Pengaruh India Di Afrika: “Capcay Pun Jadi Rasa Kari”


Aku sedang mengagumi sebuah kuil Hindu dan aku sedang tidak berada di India atau Nepal. Aku berada di Kampala ibukota Uganda, disebuah kawasan pasar sentral yang sangat padat. Sebelum aku ke Afrika Timur dan bagian selatan aku memang mendengar tentang suksesnya kaum India di Afrika ini. Bisa dibilang merekalah penggerak roda ekonomi di Afrika Timur dan bagian selatan.

Sedikit sejarah tentang komunitas India di Afrika, mereka memang dibawa oleh Inggris untuk menjadi pegawai pemerintah kolonial Inggris di beberapa negara Afrika yang menjadi jajahan Inggris di Afrika. Ingat dengan Bapak India, Mahatma Gandhi? Dia pernah bekerja di Afrika Selatan sebagai pegawai pemerintahan Inggris. Di Afrika Selatan, Gandhi mendirikan partai Kongres yang menjadi cikal bakal African National Congress-nya Nelson Mandella. Orang-orang India lainnya seperti halnya Mahatma Gandhi juga memulai karir di bidang pemerintahan sebelum beralih ke dunia bisnis setelah masa kolonialisme di Afrika berakhir.  Negara-negara Afrika yang baru merdeka menjadi suatu tempat yang memberikan kesempatan bisnis yang besar. Sayang kesempatan tersebut tidak dilihat oleh penduduk asli Afrika yang asyik berperang sesama mereka sendiri untuk mendapatkan posisi politik, sehingga orang-orang Asia terutama orang India dan Arab yang merebut hampir semua kesempatan dalam dunia bisnis.

Etnis India yang hidup turun-temurun selama ratusan tahun di berbagai negara di Afrika tak lagi merasa hidup di negara asing. Kuil-kuil Hindu yang megah di berbagai negara Afrika dari mulai Kenya sampai Malawi menujukkan eskistensi orang India di benua ini.  Eksistensi etnis India tak hanya ditunjukkan lewat kuil-kuil Hindu yang megah, tetapi juga lewat budaya. Saluran-saluran TV berbahasa India cukup mendominasi siaran TV di India. Setiap hari budaya India seperti film, tari-tarian, drama, nyanyi ala India disiarkan melalui siaran TV.  Tak pelak lagi budaya India masuk kedalam keseharian orang Afrika dan inipun berlaku di gedung bioskop. Aku sempat bingung ketika mau nonton di sebuah bioskop di Nairobi, Kenya karena semua film yang main adalah film India. Terus terang, aku bukanlah peminat film India sehingga niatku menonton kuurungkan.

Kuil Hindu di Kampala

Pengaruh India yang paling mendominasi di Afrika adalah makanan. Di setiap sudut jalan di berbagai kota-kota Afrika, restoran-retoran India bertaburan. Sangat mudah mendapatkan makanan India sampai-sampai orang-orang lokal juga membuka restoran-restoran yang menunya berisi makanan-makanan dari India. Hampir setiap restoran mempunya menu masakan India. Aku malah kesulitan mendapatkan restoran-restoran yang menjual makanan khas Afrika. Kalaupun ada, harga makan di resotran khas Afrika sangat malah seperti yang kualami ketika makan di sebuah restoran di salah satu sudut kota Nairobi. Sekalinya makan makanan Afrika yang murah ketika dalam perjalanan dari Dar Es Salaam ke Arusha, aku malah keracunan…..:-p.

Aku punya sebuah cerita menarik soal betapa kuatnya pengaruh makanan India di Afrika. Saat itu aku berada di kota Mbeya, Tanzania bersama teman jalanku, Tim. Kami berdua mengajak makan malam Christ dan Jeena, pasangan sukarelawan Salvation Army (Bala Keselamatan) yang bekerja disana. Christ merekomendasikan sebuah restoran China satu-satunya yang ada di kota itu. Aku sangat setuju dengan rekomendasi Christ karena sudah dua minggu aku cuma makan makanan India dan fast food. Aku lalu memesan salah satu makanan kesukaanku, capcay. Kapan lagi bisa nemu capcay di Afrika? Beberapa saat kemudian pesananku datang dan dengan semangat 45 aku mencicipinya. Terus terang, aku cukup kaget dengan rasa capcai yang kumakan karena sama sekali tak berasa capcay. Rasanya lebih mirip rasa kari, agak pedas dengan aroma rempah-rempah khas India. Orang Cina bisa protes keras kalau makan di restoran ini.

Capcay rasa kari ini menjadi bukti betapa kuatnya “rasa India” di makanan orang Afrika. Mungkin kalau gado-gado Indonesia masuk Afrika,  bumbu kacangnya dipastikan rasa kari juga…..:-p.

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi
Copyright Photo: Jhon Erickson Ginting