Orang Kanada Yang Sinting


Perjalanan lintas batas dari Bangkok ke Siem Reap adalah salah satu perjalanan lintas batas yang paling banyak penipunya, apalagi lima tahun yang lalu. Setelah 8 jam perjalanan dengan bus rongsokan yang AC-nya ngadat ke Aranyapathet, menunggu 3 jam di perbatasan, dan naik bus karatan ke Siem Reap selama 7 jam membuat pikiran jadi sedikit nggak beres. Saat itu aku bersama Park dari Korea dan Brian dari Belfast. Di perjalanan, penumpang bus yang lain Alan, seorang pria setengah baya dari Kanada mau ikut dengan kami. Dia memang travel sendirian. Kami baru tiba di Siem Reap jam 1:00 pagi. Brian memisahkan diri dari kami dan memilih menginap di hotel dimana bus berhenti. Bagi Park yang orang Korea harga hotel tersebut sangat mahal sehingga kami berdua mencari hotel lain. Kami nggak menyangka Alan mau ikut kami. Tadinya kami pikir dia akan ikut bule-bule lain.

Kami mulai berjalan ke hostel yang Park mau tuju. Park sudah mendapat info dari temannya. Di tengah kesunyian malam, tiba-tiba Alan mulai berkicau. Dia memaki-maki orang Cambodia.

“Fuck Cambodian..!!! They are all cheaters!!!” teriak Alan tiba-tiba di tengah malam buta.

Aku dan Park hanya diam saja tetapi Alan tidak berhenti dan terus berteriak-teriak memaki-maki sepanjang jalan. Tentu saja Aku dan Park mulai cemas karena kalau ada orang kamboja yang mendengar dia memaki-maki kami bertiga bisa mampus. Sebagaian orang Kamboja masih menyimpan AK-47 di rumah mereka.

“Dude, shut your mouth! You can make us all get killed!” teriak Park tidak tahan dengan makian Alan.

Alan diam setelah diperingatkan Park tapi tidak untuk waktu yang lama. Ketika kami tiba di guesthouse The Hump yang sederhana Alan komplain lagi padahal dia dapat kamar sendiri sedangkan aku dan Park share kamar.

“The room is shit, man! No AC. It is hot and dusty!” protes Alan.

Kami kembali diam dan membiarkan dia ngomel. Karena mungkin nggak tahu kemana harus pergi dan juga tengah malam, dia akhirnya tinggal juga di The Hump. Besoknya aku dan Park naik motor keliling kompleks Angkor Wat. Saat itu turis yang pergi ke Siem Reap tidak sebanyak sekarang sehingga cukup leluasa mengunjungi candi-candi di Angkor. The Four Faces juga masih penuh dengan semak-semak dan banyak anak-anak yang menawarkan bantuan menunjukkan jalan. Kami bertemu Alan disini. Bertiga kami menuju The Four Faces setelah anak-anak disekitar lokasi tersebut mengajak kami. Wajar saja anak-anak tersebut minta imbalan atas “jerih payah” mereka. Alan tidak terima dengan tindakan anak-anak tersebut. Dia ngomel-ngomel dan memaki-maki lagi.

“Fuck those kids!” teriaknya. “Why should I give them money? All people here are shit!!” They are all cheaters!!!”

Beruntung aku dan Park saat itu tidak satu tuk-tuk dengan Alan sehingga kami bisa menghindar langsung dari dia setelah pertemuan di Four Faces. Kami memang berusaha menghindar dari dia. Kami tidak tahu ada masalah apa antara Alan dengan orang Kamboja. Kami hanya menduga dia sedang sakit jiwa.

“He got mental illness, dude,” kata Park waktu kami nongkrong makan siang. I don’t want to get killed because of him.”

Benar juga yang dikatakan Park. Pertemuan di Four Face adalah pertemuan terakhir kami dengan Alan. Kami tidak pernah bertemu dengan dia lagi. Entah kemana dia menghilang. Mudah-mudahan dia belum dibunuh oleh orang Kamboja. Semoga saja…….

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi.