadi paranoid. Aku merasa perjalanan dari tenda ke toilet adalah perjalanan 20 meter terpanjang dan terlama dalam sejarah hidupku. Aku jelas-jelas tak mau jadi sarapan pagi singa…..:-p.

Setelah sukses “meletakkan bom di daerah musuh”, aku keluar dari toilet. Aku melihat ke atas langit yang ternyata penuh dengan bintang-bintang. Hari juga mulai terang dan paranoidku juga sudah hilang. Hanya si rubah paranoid melihatku. Matanya terus memperhatikan gerak-gerikku. Aku tidak begitu memperdulikannya dan lebih memilih untuk menikmati indahnya langit yang penuh bintang-bintang. Aku terus menatap bintang-bintang yang begitu banyak jumlahnya sampai matahari muncul di ufuk timur. Pagi yang indah di Taman Nasional Serengeti, sesuatu yang mungkin belum tentu bisa terulang lagi…….

Kisah Perjalananku Lainnya Di Tanzania:

Psssst Dan Mambo Jambo

Kisah Seram Tentang Orang Albino Di Tanzania

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi
Copyright Photo: Jhon Erickson Ginting