“Kutukan” Bali


Jujur saja, aku pertama kali pergi ke Bali tahun 2009 beberapa bulan setelah aku kembali tinggal di Indonesia. Sebenarnya aku pernah ke Lombok naik kapal perang bersama kadet militer Indonesia belasan tahun yang lalu dalam sebuah latihan integrasi tapi aku tak singgah di Bali seperti yang teman-temanku lakuka. Karena tak pernah pergi ke Bali, banyak dari teman-temanku merasa heran. Mereka bilang aku pernah ke puluhan provinsi di Indonesia dan puluhan negara di dunia tetapi belum pernah ke Bali, kok bisa? Cukup memalukan memang….hehehehe.

Alasanku tak pernah pergi ke Bali karena menurutku Bali terlalu turistik. Sedangkan konsep perjalananku adalah kebanyakan “off beaten track”, sesuatu yang jauh dari hal-hal yang berbau turis.  Aku memang lebih mencintai petualangan berbahaya daripada pergi ke tempat turis yang membosankan.  Jadi, unsur petualangan lebih kental dalam travelingku daripada kuliner, shopping, ataupun sekedar jalan-jalan melihat objek wisata. Aku tidak melihat Bali sebagai tempat untuk memacu adrenalinku.

Kuta in the evening

Seperti motto travelingku sebelum aku menikah “Europe is only for grandma”, Bali tak jauh berbeda. Bali bagiku hanya tempatnya liburan buat nenek-nenek….:-p.  Tidak ada tantangan yang berarti kalau pergi kesana. Walaupun begitu tetap ada rasa penasaran dan sedikit rasa malu karen setiap teman traveler dari negara lain selalu bertanya tentang Bali.  Aku tak tahu apa-apa soal Bali karena memang aku tidak pernah kesana. Akupun terpaksa gombal doang soal Bali kepada mereka. Karena alasan itulah, aku pergi ke Bali. Kebetulan aku diajak oleh seorang teman.

Teras Sering Tegal Alang adalah tempat pertama yang kukunjungi di Bali. Selama berada di Bali, aku pikir tak ada salahnya untuk menyalurkan hobi fotografiku. Kubawalah kamera dan lensaku yang besar di dalam ransel kameraku lengkap dan laptop di dalamnya. Dengan beban yang cukup berat di punggung aku menyusuri pematang-pematang sawah di Tegal Alang untuk mencari spot yang bagus sambil berlari-lari kecil. Aku yang selalu merasa masih muda tak sadar kalau aku sudah tidak selincah dulu lagi. Ditambah beban seberat 10 kilo, akupun dengan mudah terpeleset dan terjerembat jatuh terseret kebawah sejauh 3 meter. Tanganku tertusuk duri sekitar 1.5 cm. Beruntung (masih bertuntung) kameraku tidak rusak dan pakaianku cuma basah sedikit. Rupanya Bali belum puas “menghukumku”. Beberapa langkah berjalan aku terpeleset dan terjerembab lagi walaupun kali ini tidak terseret seperti sebelumnya. Aku sampai geleng-geleng kepalaku sambil tertawa bego….:-p. Yup, hukuman Bali terhadapku belum selesai dan akupun jatuh terjerembab untuk ketiga kalinya di pematang sawah yang lain.

Sawah Teras Siring Tegal Alang Tempat Aku Jatuh

Aku mengambil nafas dan terduduk sambil terus mikir kok bisa  jatuh terjerembab sampai tiga kali. Selam ini aku sudah mendaki puluhan gunung, manjat tebing, pergi ke Mount Everest, traveling di daerah konflik di Irak tanpa insiden yang berarti tapi kok bisa jatuh di pematang sawah sampai tiga kali? Aku hanya bisa  mentertawai kesialanku.

Mount Batur

Kalau dipikir-pikir, aku memang tak perlu sombong dan menganggap remeh sebuah tempat hanya karena aku pernah pergi ke daerah-daerah berbahaya dan melakukan petualangan ekstrim.  Memang benar, orang jatuh bukan batu besar tetapi karena kerikil yang kecil. Aku tidak pernah lagi menganggap Bali hanya tempat traveling untuk nenek-nenek. Terus terang aku suka Bali tapi aku tetap bilang tidak kepada Kuta yang sudah terlalu turistik. Gunung Batur adalah tempat favoritku karena sangat hening dan sepi. Disana aku masih bisa mendengar suara angin berdesir. So, in the end Bali is not that bad……

PS: Sebenarnya aku mau mengaku satu hal lagi. Aku belum pernah ke Danau Toba…..:-p.

Cerita Perjalananku Lainnya Di Indonesia:

“Backpacker” Jadul

Pengalaman “Gila” Di Kapal Perang

Sumber: Pengalaman Pribadi

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Foto: Koleksi Pribadi