Traveler Tak Harus Gembel (Travel With Fashion)


Bertemu traveler yang bergaya gembel atau hippy bagiku adalah hal yang biasa. Rambut yang awut-awutan serta cara berpakaian model gipsy adalah gaya klasik beberapa traveler.    Aku termasuk orang yang paling tidak suka melihat traveler dengan gaya seperti ini karena kelihatan jorok dan kadang-kadang mereka juga bau karena tidak mungkin tidak mandi berhari-hari. Menurutku traveler dengan gaya hippy  hanya meniru gaya-gaya traveler tahun 70-an yang memang kebanyakan penganut “hipinisme”…..:-p. Untungnya, kebanyakan traveler tidak bergaya hippy. Biasanya kebanyak traveler memakai celana  khaki dengan kantong banyak dan kaos oblong sehingga tidak terlalu merusak pemandangan.  Traveler wanita seringnya memakai jeans dan kaos oblong walaupun tak sedikit yang bergaya hippy yang gembel tadi.

Menjadi traveler ini tidak harus mempunyai selera fashion yang  jelek, paling tidak begitulah kata istriku dulunya yang sering memprotes caraku berpakain. Diantara para traveler gembel bergaya hippy tadi, aku juga bertemu dengan traveler-traveler yang modis dan bergaya. Salah satunya adalah Katsumoto yang lebih lebih senang dipanggil Kats saja. Dia adalah traveler Jepang yang menjadi teman seperjalananku dengan kereta api dari Kairo ke Aswan. Tidak seperti traveller Jepang lainnya yang biasanya sangat dekil dan gembel, Kats tergolong rapi dan sangat fashion. Kats memakai celana jeans hitam yang sedikit ketat dengan T-shirt putih dilapis dengan jaket yang trendy. Rambutnya yang ikal dan panjang membuat dia persis pemain film dari Jepang. Wajahnya cukup ganteng. Karena gayanya yang terkesan metroseksual, aku sempat berpikir kalau dia gay. Kats yang fashionable adalah seorang mahasiswa tingkat akhir di Kyoto University. Bahasa Inggrisnya sangat baik jika dibandingkan dengan traveller-traveller Jepang lain yang pernah aku temui. Dia memang pernah kuliah dan tinggal di London selama setahun. Dan, dia hanya memakai sebuah backpack kecil untuk perjalanan berbulan-bulannya di Timur Tengah dan Afrika Utara.

Traveler lain yang sangat modis adalah Margareth, seorang cewek Amerika yang bekerja sebagai PR di sebuah Rumah Fashion di New York. Aku bertemu dia di guesthouse tempat kami menginap tepat pada hari terakhirku di Mesir. Secara fisik Margareth sangat cantik. Dia mewarisi kecantikan khas Eropa Timur dari kedua orang tuanya yang berasal dari Kroasia. She is really a beautiful goddess! Selain cantik dia juga sangat ramah. Aku tidak hanya suka melihat kecantikannya tapi juga caranya berpakaian. Ketika aku pertama kali melihat dia di guesthouse aku pikir dia orang lokal yang baru pulang dari pesta. Dia memakai celana panjang warna krem dengan atasan berwarna hampir sama tapi lebih muda. Syalnya yang berwarna lembut menambah keserasian pakaiannya. Ini belum ditambah dengan tas Gucci  (bukan tiruan..:-p) dan sepatu high heel 7 cm yang dia pakai. Wajar saja aku dan beberapa orang traveler dari Argentina yang satu ruanganku sedikit bingung ketika Margareth bilang dia barusan saja jalan keliling Kairo dengan pakaian seperti itu. Dia keliling Kairo dengan jalan kaki dan naik kereta. Yeah, mungkin sudah waktunya untuk orang sedikit lebih fashionable dalam bertraveling.

Aku juga tidak bisa tidak memasukkan istriku yang juga doyan traveling tetapi tetap memperhatikan fashion. Ketika awal menikah aku langsung membawa dia travelling keliling Asia Tenggara. Istriku tetap dengan gayanya yang modis. Dari sejak dulu kerja di LSM, dia juga selalu traveling ke pedalaman-pedalaman di Indonesia dengan tetap menjaga selera berpakaiannya. Dia selalu berkata, “It is nothing wrong travelling with style.” Sorry jadi sedikit memuji istri….:-p, boleh kan?

Bercerita soal travel with fashion ini, aku pasti tidak bisa melupakan teman jalanku di Tibet yang bernama Vivian. Vivian seorang cewek China Amerika yang sangat cantik dan modis. Seperti Margareth, Vivian juga bekerja di salah satu Rumah Fashion di New York tetapi sebagai akuntan. “Kehebatan” Vivian dibanding yang lain adalah dia bisa menggendong backpack 60 Liter dengan pakaian yang modis sambil memakai sepatu high heel 5 cm, di Tibet pulak. Ada yang mau coba?

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi