Lebaran dan Sepakbola.


Salah satu momen yang paling kutunggu ketika tinggal di Turki adalah lebaran. Aku sudah menyiapkan kameraku untuk mengambil momen-momen yang menarik selama perayaan lebaran disana. Aku sebenarnya sedikit ragu karena selama Ramadhan tak ada aktivitas berarti di Ankara. Tidak seperti di Indonesia saat Ramadhan tiba, makanan-makanan khas Indonesia banyak dijajakan di jalan-jalan. Satu-satunya kemeriahan yang kulihat selama Ramadhan di Turki hanyalah Bazaar di sekitar Blue Mosque di Istanbul di malam hari. Aku sempat membeli makanan-makanan Turki disini yang sayangnya aku lupa namanya. Yang pasti bukan baklava atau kebab yang sudah terkenal.

Aku tiba di Ankara tepat di malam Lebaran 2007 setelah pulang dari cuti selama 2 minggu. Supir menjemputku di bandara. Karena dia tak bisa berbahasa Inggris aku hanya menyapa apa kabar saja dalam bahasa Turki yang sekarangpun aku juga sudah tidak ingat…..:-p. Sepanjang perjalanan aku tak melihat satupun orang di jalan. Kota Ankara benar-benar sepi. Tidak ada juga suara takbiran seperti yang biasa terdengar di masjid-masjid di Indonesia. Benar-benar tidak ada kemeriahan di kota ini.

Keesokan harinya pas hari lebaran pertama aku jalan-jalan di sekitar kota Ankara, Ankara seperti kota mati. Mirip Jakarta yang ditinggalkan penduduknya mudik pas lebaran. Aku benar-benar mati kutu karena liburan Lebaran di Turki tiga hari dan selama itu juga Ankara seperti kota mati. Aku cuma bisa bengong saja di apartemenku. Aku juga tidak berharap teman-teman kerjaku yang orang Turki mengundangku untuk silaturahmi ke rumah mereka. Mungkin tradisi seperti ini tidak ada di Turki juga apalagi di kota besar seperti Ankara. Lebaran di Ankara yang tadinya kusambut dengan antusias berubah menjadi situasi yang tidak mengenakkan karena harus menghabiskan waktu sendirian di apartemen. Apes……:-p

Berbeda dengan sepakbola, orang-orang Turki sangat menggemarinya. Selalu ada kemeriahan di sepakbolah. Lebaran boleh sepi tetapi tidak dengan pertandingan sepakbola. Kalau Galatasaray menang, supporter klub ini pasti melakukan arak-arakan keliling kota. Nah, kalau kalah bar-bar pasti tutup. Suporter disana sama rusuhnya dengan supporter disini.

Pernah suatu kali aku bangun tiba-tiba di tengah malam karena mendengar suara letusan sangat keras. Aku langsung menyalakan TV untuk mencari informasi kalau-kalau ada serangan bom atau polisi sedang menyerang kaum pemberontak. Maklumlah, aku tinggal dekat dengan kawasan kedutaan dan istana presiden. Serangan bom juga bukan hal yang aneh Turki. Biasanya serangan bom dilakukan oleh pemberontak Kurdi yang ingin membebaskan diri dari Turki. Akupun langsung mencari semua saluran TV soal pemboman. Di luar aku masih mendengar suara letusan. Anehnya, tak satupun TV yang memberitakan soal serangan teroris. Yang ada adalah berita soal rakyat Turki yang sedang merayakan masuknya kesebelasan mereka ke putaran final Piala Eropa. Mereka menembakkan senjata dan kembang api ke udara sebagai tanda sukacita mereka atas kesuksesan kesebelasan mereka. Sepertinya sepakbola sudah seperti “agama’ disini. Akupun langsung balik tidur lagi padahal tadi sudah sempat merasakans sedikit “ketegangan”. Ada-ada saja……..

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi