Waktu Afrika (“Africa Time”)


Salah satu hal yang paling parah dan sangat tidak reliable di Afrika adalah masalah ketepatan waktu. Semuanya menjadi serba lambat di Afrika. “When time goes slower in Africa,” seloroh teman-teman traveler disana. Setiap kali bikin janji untuk bertemu, kami selalu bercanda waktu yang mau dipakai waktu normal atau “Africa Time”. “Africa Time” artinya kita bisa telat lebih dari sejam dari waktu yang ditentukan….:-p. Kalau di Indonesia orang telat meeting karena alasan macet, di Afrika orang bisa telat dengan alasan macem-macem yang kebanyakan tak masuk akal.

Aplikasi dari “Africa Time”  yang paling parah terjadi pada transportasi publik. Aku mengalami sendiri efek dari “Africa Time” ini  saat naik kereta api dari Dar Es Salaam menuju kota Mbeya di Tanzania. Teman seperjalananku, Tim menganggap kereta api adalah sarana transportasi paling aman di dunia. Tim menggunakana statistik di Amerika untuk membuat kesimpulan tersebut. Aku “terpaksa” ikut dengan Tim karena dia terlalu paranoid naik bus di Afrika yang sudah terkenal dengan angka kecelakaan yang tinggi.

Kami berdua sebenarnya sudah mendengar tentang jaringan kereta api Tanzania yang suka menggunakan “Africa Time”. Beberapa teman mentertawai keputusan kami naik kereta karena menurut mereka, kereta api di Tanzania adalah transportasi yang paling tidak reliable soal ketepatan waktu. Kami cuek saja karena menganggap keterlambatan paling banter cuma satu atau dua jam saja. Petugas kereta api yang kami tanya juga mengatakan bahwa perjalanan kereta api dari yang akan kami lakukan “hanya” memakan waktu 16 jam. Dia mengatakan kepada kami tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Seharusnya petugas kereta api itu adalah orang yang terakhir yang kami harus percayai. Alih-alih tepat waktu, kereta api kami baru tiba di Mbeya setelah 32 jam perjalanan atau dua kali dari waktu normal. Satu-dua jam terlambat itu biasa. Tapi, terlambat sampai 16 jam memang nggak niat dari sononya. Keterlambatan yang sampai 16 jam itu akibat lokomotif yang digunakan ngadat di tengah perjalanan, tepatnya di Udjungwi National Park. Kami terpaksa menunggu lokomotif dari kota lain sebelum bisa melanjutkan perjalanan. Kata-kata “TIA, when time goes slower” pun langsung keluar dari mulut kami.

Bus sama konyolnya dengan kereta api soal ketepatan waktu, tapi tak semuanya. Kalau mesin lagi bagus, bus bisa tiba di tujuan lebih cepat daripada waktu normal. Tapi, kalau ngadat (kasus yang paling umum terjadi), terlambat sampai belasan jam seperti kasus kereta api adalah hal yang biasa. Siap-siaplah bermalam dengan singa-singa kalau bus ngadat pas di Taman Nasional……:-p.

Bagi teman-teman kami yang sudah tinggal lama di Afrika, terlambat 16 jam adalah hal yang biasa. Ketika aku dan Tim cerita kepada seorang teman yang memang sudah belasan tahun tinggal di Afrika tentang keterlambatan kereta api yang sampai 16 jam, dia hanya nyelutuk, ” You guys are still lucky, I got 21 hours late in my previous train journey.”

Setelah mendengar kata-kata teman kami ini, aku dan Tim seperti merasa tak punya pilihan. Ternyata ada orang yang mengalami versi yang lebih buruk “Africa Time” daripada kami.  Yup, kami harus membiasakan diri dengan ” “Africa Time” kalau tidak mau stress sendiri…..:-p.

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi