“Bus Terbang” Ala Afrika


Bagi sebagian orang, naik bus di Tanzania bisa menjadi sebuah mimpi buruk terutama bagi turis-turis yang berasal dari negara maju dimana sistem transportasinya sudah sangat aman dan nyaman. Sudah menjadi rahasia umum jika 90% bus-bus penumpang yang beroperasi di negara ini adalah bus rongsokan yang minim perawatan. Gilanya lagi, para supir seakan tidak perduli dengan keadaan bus yang sudah rongsok. Mereka main tancap gas gila-gilaan di jalan yang sebagian besar rusak dan tak beraspal.

Kecelakaan bus bukanlah cerita yang aneh di Tanzania karena ulah ugal-ugalan dari supir. Bus mogok di jalan juga adalah cerita biasa karena perawatan mesin yang minim.   Salah satu temanku asal Tanzania bernama Nasuru pernah bercerita tentang pengalamannya naik bus yang mogok. Sial bagi dia dan penumpang lainnya karena bus mereka mogok tepat di depan kumpulan singa-singa di sebuah taman nasional. Singa-singa yang kelaparan ini kemudian mendekati bus dan menggaruk-garuk kaca dengan cakarnya yang besar. Singa pasti tidak menyia-nyiakan kesempatan “makan siang gratis” yang tak jauh dari tempatnya beristirahat. Terang saja semua penumpang menjadi histeris ketakutan. Di tengah terik panas savanna Afrika, mereka terpaksa menunggu seharian di dalam bus sampai singa-singa itu pergi. Baru setelah singa-singa pergi,  supir dan kernet berani memperbaiki bus.

Untuk “mengakali” rasa khawatir terhadap kecelakan dan juga mogok, para supir di Tanzania menulis kata-kata doa di kaca depan atau belakang bus mereka. Supir-supir bus di Tanzania ini punya keyakinan jika kata-kata doa tertulis di dinding kaca bus, mereka “bisa dibenarkan” untuk ngebut dan berharap busnya tidak ngadat atau mengalami kecelakaan di tengah jalan. Jujur saja, aku tak mengerti logika apa yang mereka pakai untuk mengambil kesimpulan seperti itu. Yang jelas, aku melihat sendiri kata-kata seperti “Emmanuel”,” God With us”, “God Bless Us”, “In God We Trust” tertulis di depan atau belakang kaca bus disana. Bandingkan dengan tulisan di  kaca depan atau belakang bus di Indonesia yang lebih banyak untuk lucu-lucuan seperti “Gadis Penggoda”, “Kutunggu Jandamu”, “Cinta Ditolak Dukun Bertindak”, dan lain-lain.

Aku mendapatkan kesempatan “kebut-kebutan’ dengan bus rongsok dalam perjalananku dari Arusha di Tanzania  menuju Mombasa di Kenya. Sang supir melajukan bus sekencang-kencangnya seakan-akan tidak perduli dengan keselamatan penumpang, padahal sebagian jalan yang dilewati oleh bus adalah jalanan tanah yang berbatu. Tak jarang bus terguncang dengan keras karena jalan yang berbatu. Kalau aku punya sakit “ambeien”, hidupku pasti sengsara sekali karena pantatku berkali-kali terhempas akibat guncangan bus yang keras. Saking kencangnya bus melaju, aku sampai menjuluki bus yang kunaiki sebagai “bus terbang”.

“Supir gila” di dalam bus rongsok yang melaju kencang adalah kombinasi yang menarik untuk melakukan sedikit “sport jantung”. Sang supir seperti tahu apa yang kupikirkan di dalam kepalaku yang “sedikit tak waras” akibat pengaruh pil malaria….:-p. Salah satu aksi dari sang supir yang selalu kutunggu adalah pada saat dia membelokkan bus di tikungan yang tajam. Seringkali dua roda  bus terangkat sehingga bus hanya melaju dengan dua roda lainnya karena dia tidak menginjak rem saat menikung dan malah “ngegas pol”. Setiap kali supir bus melakukan “atraksi gila” tersebut, penumpang-penumpang wanita di dalam bus  pasti menjerit-jerit ketakutan. Jeritan mereka dan raungan suara bus yang sudah rongsok menambah riuhnya suasana. Benar-benar chaos!!! Anehnya, aku malah tersenyum gembira dan sangat menikmati ke-chaos-an yang terjadi.

Mombasa yang berjarak sekitar 341 km dari Arusha dengan sebagaian besar jalan adalah “off road” hanya ditempuh dalam 4.5 jam. Percaya atau tidak, “bus terbang” kami tak mengalami masalah yang berarti di sepanjang perjalanan walaupun “digas pol” oleh supir. Kami tiba dengan selamat dan semua orang bisa bernafas lega karena bisa  lepas dari “pengalaman horor” di dalam bus. Sambil tersenyum simpul aku keluar dari dalam “bus terbang”.  Aku merasa adrenalinku sangat dipuaskan oleh “atraksi” yang dilakukan oleh supir. Tak perlu manjat tebing, bungee jumping, ataupun arung jeram grade-5 untuk memacu adrenalin di Tanzania. Naik bus saja sudah cukup bikin jantung berdegup kencang dan adrenalin mengalir deras……….:-).

Sebenarnya aku pernah naik “bus yang bagus” di Tanzania dalam perjalanan dari Dar Es Salaam ke Arusha. Saat itu aku pergi bersama teman wanitaku asal Amerika bernama Jane. Dia memilih “bus terbaik” seantero Tanzania sehingga pengalaman kebut-kebutan dan ngadat di jalan tidak kualami. Tapi, jujur saja aku tak menikmati naik bus yang “aman tentram loh jinawi” seperti itu karena sensasinya tak akan segila  naik “bus terbang”….:-p

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi