Kenekadan Traveler Israel…


Aku sempat berjumpa dengan beberapa traveler Israel dalam perjalananku. Pertama kali bertemu dengan mereka ketika aku berada di Kamboja beberapa tahun yang lalu. Kebetulan mereka satu penginapan denganku dan teman Koreaku Park. Aku tidak punya impresi apa-apa ketika aku bertemu mereka tetapi Park tidak begitu menyukai mereka. Park yang sudah lebih banyak pengalaman travelling dariku pernah bertemu mereka beberapa kali. Menurutnya traveler Israel kasar dan suka bikin gara-gara tapi aku tidak mendengar soal kegilaan mereka dari Park. Aku sendiri menganggap traveler-traveler Israel yang kutemui biasa saja dan malah cenderung bersahabat.

Kenekadan traveler Israel pertama kali aku dengar dari Margo, traveler wanita Inggris yang menetap di kota Qiaotao yang menjadi pintu masuk ke Tiger Leaping Gorge seperti yang pernah kuceritakan dalam blog “Wanita-Wanita Petualang dan Pebisnis”. Aku sempat ngobrol-ngobrol dengan Margo di dalam minibus menuju Qiaotao selepas trekking di Tiger Leaping Gorge. Sebagai pemandu di banyak bertemu dengan traveler dari seluruh dunia yag datang ke Tiger Leaping Gorge. Menurutnya traveler Israel adalah traveler yang paling nekad. Kenekadan mereka salah satunya adalah mendaki Jade Dragon Snow Mountain setinggi 4500 m tanpa peralatan dan pakaian yang memadai. Puncak gunung tersebut selalu diselimuti salju dan aku yakin temperatur di puncak pasti dibawah 0° C. Dari semua traveler yang pernah mendaki gunung tersebut hanya dua orang pendaki yang pernah tewas disana. Keduanya adalah traveler Israel. Yup, karena mereka mendaki gunung tersebut dengan baju pantai. Mereka meninggal karena hipotermia.

Uniknya, dua hari setelah mendengar cerita Margo aku didatangi oleh beberapa traveler Israel saat aku dan temanku Mate dari Kanada lagi santai di penginapan kami di Shangrilla (Zhongdian). Mereka mengajak kami untuk menyusuri sebuah danau dengan trekking. Biar murah, mereka perlu dua orang lagi untuk share kendaraan. Aku sebenarnya ingin ikut dengan mereka tetapi karena trekking perlu 2 hari aku mengurungkan niatku karena kebetulan besok aku berangkat ke Tibet. Mate yang skhirnya ikut dengan rombongan traveler Israel ini. Tak tahu apa yang terjadi dengan Mate setelah itu karena aku tidak pernah bertemu dia lagi. Mudah-mudahan dia bisa survive.

Setelah bertahun-tahun tidak bertualang, aku kembali mendengar tentang kenekadan traveler Israel ketika aku berada di Zanzibar, Tanzania dalam perjalanan Afrikaku. Saat itu aku mengunjungi sebuah gua bekas tempat penyekapan budak. Gua ini terletak sekitar 1.5 km dari pantai. Dulunya, para pedagang budak menyekap para budak di gua ini. Di dalam gua ini ada celah sempit yang menghubungkannya dengan pantai. Celah ini dulunya dipakai oleh para budak untuk melarikan diri dari gua sekapan ini. Melewati celah ini bukanlah hal yang mudah. Banyak budak yang tewas karena kehabisan udara dan air pasang. Menurut penduduk disitu, beberapa celah sangat sempit dan perlu usah keras untuk melewatinya. Ketika aku tanya apa ada traveler yang pernah melewati celah ini, mereka jawab ada. Siapa lagi kalau bukan traveler Israel. Ketika mereka bertanya apa aku mau mencoba, aku langsung jawab tidak. Aku lebih memilih berada di suatu tempat penuh desingan peluru daripada harus berada di ruang sempit. Aku memang punya masalah dengan ruang sempit.

Nekad atau tidak, itu hanya soal cita rasa dalam traveling. Ada orang-orang yang memang adrenalin junkies yang membuat mereka selalu mencari bahaya. Dengan kencangnya adrenalin terpacu, mereka juga merasa semakin hidup. Tetapi kenapa traveler Israel banyak yang nekad, jawabannya mudah saja. Seperti Margo bilang, rata-rata traveler Israel yang keliling dunia adalah anak-anak muda yang baru saja keluar dari dinas militer mereka. Wajar saja mereka mereka masih nekad. Bekas tentara gitu loh…….

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi

Advertisements