“Kelas VIP” Versi Afrika


Di Afrika, setiap pelancong baik yang mengaku sebagai turis, traveller, backpacker atau apapun namanya selalu digiring untuk menaiki ke gerbong atau dek “kelas VIP”  jika mau naik bus, kereta api ataupun kapal laut. Mungkin maksudnya untuk kenyamanan dan keamanan si pelancong. Sudah menjadi standar di banyak negara kalau kita bepergian dengan fasilitas kelas VIP pasti lah eksklusif dan sangat nyaman. Tapi, “kelas VIP’  versi Afrika bisa dikatakan sedikit unik.  Aku mau sedikit berbagi soal itu.

Sebagian bear perjalananku di Afrika kulakukan dengan bus umum. Untuk perjalanan lintas provinsi atau negara, aku selalu menggunakan bus kelas VIP karena alasan kenyamanan. Sialnya, kenyamanan yang kuharapkan jauh dari kenyataan. Aku bisa katakan satu-satunya bus yang memberiku sedikit kenyamanan adalah bus yang membawaku dari Dar Es Salaam ke Arusha di Tanzania. Selebihnya bus-bus kelas VIP yang kunaiki selalu memberikan “sedikit kejutan”. Tak seperti di Indonesia dimana bus VIP hanya punya dua bangku di setiap baris bangku, bus-bus Afrika baik kelas ekonomi dan kelas VIP memasang tiga bangku dalam setiap baris. Selain itu jarak antar bangku juga sangat sempit. Begerak selama perjalanan bisa dikatakan hampir mustahil……:-p. Gilanya lagi, bus hampir tak pernah berhenti di sepanjang perjalanan. Bayangkan jika naik bus selama 14 jam melintasi dunia negara, tak bisa bergerak dan harus menahan buang air. Bukan sebuah ide perjalanan “kelas VIP” yang pernah kuimpikan…..:-p.

Dek kelas VIP di Ferry Danau Malawi

Alat transportasi lain yang kugunakan dalam perjalananku di afrika adalah kapal ferry. Seperti biasa, penjaga loket kapal ferry memberi saran untuk membeli kelas VIP dengan alasan lebih nyaman. Tiga kali aku naik ferry di Afrika, dua kali di Tanzania dan sekali di Malawi. Kedua negara ini mempunyai klasifikasi yang sama soal “kelas VIP” karena tiket kelas VIP yang kubeli menempatkanku di dek paling atas dari ferry yang kutumpangi, tanpa tempat duduk dan bersama dengan beraneka ragam hewan. Padahal, aku sudah membayangkan sebuah ruangan ber-AC lengkap dengan flat TV dan sofa yang nyaman…..:-p. Tak masalah jika perjalanan dengan ferry hanya makan waktu dua jam seperti yang kulakukan saat menyeberang dari Dar Es Salaam ke Pulau Zanzibar. Tapi, ketika perjalanan memakan waktu tiga hari dua malam seperti yang kualami di Malawi, akupun jadi membayangkan perjalanan yang lebih nyaman. Maklumlah, karena berada di dek paling atas aku pun terpaksa terpaksa tidur di alam terbuka. Untung saja teman seperjalananku Tim punya ide untuk menyewa kasur sehingga kami tak perlu tidur di lantai yang dingin. Bukan hanya tidur yang jadi masalah, makanan juga benar-benar membuat sengsara dan pakai bayar pulak.  Harga tiket sebesar USD 23 dollar memang belum termasuk harga makanan.  Soal  kualitas makanan jangan ditanya lagi. Nasi tak benar-benar dimasak dengan benar  dan kadang-kadang bercampur batu. Lauk dan sayuran juga rasanya tak karuan. Lagi-lagi, bukan “kelas VIP” yang kuimpikan.

Kereta api tak berbeda jauh dengan bus dan ferry. Di Mesir, aku membeli tiket VIP versi penjaga loket. Aku berakhir di sebuah gerbong kereta api yang kursinya tak bisa digerakkan sama sekali dan bersama lima orang yang lain. Setelah bergaul sedikit dengan beberapa orang di Mesir, aku akhirnya tahu jika tiket yang kupunya bukan kelas VIP. Lain lagi ceritanya di Tanzania, aku benar-benar naik kereta “kelas VIP” dalam perjalananku dari Dar Es Salaam ke Mbeya. Tapi, lagi-lagi kelas VIP kereta api ini versi Afrika,  tanpa AC dan pintu yang hanya bisa dibuka dari dalam. Membuka pintu bisa menjadi sebuah petualangan yang mendebarkan karena sulitnya membuka pintu tersebut.

Sama seperti ferry di Malawi, makanan belum termasuk dalam harga tiket kereta sehingga aku harus membeli makanan dari restoran satu-satunya di kereta.  Melihat makanan yang diberikan, aku sudah bisa menebak rasanya. Soal kualitas kamar dan makanan diperparah dengan jadwal kereta api yang molor 16 jam karena mesin lokomotif yang rusak.

Makanan Kelas VIP di Kereta Api Dar Es Salaam-Mbeya

Tak tahu aku harus bilang apa soal definsi orang-orang Afrika soal “kelas VIP”. Kalau “kelas VIP” saja seperti itu, bagaimana dengan kelas ekonomi?  Aku tak sampai hati menceritakan keadaannya. Bayangkan saja naik kereta ekonomi pas lebaran plus bau-bauan semerbaknya dikalikan 5 kali. Maklum saja, orang Afrika tidak ada yang pakai deodoran…..:-p. Afrika memang beda……..

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi
Copyright Photo: Jhon Erickson Ginting