Teler….Cara Lain Menikmati Traveling.


Suatu waktu beberapa tahun yang silam aku bertemu dengan dua orang traveler Jepang dalam perjalanan kereta dari Singapura ke Malaysia. Kami berada di dalam gerbong sleeper. Kedua orang ini memang termasuk traveler gila yang hanya bawa backpack kecil untuk perjalanan keliling Asia mereka. Satu hal yang membuatku heran ketika ngobrol dengan mereka adalah tertawa mereka yang mudah keluar padahal yang kami bicarakan sama sekali tidak lucu. Setelah ngobrol sana-sini aku kemudian tahu kalau mereka masih teler setelah pesta ganja sehari sebelumnya di Phi-Phi Island, Thailand. Ketika kutanya berapa banyak yang mereka hisap, mereka menjawab sambil memberikan isyarat tangan tanda mereka menghisap ganja banyak sekali. Pantesan mereka masih teler……

Aku bukan penikmat ganja walaupun “barang” ini adalah salah satu menu para traveler terutama para penganut hippie dan Rasta. Selain ganja, ada ”mushroom” (jamur) yang menjadi pilihan lain untuk teler kalau ganja nggak ada. Karena selalu dicari, sudah menjadi rahasia umum kalau kedua barang ini, ganja dan mushroom diperjualbelikan di kawasan-kawasan yang menjadi tempat berkumpulnya para traveler. Aku mengatakan seperti itu berdasarkan pengalamanku yang secara sengaja maupun tidak sengaja mendapatkan informasi soal jual beli ganja di kalangan traveler. Alasanku mencari tahu karena memang sebuah kegemaran bagiku untuk mengetahui dinamika sebuah kota. Kalau pergi ke sebuah kota atau negara cuma tahu museum, tempat wisata, dan kuliner kayaknya sudah membosankan apalagi aku pernah traveling ke puluhan negara. Semua kota sama saja. Isinya yang berbeda!!

Di kota tua Dali China, seorang wanita Bai memanggilku selagi aku asyik melihat-lihat di sebuah toko souvenir. Dia mengajakku ke rumahnya. Aku ngikut saja karena ingin tahu juga apa yang ditawarkannya. Kami naik ke lantai 2 rumahnya. Disana dia menawarku cimeng. Alasannya kenapa dia menawariku ganja karena gaya berpakaianku yang seperti hippie. Aku memang saat itu memakai baju buatan tangan orang Hmong yang kubeli seharga 50.000 dong di sebuah kampung Hmong di Sapa sebelum menyeberang ke China. Aku menolak tawaran si wanita dengan halus (soalnya ngarepnya yang laen…..:-p).

Di lain waktu ketika aku berada di Dahab Mesir, Kwan teman jalanku orang Korea merasa harus mencari ganja karena sudah 2 minggu dia tidak menikmatinya. Dia bilang terakhir dia teler ketika berada di Amman, Jordania. Aku tidak tahu dimana dia mendapat cimeng di Jordania. Karena rasa penasaran, akupun ikut dengan Kwan mencari informasi dimana ganja diperjualbelikan di Dahab. Berita tentang pencarian kami akhirnya sampai kepada seorang pengedar merangkap pelayan sebuah restoran disana. Dia menawarkan kami ”ganja” berbentuk bubuk dalam sebuah botol kecil. Kata si pengedar ”barang” yang dijual berasal dari Maroko. Jangan heran ada ganja diperjualbelikan di negara-negara Timur Tengah. Orang Arab kuno adalah seniman dalam urusan menikmati ganja dengan cara yang sedikit berbeda. Mereka jago membuat produk turunan ganja yang lebih dikenal dengan nama Hashish.

Masuk ke dalam jantung Afrika, ganja semakin mudah ditemukan. Kalau di Mesir pengedar masih takut-takut untuk menjual ganja kepada turis, di Tanzania ganja malah diperjualbelikan secara ”bebas” oleh para ”penjual souvenir”. Kadang-kadang kalau lagi sial, polisi bisa kong-kalikong dengan para Rasta ini untuk menjebak turis yang mau membeli ganja. Di Zanzibar, anak-anak muda setiap sore mengadakan ”teler bareng” di tepi pantai Stonetwon. Kadang-kadang ada traveler yang “sok akrab” yang ikutan acara ini. Sialnya, tak lama kemudian dia akan menjadi korban dipalak dan pencurian. Itu salah satu pengakuan traveler bule yang mengingatkanku ketika aku akrab dengan seorang anak muda penikmat ganja di Zanzibar sana.

Malawi mungkin negara yang paling ”bebas” setelah Belanda dalam urusan menikmati ganja. Di Nkhata Bay sana, sebuah desa nelayan kecil yang menjadi tujuan para traveler ada sebuah tempat yang menjual produk ganja beserta turunannya. Bukan hanya dalam bentuk rokok tetapi juga kue-kue, permen, dan lauk pauk. Kita bisa makan siang dan makan malam denga lauk pauk yang dicampuri ganja. Ganja merupakan sebuah industri disini. Bahkan, setiap guesthouse disini menawarkan tur ganja atau lebih dikenal dengan ”Cannabis Tour”. Desa ini dulunya memang ditemukan oleh para traveler hippie penikmat ganja sehingga membuat tempat ini menjadi ”surga” buat mereka.

Yup, mau teler atau tidak itu terserah dan resiko masing-masing. Aku hanya mau membuka mata para pembaca bahwa traveling bukan hanya melihat pemandangan, situs kuno, kuliner dan hal-hal klise lainnya. Ada juga orang yang mau teler, sex, pesta-pesta gila dan lain-lainnya. Kalau mau travel yang sedikit menantang, coba lihat sisi yang lain juga tetapi sedikit hati-hati karena ada resikonya.

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi