Toilet-Toilet Paling Jorok


Dalam perjalanan toilet adalah hal yang paling penting. Urusan buang hajat atau “panggilan alam” dalam bahasa halusnya adalah kebutuhan hidup yang tidak bisa ditunda-tunda. Kalau ditunda urusannya bisa berabe…:-p. Karena cueknya dalam memiliha penginapan, aku sering tidak menchek toilet. Nah, disinilah aku baru kena batunya. Paling sering sih bukan di penginapan yang toiletnya paling parah tetapi justru di tempat-tempat umum karena orang yang memakai merasa tidak bertanggung jawab dengan kebersihannya.

Aku terus terang tidak punya masalah dengan toilet selama perjalananku di Asia Tenggara. Walaupun Kamboja sebuah negara yang miskin, bisa dibilang mereka cukup lumayan dalam menjaga kebersihan toilet. Pertama kali aku berhadapan dengan toilet super jorok adalah ketika aku dalam pernjalanku menyurusuri Vietnam, selatan Cina di Yunan sampai ke Nepal. Perjalananku ke Kunming dari kota perbatasan Heikou dengan bus malam super reot cukup bikin sengsara ketika aku harus “memenuhi panggilan alam”. Toilet di setiap perhentian bus untuk istirahat dan buang air hanya berupa lubang yang dipenuhi kotoran. Ampyuunnnnn baunya!!!!!

Di Kuming, aku menginap di sebuah penginapan murah bernama The Hump. Katanya ini tempat popular diantara traveler. Tapi, toiletnya hancur!! Pemandangan biasa bagiku melihat tokai berceceran dan tidak disiram karena toiletnya mampet….weeekkk!!! Dari Kunming aku melanjutkan perjalanan ke Dali. Nah aku lagi-lagi sial ketemu menginap di Guesthouse No 4. Kamar mandi dan toilet berada di sebuah ruang 4 x 4 m. Di satu sisi ada pancuran dan disii lain ada parit kecil sebagai tempat buang hajat. Jadi kalau orang boker yang mandi pasti melihat ekspressi “mesum” orang yang lagi boker. Toilet ini  mengingatkan tentang pengalamanku di kapal perang yang pernah kutulis sebelumnya. Sialnya, alat penyiramnya yang berupa selang di ujung parit baru bisa mengalirkan air hanya di pagi hari dan sore hari saja sehingga orang yang “melepas bom” di siang hari akan membiarkan “bom” teronggok sampai sore. Sial banget kalau pas kita yang pertama mandi di sore hari. Kalau tidak disiram bau, kalau disiram “milik” orang lain….:-p

Pengalamanku dengan toilet menjijikkan berikutnya adalah ketika aku berada di Everest Base Camp di Tibet. Tak ada satupun pemilik tenda disana yang membangun toilet. Toilet satu-satunya adalah sebuah toilet yang terbuat dari papan yang mirip dengan toilet-toilet di kampung-kampung di Indonesia. Toiletnya agak jauh dari perkemahan dan terletak di sebuah lembah sugai yang kering. Lantai papan dilubangi dan dan orang yang mau buang air tinggal jongkok. Yang bikin aku tidak jadi “memenuhi panggilan alam” karena menggunungnya kotoran manusia sehingga ujung dari kotoran sudah hampir mencapai lubang tempat boker….:-p. Pengurus Everest Base Camp malas membuat lubang padahal jarak antar dasar lantai dengan tanah cuma sekitar 1 m. Coba bayangkan, tiap hari ratusan orang yang boker sehingga dengan cepat kotoran menggunung. Aku yang sudah sesak napas karena mountain sickness makin sesak napas saja ketika melihat toilet ini.

Traveler memang sudah tahu kalau toilet di China memang yang paling marah jadi harus pandai-pandai mencari penginapan yang punya toilet modern. Nah, Ankara sebuah kota dengan populasi yang cukup modern juga punya masalah dengan urusan toilet bersih. Aku saat itu sudah sangat terdesak untuk buang air kecil ketika aku baru turun dari Ankara Castle, satu-satunya bangunan tua bersejarah di Ankara. Akupun langsung menuju toilet umum yang terletak di sebuah taman. Aku langsung shock ketika masuk kedalammnya. Toilet benar-benar hancur. Kaca-kaca pecah, wastafel, dan toilet juga pecah berserakan dengan graffiti dimana-mana. Parahnya tokai juga berceceran dimana-mana dengan kombinasi bau busuk dan pesing. Aku langsung ambil langkah seribu.

Mungkin banyak orang berpikir kalau di Afrika toiletnya sangat jorok. Anehnya, di Afrika aku tidak pernah menemukan penginapan yang toiletnya jorok karea rata-rata pemilik penginapan orang bule. Standar kebersihan selalu dijaga. Satu-satunya toilet primitif nan bau yang kutemui adalah ketika aku berhenti di terminal bus Karonga, Malawi. Toiletnya persis dengan toilet di China berupa tanah yang dilubangi. Aku harus menahan napas ketika masuk ke dalam apalagi teman perjalananku baru saja “melepas bomnya”. Bah, kombinasi baunya adalah bau busuk kotoran yang sudah lama dengan yang masih baru.  Aku tidak ingin kalian membayangkan baunya…..:-p.

 

PS: Jangan muntah atau kehilangan selera makan setelah membacanya…..:-p

 Sumber: Pengalaman Pribadi

Copyright: Jhon Erickson Ginting.