Hal-Hal Yang Unik Selama Tinggal Di Ankara (Part 2)


Orang Turki termasuk orang yang suka pamer, agak mirip dengan orang Indonesia. Setiap sore aku nongkrong di kafe, setiap itu pula aku mendengar suara ban mobil yang  bergesakan dengan aspal. Para pemilik mobil  sengaja melakukannya untuk menunjukkan keberadaan mereka. Apalagi, daerah tempat aku tinggal memang daerah paling elit Kavaklidere dimana istana Presiden hanya berjarak 10 menit jalan kaki dari apartemen tempat aku tinggal.

Suatu Sore di Musim Gugur, Ankara

Gara-gara tinggal di daerah elit, semua harga lebih tinggi jika dibeli di luar kawasan Kavklidere. Aku sempat kaget ketika beli air mineral 0.5 liter harus membayar 2.5 Lira (Rp 20,000 kurs Turki yang baru)  padahal di kawasan lain aku membelinya cuma 0.75-0.9 sen. Aku sempat ngomel-ngomel dengan penjaga toko yang menjual minuman 2 Lira tersebut. Omelanku baru reda setelah temanku orang Malaysia mengatakan bahwa dia juga membayar 2.5 Lira untuk air mineral setengah liter. Sampai sekarang aku tidak pernah tahu apakah kami memang dibohongi atau memang harga di kawasan kami tinggal memang semahal itu……..:-p.

Orang yang punya rumah di Ankara adalah orang yang sangat kaya atau orang yang sangat miskin. Kelas menengah biasanya tinggal di apartemen 2 lantai atau 3 lantai. Orang miskin membangun rumah bedeng di kawasan kumuh yang dekat dengan Ankara Castle. Aku sebenarnya ingin menjelajahi kawasan kumuh ini tetapi temanku orang Turki melarangku karena menurutnya kemungkinan besar aku tidak bisa keluar hidup-hidup dari tempat tersebut.

Daerah Kumuh (Slump Area) Ankara

Dalam soal menonton film, bioskop di Turki mirip dengan bioskop di Indonesia jaman dahulu yang suka berhenti di tengah mengganti roll film. Aku pikir awalnya ada kerusakan seperti yang sering terjadi di bioskop-bioskop misbar (gerimis bubar) di Indonesia. Tak tahunya mereka memberi waktu jeda 15 menit di tengah pertunjukan untuk memberikan penonton beristirahat sejenak sambil mengganti roll film.

Supir taxi di Ankara jauh lebih jujur daripada supir taxi di Instanbul yang turistik. Aku belum pernah sekalipun ditipu atau dikerjai oleh supir taxi di Ankara. Bahkan ada satu supir taxi yang mengembalikan sebagian ongkos yang kuberikan gara-gara dia merasa dia melakukan kesalahan. Di Istanbul, mau naik taxi aja si supir sudah berniat ngerjain…..:-p.

Salah satu hal yang bikin putus asa selama aku tinggal di Ankara adalah bahasa. Aku bisa mengatakan 90% penduduk Ankara tidak bisa berbahasa Inggris. Berbeda sekali dengan  Istanbul yang rata-rata penduduknya bisa berbahasa Inggris. Aku bisa memakluminya karena Anakara tidak merupakan dari daerah turis di Turki. Ankara adalah kota pemerintahan sehingga para traveler sering tidak memasukkan Ankara sebagai tujuan perjalanan mereka. Aku terpaksa belajar bahasa Turki yang menurutku salah satu tersulit di dunia karena grammar-nya tidak memakai Subjek Predikat dan Objek. Setiap kali belajar bahasa Turki aku harus belajar seluruh kalimat. Dari banyaknya kalimat dan kata-kata yang pernah kupelajari selama tinggal disana, Cuma satu kata yang bisa kuingat sampai sekarang yaitu Tessekuredirim yang artinya terimakasih.

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi
Copyright Foto: Jhon Erickson Ginting