Orang Paranoid dan Orang Gila


Tim adalah teman seperjalananku di Tanzania dan Malawi. Awalnya dia tidak pernah berpikir dalam alam pikirannya yang paling liar sekalipun kalau dia travel di Afrika dengan cara sedikit “hardcore”. Sebelum ketemu denganku dia pergi kemana-mana dengan taxi dan tidak pernah naik bus umum. Aku memperkenalkan  “off beaten track travelling” kepadanya dengan mengajak dia ke pasar tradisional di pinggiran kota Dar Es Salaam. Dia sangat excited ketika aku mengajaknya. Dia sudah hendak memesan taxi ketika aku memberitahunya kalau kami akan naik bus umum. Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya ketika dia mendengar kata bus umum adalah, “Is it safe?” dan “Dude, the chair is not fit for my big butt.” Maklumlah dia gendut dengan perut buncit dan pantat besar….:-p. Setelah dia mencoba bus umum, Tim malah sangat menikmatinya. Untunk menyiasatinya, kami selalu duduk di dua bangku terdepan karena hanya bangku depan tersebut yang bisa menampung pantatnya  yang besar itu.

Ketika baru sampai di pasar, aku mengajak Tim ke sebuah bar lokal. Aku ingin melihat situasi pasar apakah memungkinkan untuk dijalani atau tidak. Bar adalah salah satu tempat untuk mencari info soal keadaan sekitar apakah aman untuk dijalani. Kalau soal bar, Tim langsung setuju dan bahkan dia lebih menikmati bar di pasar ini daripada bar-bar yang biasa kami datangi di pusat kota Dar. Kalimat “Is it safe?” kembali muncul ketika aku mengajak dia berjalan mengelilingi pasar. Dia tidak pernah berhenti berceloteh selama kami berjalan mengelilingi pasar. Kalimat paranoid yang selalu diucapkannya adalah “Look at those people, they have weird look on us, dude”.  Kalimat ini keluar setiap kali orang-orang di pasar melihat kami dengan tatapan yang menyelidik. Tim mungkin tidak terbiasa dengan tatapan-tatapan mereka..

Tim kembali paranaoid ketika dalam perjalanan dengan kereta api dari Dar ke Mbeya dia melihat banyak penjual buah menjual pisau pemotong buah kepada penumpang. Paranoidnya juga kumat ketika kami menumpang taxi dari perbatasan menuju Karonga. Si supir taxi membelokkan membelokkan arah taxi ke perkampungan yang tidak jauh dari jalan. Sebenarnya bukan dia saja yang paranoid, aku juga paranoid…:-p. Soalnya, tanpa ngomong si supir taxi langsung belokin taxinya ke arah jalanan hutan yang ditengahnya ada perkampungan. Kami juga sempat bersitegang ketika dalam berada di pos militer tentara Malawi dalam perjalanan dari Karonga ke Mzuzu. Pasalnya ketika tentara Malawi bertanya soal negara asal kami, aku menjawab dari Indonesia dan Amerika.  Tim yang tidak biasa diperiksa tentara hanya diam sehingga aku yang menjawab pertanyaan si tentara. Ketika bus kami melewati checkpoint Tim langsung menyerangku dengan kata-kata. Dia marah karena aku menyebut asalnya dari Amerika. Dia cukup paranoid dengan keamerikaannya. Dia takut kalau orang tahu dia orang Amerika, dia akan menjadi korban penculikan, pembunuhan dan lain-lain. Dia lebih memilih Australia sebagai negara asalnya karena dia tinggal lama disana dan punya paspor Australia juga. Banyak lagi cerita yang lain soal keparanoidannya yang jika aku tulis bisa membuat tulisan ini menjadi sangat panjang.

Awalnya aku berpikir susah benar jadi orang Amerika. Ini takut, itu takut. Apakah Tim contoh orang Amerika yang selalu paranoid seperti salah satu presidennya George Bush? Tentu saja tidak. Aku banyak kenal orang-orang Amerika yang menjadi teman kerja yang jauh lebih nekad daripada aku. Aku rasa itu hanya kebiasaan dan latar belakang. Aku memang sudah terbiasa masuk daerah konflik. Bekerjapun aku di daerah perang seperti Irak. Alah bisa karena biasa kata pepatah. Semakin terbiasanya Tim dengan lingkungan barunya di Afrika yang chaos, diapun semakin berani dan membuang jauh-jauh pikiran paranoidnya. Selama di Lilongwe, Tim belajar untuk tidak paranoid lagi. Dia tidak banyak bertanya ataupun khawatir ketika kami pulang tengah malam atau menjelang pagi dari restoran ataupun klub malam walaupun orang-orang lokal mengatakan Lilongwe sangat berbahaya di malam hari  karena sering terjadi perampokan. Rasa percaya diri Tim semakin lama semakin kuat.

Malam terakhir kami berdua di Lilongwe adalah bukti Tim semakin menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya di Afrika. Kami makan malam di sesebuah restoran makanan China di dekat pusat kota yang berjarak sekitar 1 kilometer dari penginapan kami. Karena malam terakhir bersama di Malawi, kami ngobrol ngalor-ngidul sampai jam 10 malam. Karena terletak di suatu daerah yang sepi dan jauh dari keramaian, tidak ada taxi yang lewat di sekitar restoran. Kami bertanya kepada pelayan restoran apakah aman jalan malam hari ke penginapan kami. Si pelayan mengatakan aman-aman saja, berbeda sekali dengan pendapat orang-orang seperti supir taxi dan resepsionis hotel tempat kami menginap yang selama ini mengatakan Lilongwe berbahaya di waktu malam. Dengan masing-masing mengantongi 2 batu sebesar kepalan tangan, kami berdua menembus kegelapan malam yang semakin gelap oleh rimbunan pohon. Di tengah jalan hujan deras turun, aku dan Tim berlari sambil terus mengawasi jalan kalau-kalau ada orang yang mendekat. Tidak ada insiden yang terjadi. Kami tiba di penginapan yang dijaga oleh beberapa petugas keamanan dan dibentengi pagar beton setinggi 2.5 meter  dengan basah kuyup.

Petugas keamanan yang membukakan pintu terkejut melihat kami dan berkata, “You guys are crazy. Bad guys can kill you out there.”

”Yeah…yeah…yeah. Many people say that, but nobody kill us until now,” jawab Tim sinis seperti biasa. Kami berdua memang sepakat bahwa isu tentang Lilongwe yang berbahaya di malam hari hanya “dilebih-lebihkan”. Aku pernah ngetes jalan sendirian di Lilongwe menjelang tengah malam sambil mengantongi dua batu sekepalan tangan tapi nggak ada yang ngerampok. Perampokan pasti pernah terjadi di Lilongwe tapi tidak seseram seperti yang diceritakan.

Tim yang sekarang benar-benar berubah. Dia tidak lagi paranoid. Ketika dia kembali ke Dar Es Salaam, dia memilih bus bukan kereta api yang selama ini selalu diagung-agungkan olehnya sebagai alat transportasi teraman di dunia, sendirian pulak!! Sesuatu yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh temanku ini. Dia selalu menyebutku ”Crazy Man” karena mungkin dianggap suka nekad tapi dia juga akhirnya dia ikut gila juga.  Aku memang  memberi pengaruh yang cukup buruk pada otaknya….:-p.

 Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi