TKW….Sebuah Ironi Yang Lain.


Kali ini aku mau sedikit berceloteh soal TKW (Tenaga Kerja Wanita). Kalau mendengar kata ini saja, yang terbayang adalah orang-orang yang menderita dengan luka bakar, luka dipotong, dan luka-luka akibat penyiksaan yang lain. Berita-berita televisi dan koran di Indonesia memang sudah sering menyiarkan problema TKW yang cukup menyedihkan. Dalam perjalananku di Asia dan Timur Tengah, aku sering ketemu dengan para TKW ini. Rasa ingin tahuku yang dalam dan juga sekedar mencari teman ngobrol yang bisa bahasa Indonesia membuatku berinteraksi dengan mereka.

Hongkong adalah salah satu gudangnya TKW asal Indonesia selain Malaysia. Entah kenapa, di setiap sudut jalanan dan gedung yang kumasuki di Hongkong aku selalu bertemu dengan para TKW ini. Dandanan mereka taklah berlebihan dan masih kelihatan wajar. Tidak seperti yang pernah diceritakan di Koran soal dandanan mereka yang menor. Macau, tetangga Hongkong juga menjadi tempat nongkrong para TKW Indonesia kalau liburan.

Aku banyak berinteraksi dengan TKW asal Indonesia ketika tinggal dan bekerja di Kuala Lumpur. Aku bekerja sebagai TKI professional atau lebih tepatnya sebagai Drilling Engineer di Petronas Carigali, perusahaan minyak nasional Malaysia. Kebetulan kantorku ada di lantari 22 Tower 1 di Petronas Twin Tower.

TKW yang paling sering kutemui selama tinggal di KL adalah seorang pekerja domestic asal Indonesia yang bekerja tiga kali seminggu di apartemnku. Aku memastikan dia punya izin kerja dan tinggal di Malaysia sebelum bekerja denganku karena aku nggak mau berurusan dengan polisi. Beberapa TKW yang lain yang sering kutemui adalah penjual lumpia, penjual buah dan juga petugas kebersihan tempat aku bekerja di Petronas Twin Tower. Ada yang bisa diajak ngobrol dengan benar dan ada juga yang tidak. Tingkat pendidikan mereka yang rendah membuat mereka sering mengeluarkan kata-kata yang sering kita anggap tidak sopan padahal bagi mereka biasa saja.

Suatu waktu selepas menyelesaikan pekerjaanku, aku bertanya kepada seorang petugas kebersihan yang yang kebetulan sedang membersihkan ruangan kantorku. Karena rasa ingin tahu, aku bertanya dia berasal darimana. Dia menyebutkan salah satu kota di Jawa Tengah sana. Aku bertanya hal basa-basi yang lain kenapa dia bekerja jadi TKW di Malaysia dan juga sudah berapa dia lama bekerja di Malaysia. Jawaban klise keluar dari mulutnya soal sulitnya mencari pekerjaan dengan gaji lumayan dan sebagainya. Ketika aku bertanya soal izin bekerja di Malaysia, dia bilang tidak punya. Bah, bagaiman bisa orang bekerja di suatu negara tanpa permit? Aku bertanya apakah dia tahu resikonya kalau sampai ditangkap. Dia jawab, “ Habis, mau gimana lagi, Pak?”

Setelah mendengar jawabannya, aku hanya bisa berpikir seberapa banyak orang Indonesia yang bepikir seperti dia yang berani bekerja di negara tanpa izin sama sekali. Lah, yang bekerja jadi cleaning service di Petronas saja tidak pakai izin kerja, gimana yang kerja di pabrik-pabrik, perkebunan, proyek-proyek pembangunan gedung dan sebagainya? Benar-benar nekad nih orang-orang. Seperti tidak ada yang memberitahu mereka bahwa bekerja tanpa izin di negara orang adalah melanggar hukum.

Aku memang belum pernah bertemu langsung dengan TKW yang disiksa majikannya tetapi aku pernah bertemu langsung dengan TKW yang ditipu habis-habisan oleh majikannya. Saat itu aku singgah di Doha setelah perjalanan Afrikaku yang panjang. Di bandara internasional Doha, Qatar aku bertemu dengan beberapa TKW yang berbicara riuh rendah. Aku tak perlu bertanya lagi soal darimana mereka berasal. Aku menghampiri mereka untuk sekedar ingin tahu tentang mereka. Aku memang selalu punya masalah dengan rasa ingin tahu…..:-p.

Singkat cerita, salah seorang TKW membeberkan masalahku padanya. Dia sudah tidak dibayar majikannya selama 4 bulan dan memilih untuk kembali ke Indonesia. Awalnya, majikannya juga tidak mau membayar tiket pulangnya tapi kemudian berubah pikiran. Mungkin karena takut dilaporkan ke polisi. Si TKW sebenarnya datang ke Jordania dengan cara yang benar, tetapi ketika kontraknya habis dia menjadi “pendatang gelap” yang terus bekerja dengan majikannya. Majikannya memang membujuk si TKW untuk tetap bekerja dengannya dengan janji tetap akan dibayar. Si TKW terbujuk rayu dengan kata-kata majikannya dan bekerjalah dia terus dengan majikan tanpa kontrak yang jelas. Majikan benar memanfaatkan “keluguan” si TKW yang berpikir bahwa majikannya akan memberi dia gaji seperti biasa. Ketidakmengertian si TKW ini soal hukum benar-benar dimanfaatkan oleh majikannya Majikannya ngemplang gaji si TKW sampai 4 bulan.

Terus terang, aku tak tahu harus bilang apa soal TKW ini. Orang butuh makan untuk hidup, tapi kok rasanya tidak perlu sampai bulan-bulanan orang lain apalagi sampai mati di negeri orang hanya untuk mencari makan. Koran-koran sering menyebut mereka sebagai pahlawan devisa tetapi mereka juga melanggar hukum. Kalau yang bernasib sial ditipu majikan dan kadang-kadang ada yang sampai mengorbankan nyawa. Bagiku, masalah TKW seperti sebuah ironi……….

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi