“Hi Msungu…!!!” (Panggilan Dalam Bahasa Swahili Untuk Orang Asing)


Kata “Msungu” mungkin asing di telinga orang Indonesia, tapi jelas tak asing bagi orang-orang yang pernah tinggal di Afrika karena  kata ini kurang lebih artinya “orang asing”. Tak semua memang negara di Afrika memakai kata ini. Kebanyakan lebih sering digunakan di negara-negara Afrika Timur yang menggunakan bahasa Swahili. Sedikit soal bahasa Swahili, bahasa ini adalah perpaduan antara bahasa asli Afrika (terutama Afrika Timur) dengan bahasa Arab.

Rasa penasaran membuatku melakukan sedikit penyelidikan terhadap kata ini di  beberapa negara Afrika yang kukunjungi. Aku tak mendapatkan arti yang spesifik di Tanzania karena teman-teman orang lokal disana yang kutanya hanya mengatakan artinya sebagai “orang asing”.  Di Malawi, aku  kembali bertanya kepada beberapa orang lokal dan ada sedikit diversifikasi arti. Menurut kawan-kawan di Malawi, arti kata “Msungu” adalah orang yang kulitnya lebih terang daripada orang Afrika pada umumnya. Ketika aku tanya apakah aku seorang “Msungu”, tanpa keraguan mereka mengiyakan pertanyaanku. Alasannya simpel saja, kulitku lebih terang dari mereka. Bisa dibilang arti kata “Msungu” tak berbeda jauh dengan arti kata “Bule” dalam bahasa prokem Indonesia.

Seorang teman di Uganda yang bekerja sebagai pegawai di Departemen Pariwisata Uganda yang bernama David kemudian memberikan asal muasal kata “Msungu” dalam sebuah obrolan. Menurut David, arti sebenarnya dari kata Msungu adalah Traveler (Petualang, Pengelana). Karena dulunya orang-orang yang menjelajahi Afrika hanya orang kulit putih, arti Msungu perlahan-lahan berganti menjadi orang kulit putih alias orang bule.

Aku memang telah mendapatkan sejarah kata Msungu tapi tetap saja kata ini mempunyai arti tersendiri bagiku dan teman seperjalananku di Afrika,  Tim. Hal ini terjadi karena pengalaman-pengalaman yang kami dapat selama berada di Afrika. Coba simak sebuah percakapan yang terjadi di Mzuzu, Malawi antara Tim dan seorang pemuda lokal yang tiba-tiba menghadang kami di tengah jalan.

“Give me money, msungu !” kata pemuda itu tanpa basa-basi.

“Why do we have to give you money ?” tanya Tim dengan sewotnya.

“Because I want to buy something,” jawab si pemuda sok polos merasa tidak berdosa.

“Why do you ask me ? Do you think I am a bank ?!” teriak Tim merespons dengan kekesalan dan langsung ngeloyor pergi.

Ada lagi pengalaman aneh kami ketika sedang asyik nongkrong di teras penginapan kami di Mbeya, Tanzania. Seorang pedagang baju lewat di depan kami dan langsung menawarkan dagangannya dengan senyum sumringah. Dia seperti melihat sebuah harapan yang besar ketika bertemu kami….:-p.

“Hi biggy, please buy this,” kata si penjual.

“I don’t need that !” ucap Tim menjawab dengan sewot seperti biasa.

“You have to buy one,” kata si penjual tidak mau kalah seperti memberi perintah.

“Why ?!” tanya Tim makin sewot.

“Because I need money to buy something ,” jawab si penjual lagi-lagi dengan “sok polos” (bego kali ye..).

Kami berdua hanya bengong dengan jawaban si penjual yang sangat egois. Kami diam saja tidak menanggapi omongan si pedagang sampai dia pergi. Ketika si pedagang pergi, Tim pun langsung melampiaskan rasa kesalnya dengan berteriak, “Assholes!!!!!!!”. 

Lain lagi cerita ketika   Tim dan teman kami bernama Thomas ketika lagi nongkrong di sebuah bar di Lilongwe Malawi. Pengalaman ini membuat Tim benar-benar meragukan arti kata “Msungu” yang sebenarnya.

“Hi Msungu, buy me a drink ,” kata orang lokal yang tinggi besar yang berusaha sok akrab kepada Tim.

“Why do I have to buy you a drink ?” tanya Tim merespons si orang lokal dengan sewotmya seperti biasa.

“Because you have money,” ucap si orang lokal dengan cueknya.

“I will not buy any drink !!” balas Tim dengan ketus menjawab.

“Such a fucking asshole,” lanjut Tim lagi ketika orang itu berlalu.

Selama jalan bareng dengan Tim, dia memang lebih sering jadi sasaran orang lokal karena jelas-jelas dia lebih “msungu” daripada aku. Tampangnya yang mirip orang Viking dengan kulit pucat dan ramput pirang pasti sangat kontras dengan orang Afrika yang hitam legam. Tapi, bukan berarti aku bisa begitu saja luput dari orang-orang Afrika iseng ini. Di Arusha, Tanzania aku pernah diberhentikan oleh seorang kakek tua di sebuah jalan sepi. Waktu itu aku sedang menikmati sunset yang indah dengan Jenifer teman jalanku yang lain asal Amerika. Si kakek tua ini memanggil-manggil kami, “Msungu! Msungu!” Kami pun mendekat karena kami berpikir dia butuh bantuan. Ketika bersalaman, si kakek ini menarik tanganku supaya lebih dekat dengannya dan membisikkan kata-kata di telingaku, “200 shilling, msungu.”

Aku jadi sewot setengah mati dan memaki-maki dalam hati. Sial nih kakek tua. Aku pikir dia butuh bantuan sehingga aku bela-belain datang mendekat, nggak taunya minta duit.

Setelah pengalaman-pengalaman yang sedikit ajaib tersebut, aku jadi teringat percakapanku dan Tim dengan Vijay, keponakan pemilik Jambo Inn Hostel, tempat kami menginap di Dar Es Salaam. Menurutnya, bagi kebanyakan orang Afrika setiap “msungu” adalah orang kaya. Orang Afrika merasa bahwa tak mungkin orang miskin bisa sampai bepergian ke Afrika. Seperti ada suatu “mentalitas” dalam diri orang-orang Afrika bahwa setiap “msungu” wajib dimintai duitnya karena alasan di kalimat pertama, kaya!!! Mereka akan membuat seribu satu alasan kenapa seorang “msungu” harus memberi mereka uang dan alasan-alasan tersebut banyak yang aneh seperti yang tersirat dalam percakapan-percakapan kami diatas.  Aku pun kemudian membuat definisi sendiri dari kata “Msungu”. Bisa dibilang  arti kata “msungu” yang sebenarnya adalah “orang kaya harus dimintai duitnya”……….:-)

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribad