Dilarang Motret…..


Hobi motret sudah lama aku tekuni, bisa dikatakan sejak jaman kuliah walaupun pakai minjam kamera dulu kalau mau motret. Sejak aku punya penghasilan sendiri, aku pun mulai lebih sering menekuni hobi motretku. Dulu, apa saja aku potret karena tak mengerti banyak soal aliran fotograsi. Setelahnya aku lebih memilih motret landscape yang perlu kesabaran yang panjang karena sangat bergantung kepada cahaya alam.

Dalam perjalananku ke Afrika, hobi motretku bisa dibilang terpuaskan karena landscape Afrika yang bisa dikatakan lebih ekstrim dari Indonesia. Tapi, aku bisa dibilang tak begitu beruntung dalam memotret kehidupan Afrika yang sebenarnya. Kondisi keamanan negara-negara Afrika yang cukup rawan membuatku tak leluasa mengeluarkan kameraku yang “segede gaban” di kota-kota di Afrika. Selain membuat orang curiga, aku bisa langsung jadi target perampokan seperti yang pernah dialami oleh beberapa teman traveler disana. Masalahnya, bukan itu saja yang harus kuhadapi dalam memotret kehidupan di Afrika secara langsung. Kepercayaan soal foto memang sedikit menghantui orang Afrika, terutama di Tanzania. Sebagian orang disana percaya umur mereka akan berkurang jika dipotret. Kepercayaan seperti ini memang tak aneh bagiku karena di Indonesia pun ada yang punya kepercayaan aneh soal foto seperti orang yang berada di tengah ketiga dipotret bertiga akan mati duluan.

Kepercayaan soal foto yang mengurangi umur di Tanzania memang lebih melekat kepada anak-anak Tanzania. Pernah ketika berada dalam kereta, aku mengarahkan kamera ke salah satu objek dari jendela. Kebetulan di dekat objek yang aku bidik, ada beberapa anak yang sedang melihat-lihat. Mereka berpikir kalau aku sedang mengambil foto mereka. Tanpa ragu, anak-anak ini  langsung mengambil batu dan siap-siap melempar. Untung kereta segera melaju, kalau tidak mungkin perang batu tidak akan terhindarkan.

Orang Maasai lain lagi ceritanya. Jangan pernah arahkan kamera kepada orang Maasai karena mereka akan minta 5 dollar untuk 1 foto per orang. Kalau tidak dikasih, siap-siap saja kena tombak. Orang Maasai memang sudah sangat komersil, tidak seperti yang ditunjukkan oleh film-film dokumenter National Geography atau Discovery dimana mereka masih kelihatan primitif dan mempertahankan cara hidup yang sangat tradisional.

Beda di Tanzania, beda lagi di Rwanda. Di negara ini aku sama sekali dilarang mengambil foto oleh beberapa orang ketika aku berusaha mengambil foto keseharian orang Rwanda. Aku tidak tahu alasan mereka melarangku, tetapi aku menurut saja daripada dikeroyok orang  satu kampung. Kelihatannya orang Rwanda masih merasa tidak nyaman dengan orang asing yang datang ke daerah mereka. Karena dilarang beberapa kali, aku hanya memakai kameraku di tempat-tempat tertentu saja.

Di Kenya sebenarnya aku tidak ada masalah dalam urusan mengambil foto orang. Tapi, memotret di Nairobi atau Mombasa di masa konflik dengan kamera besar seperti yang kubawa sama saja bunuh diri.  Siap-siap saja jadi korban perampokan seperti yang pernah dialami oleh seorang temanku disana. Seseorang menjambret dia di siang bolong saat lagi asyik memotret binatang di Nairobi National Park, padahal dia cuma motret pakai kamera poket. So, aku pikir lebih baik tidak terlalu “show off” dengan kamera besarku di kedua kota ini.

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi