Saling Tuduh Gaya Afrika


Ada hal yang menarik tentang orang Afrika. Sepertinya orang Afrika selalu saling tuduh bahwa orang-orang dari negara tetangga mereka adalah kriminal. Steven guide safariku di Serengeti, Ngoro-Ngoro dan Lake Masara bercerita bahwa sekitar 10 tahun yang lalu Tanzania kurang aman karena banyak perampok bersenjata. Dia mengatakan kalau para perampok bersenjata tersebut orang Somalia. Orang-orang Somalia ini awalnya datang sebagai pengungsi ke Tanzania tapi akhirnya malah bikin kekacauan dengan melakukan pembajakan-pembajakan bus sebelum akhirnya mereka diusir keluar oleh tentara Tanzania dengan kekuatan militer.

Lain lagi ceritanya ketika aku ngobrol dengan orang Kenya. Mereka menuduh orang Tanzania doyan menipu orang dan pemalas. Mereka membanggakan diri mereka sebagai orang-orang pekerja keras. Tapi ketika aku bertanya kenapa banyak terjadi perampokan di Nairobi, mereka sepakat dengan orang Tanzania yang sama-sama menuduh bahwa pelakunya kebanyakan orang Somalia. Kalau mengenai orang-orang Tanzania yang disebut pemalas dan doyan menipu, orang Malawi sepakat dengan orang Kenya. Bahkan, supir taxi kami dari Mbeya ke Karonga pernah bilang begini, “Tanzanians are very bad. They even eat their own family.” Tertuduh semakin banyak ketika aku ngobrol dengan Marry yang menjadi teman ngobrol kami di Lilongwe, Malawi. Dia adalah pemilik travel agent satu-satunya di Lilongwe sana. Aku katakan kepadanya kalau di pasar dan terminal Lilongwe sering terjadi perampokan dan beberapa orang yang aku temui juga sangat kasar. Marry tidak terima aku bilang begitu dan malah menuduh kalau orang-orang yang suka bikin onar itu orang-orang dari Burundi, Kongo dan Nigeria. Dia bilang orang Malawi orang baik dan sangat ramah walaupun kenyataannya tidak seperti itu. Aku hanya bisa garuk-garuk kepala mendengar komentar Marry . Sekedar informasi saja, Lonely Planet menulis bahwa Malawi adalah salah negara paling friendly di Afrika.

Orang Uganda tidak menuduh sama sekali tentang keburukan orang dari negara-negara tetangganya tapi mereka selalu mengatakan bahwa mereka adalah pekerja keras. Sepertinya memang benar, kota Kampala jauh lebih sibuk daripada Nairobi, Lilongwe, Dar Es Salaam, dan Kigali. Sedangkan di Rwanda, mereka tidak banyak berkomentar soal negara lain kecuali bercerita tentang cita-cita mereka ke depan. Sebuah atitude yang baik untuk memulai sebuah kemajuan. Aku tidak bisa cerita apa-apa soal Kongo secara orang disana juga lagi susah semua karena perang yang tidak ada henti-hentinya.
Begitulah, setiap orang tidak akan pernah mau negaranya dibilang jelek. ”Good or bad, this is my bloody country!!!!”

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi