Chaos….Bukan Hanya Milik Jakarta


Kalau menyebut Jakarta sebagai kota yang paling chaos dalam urusan berlalu lintas aku tidak akan setuju jika ada orang mengatakannya enam tahun yang lalu ketika aku pertama kali menginjakkan kakiku di Hanoi, Vietnam. Lalu lintas yang chaos karena begitu banyaknya motor di Hanoi membuat kota ini seperti kota motor. Saat itu motor di Jakarta belum sebanyak Hanoi. Menyeberang jalan di Hanoi pada saat itu adalah sebuah keadaan antara hidup dan mati. Seperti juga di Indonesia, motor di Hanoi selalu melaju kencang. Aku hampir tertabrak motor beberapa kali selama tiga hari berada di kota ini. Kemacetan lalu lintas apalagi disekitar Old Quarter yang menjadi pusat bisnis dan turisme sangat parah. Tak jarang para pengendara motor dan mobil melawan arus supaya lebih cepat sampai ke tujuan.

Salah satu kemacetan di sudut kota Hanoi
Old Quarter Hanoi…Tiada hari tanpa macet…:-p

Ketika aku kembali ke Indonesia dan hidup di Jakarta, kejadian hampir tertabrak motor kembali terjadi. Rupanya penyakit motor di Hanoi menghinggapi Jakarta. Jakarta yang tadinya didominasi oleh mobil kini diambil alih oleh motor. Jakarta menjadi sama dengan Hanoi. Perilaku pengendara motor di Jakarta dan Hanoi juga tidak jauh berbeda. Jakarta akhirnya menjadi sama chaos-nya dengan Hanoi. Julukan kota motor tidak hanya didominasi oleh Hanoi. Perbedaan antara Hanoi dan jakarta mungkin cuma dalam hal membunyikan klakson. Sudah tahu sendiri kalau orang di Jakarta doyan banget membunyikan klakson untuk hal-hal yang tidak penting sama sekali. Di Hanoi, perilaku seperti ini tidak separah Jakarta. Aku pernah pergi ke seratusan lebih kota di dunia dan aku rasa sampai saat ini orang Jakartalah yang paling doyan membunyikan klakson. Udah tahu macet masih aja mengklakson orang lain. Membuat suasana makin chaos saja. Perilaku yang aneh…!!! (curcol…..:-p)

Kairo adalah kota paling chaos berikutnya. Tetapi kota ini tidak dipenuhi oleh motor seperti Hanoi dan Jakarta. Kota ini dipenuhi oleh mobil-mobil kecil mungil super reot nan karatan yang kebanyakan berfungsi sebagai taxi. Daerah yang paling chaos di Kairo adalah kawasan Midan Tahrir dan Mesjid Al Azhar. Mulai jam 10 pagi, kawasan ini dipenuhi oleh mobil. Mobil dan pejalan kaki campur aduk jadi satu yang menyebabkan kemacetan parah.

Taxi Kairo
Traffic Chaos Kairo

Aku rasa pengendara di Jakarta masih lebih tertib dalam urusan mematuhi lampu lalu lintas dibanding pengendara di Kairo. Paling tidak kalau di Jakarta, pengendara biasanya berhenti kalau ada polisi yang menjaga. Di Kairo mau polisi ada apa atau tidak, tidak ada perbedaan. Para pengendara terus saja menerobos untuk menjadi yang paling pertama sampai di tujuan. Uniknya orang-orang di Kairo lebih tidak perduli dalam urusan mobil penyok dibanding orang Jakarta. Di Kairo banyak sekali mobil penyok karena bersenggolan dan penyok tersebut dibiarkan begitu saja. Mereka tidak merasa gengsi mengendarai mobil penyok. Untuk urusan gengsi memang orang Jakarta belum ada yang bisa mengalahkan…….:-p.

Mumbai adalah kota chaos berikutnya yang mirip dengan Kairo bahkan sampai model mobil-mobilnya juga hampir sama. Taxi di India seperti di Mesir menggunakan mobil-mobil mini super tua dan reot itu. Perbedaannya, di Kairo tidak ada bajaj seperti di Mumbai. Kalau urusan bajaj, Mumbai memang ada persamaan dengan Jakarta karena sama-sama menggunakannnya sebagai alat transportasi. Bajaj di Mumbai mirip bajaj di Jakarta, bisa bermanuver di jalan-jalan padat dan sempit serta demen ngelawan arus lalu lintas….:-p.

Hampir setiap kawasan di Mumbai dipenuhi oleh berbagai macam kendaraan. Bajaj, mobil, bus bersileweran saling mendahului menjadi yang paling cepat. Tak ada bedanya dengan Jakarta, Hanoi, dan Kairo.

Walaupun lalu lintas di Hanoi, Kairo, Mumbai, dan Jakarta bisa bikin sakit jiwa, namun aku tetap saja menikmati segala kegilaan kota-kota ini. Selalu saja ada hal yang menarik untuk dilihat. Chaos belum tentu tidak bisa dinikmati. Menurutku itu hanya tergantung dari cara melihat saja……..

Copyright:Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi
Foto-Foto: Koleksi Pribadi

Advertisements