Indonesia Di Afrika


Aku membuat tulisan ini untuk menghormati kiprah orang-orang Indonesia di Afrika, sebuah benua yang mungkin berada dalam urutan paling akhir dalam daftar tempat yang dikunjungi oleh kebanyakan orang-orang Indonesia.  Dari ratusan negara yang ada di Afrika, mungkin hanya Mesir yang bisa dikatakan cukup populer di mata orang Indonesia. Baiklah,  aku akan  bercerita sedikit tentang orang Indonesia di Mesir.  Kalau dilihat banyaknya orang Indonesia di Mesir yang berkisar 5000-an orang, Mesir bukanlah tempat yang asing. Kebanyakan orang Indonesia yang tinggal di Mesir adalah pelajar walaupun tak sedikit yang akhirnya menetap dan membuka bisnis disana.  Sebagaian besar dari mereka tinggal di Nasr City yang berjarak sekitar 20 km dari Kairo. Menurut seorang teman asal Indonesia yang tinggal di Kairo, alasan orang Indonesia menetap di Nasr City karena tinggal di kota ini relatif murah dan tak begitu jauh dari Kairo.  Tak hanya orang-orang Indonesia yang tinggal di kota ini, orang-orang dari Thailand Selatan dan Malaysia juga memilih kota ini sebagai tempat tinggal. Hal-hal yang berbau Indonesia, Malaysia dan Thailand tidaklah begitu aneh lagi disini, terutama soal makanan. Restoran-restoran Indonesia lumayan mudah ditemukan di Nasr City seperti juga restoran makanan Thailand dan Malaysia. Satu hal lagi yang membuat Indonesia terkenal di Mesir adalah buah mangga. Mangga  menjadi salah satu buah favorit orang Mesir dan mereka menamakannya “Mangga Soekarno” mengikuti nama Presiden pertama Indonesia. Konon kabarnya, Presiden Soekarno-lah yang membawa bibit mangga pertama kali ke Mesir. Soal kebenarannya, walahualam….:-)

Bakmi Tebet di Nasr City, Kairo. Siapa yang mau coba?

Semakin masuk ke dalam jantung benua Afrika, hal berbau Indonesia memang semakin sedikit. Beruntung aku masih bisa menemukannya. Tanzania adalah negara kedua yang aku jelajahi di Afrikas setelah Mesir. Aku menyempatkan diri mampir ke KBRI Dar Es Salaam untuk lapor diri dan mengganti paspor yang sudah habis halamannya karena terlalu sering mondar-mandir ke berbagai belahan dunia. Disana aku bertemu dengan beberapa staf KBRI yang ramah dan malah diajak makan siang. Salah seorang yang paling sering memberi bantuan adalah Pak Ardianto, sekretaris Dubes Indonesia disana. Menurutunya,  hanya ada sekitar 50 orang Indonesia di Tanzania. Sebagian besar adalah pengusaha yang membuka bisnis di Tanzania. Kebetulan aku  bertemu dengan seorang pengusaha sabun asal Indonesia di KBRI  yang sedang mengurus surat-surat. Tidak hanya pengusaha Indonesia, aku juga bertemu dengan pengusaha Tanzania yang mengimpor pakaian-pakaian dari Indonesia. Menurut pengusaha Tanzania tersebut, pakaian buatan Indonesia adalah salah satu yang terbaik.

Sewaktu aku traveling di Tanzania tahun 2008, ada juga Pak Joko pensiunan pegawai KBRI yang membuka usaha restoran makanan Indonesia di Dar Es Salaam. Pak Joko memang membuka restoran tersebut hanya sementara sambil menunggu anaknya lulus sekolah. Nama restorannya “Batavia” yang khusus menjual makanan-makanan khas Indonesia. Aku dan Tim, temanku asal Amerika sempat makan disana. Aku mau memperkenalkan Tim dengan makanan Indonesia setelah bosan dengan makanan India yang mendominasi makanan di Afrika. Keluarga Pak Joko telah kembali ke Indonesia dan sekarang menetap di Jogjakarta.

Setelah “nongkrong” sebulan di Tanzania, aku melanjutkan perjalanan ke Malawi. Berani taruhan, tak banyak orang Indonesia yang tahu dimana Malawi berada di dalam peta.Di negara ini, aku dan temanku Tim berteman dengan seorang pengusaha wanita bernama Maria. Dia membuka satu-satunya “Travel Agent” yang menjual tiket pesawat di kota Lilongwe, ibukota Malawi saat itu. Kami sering ngobrol di kantornya sekadar tukar pikiran soal Malawi dan hal-hal lainnya.  Tak disangka aku menemukan hal “berbau” Indonesia di kantornya karena printer yang digunakannya “Made in Indonesia”. Terus terang, aku tak pernah tahu ada perusahaan Indonesia yang bikin printer.  Aku dengan bangganya menunjukkan kepada Tim label “Made in Indonesia” pada printer tersebut. Ternyata, ada pengusaha Indonesia yang mengekspor peralatan elektronik buatan Indonesia sampai ke Malawi.

Walaupun belum pernah ke Nigeria, aku juga tahu bahwa pabrik “Indomie” terbesar di luar Indonesia ada disana. Orang Nigeria sangat menggemari “Indomie” sampai-sampai Indofood yang menjadi produsen “Indomie”  membuat “Indomie” dengan citarasa Nigeria. Orang Nigeria bahkan mengklaim bahwa “Indomie” berasal dari negara mereka. Biasanya orang Indonesia sangat sensitif soal klaim-mengklaim, tapi kok nggak ada orang Indonesia yang pernah protes ya? Padahal kalau negara tetangga yang mengklaim hal-hal berbau Indonesia, protesnya pasti gila-gilaan. Mungkin jauh kali yeee…….:-p. Siapa pulak yang mau protes ke Nigeria. Berat di ongkos……!!!

Aku sempat berusaha mencari hal-hal berbau Indonesia di Kenya, tapi sayang aku kurang beruntung. Kondisi negara ini yang sedang dilanda konflik etnis saat itu membuatku sulit untuk menemukan hal-hal yang menarik di negara ini. Satu-satunya “hall yang berbau Indonesia” di negara ini adalah  air kemasan botol bermerek “Keringet”. Di Indonesia, aku berani taruhan tak akan ada yang mau minum air kemasan ini.

“Keringet”, produk air mineral ini berasal dari Kenya.

Mungkin salah satu produk Indonesia yang paling terkenal di Afrika selain “Indomie” adalah baterei. Pernah dengar baterei merek “Panashiba” ? Jujur saja, aku belum pernah mendengar dan melihat baterei merek ini di Indonesia. Tapi, aku malah menemukannya di Kampala, ibukota Uganda. Secara tak sengaja aku melihat sebuah papan  iklan baterei buatan Indonesia tersebut yang terpampang di salah satu sudut kota Kampala. Moto iklan baterei ini cukup menarik,  “Made Stronger to Last Longer”.

Aku tidak sengaja melihat iklan ini ketika aku sedang naik angkot muter-muter nggak jelas di Kampala, Uganda.

Bicara soal kiprah orang Indonesia di Afrika, aku tak mungkin tak bercerita soal orang-orang Indonesia yang bekerja dalam sektor perminyakan di Angola dan Nigeria. Tawaran gaji yang besar dan juga fasilitas yang “OK” dari perusahaan minyak yang mempekerjakan mereka membuat beberapa ahli perminyakan Indonesia berkpirah disini. Sebagai “orang minyak” yang pernah bekerja di beberapa negara, aku juga pernah mendapat tawaran di kedua negara Afrika tersebut. Tapi, aku lebih memilih kembali ke Indonesia. Setelah menjelajahi beberapa negara Afrika, aku merasa Indonesia masih jauh lebih baik. Walaupun demikian, aku tetap salut dengan orang-orang Indonesia yang ”nekad” bekerja dan membuka usaha di benua Afrika yang terkenal sangat rentan dengan perang, pembantaian dan kudeta. Bravo buat orang-orang Indonesia disana!!!

Copyrighht: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi

Copyright Foto: Jhon Erickson Ginting