T.I.A…..This Is Africa!!


Bagi yang pernah menonton film “Blood Diamond” kalimat ” T.I.A…..This is Africa!!” bukanlah hal yang asing. Leonardo De Caprio, pemeran utama dalam film tersebut mengucapkannya dalam sebuah adegan di sebuah kafe di tepi pantai. Kalau boleh sedikit komentar, maksud dari kalimat  “T.I.A….This is Africa!!”  sepertinya ingin menunjukkan bahwa Afrika berbeda dengan benua lainnya.

Sejak menonton film “Blood Diamond”, aku tak pernah lagi mendengar kalimat tersebut sampai  aku traveling ke beberapa negara Afrika di awal tahun 2008.  Bukan dari orang lokal, tapi dari sesama rekan traveler. Namun, kata-kata “T.I.A” diucapkan dengan konotasi  dan juga tambahan kalimat yang berbeda.  Kebanyakan diucapkan oleh orang asing (baca: traveler) yang merasa sedikit putus asa dengan “perbedaan” yang ada  di Afrika tersebut. “T.I.A…… what do you expect?”  adalah ucapan yang paling sering kudengar dari teman-temanku sesama traveler. Pak Ardianto sekretaris Dubes RI punya cara sendiri untuk mengucapkannya, “T.I.A… gitu loh.”

Setelah cukup lama berada di Afrika, aku mengerti kenapa kalimat tersebut sering diucapkan oleh para traveler.  Kalimat ini menghibur kami (para traveler) ketika segala sesuatu yang kami rencanakan atau dapatkan tidak sesuai dengan harapan dan hal tersebut sangat sering terjadi, mulai dari masalah keterlambatan waktu, fasilitas yang sangat dibawah standar, dan sebagainya.

“African Time, when everything goes slower…… T.I.A.,”celutuk  seorang temanku  bernama Tim saat kami harus terlambat 17 jam dalam perjalanan kereta api dari Dar Es Salaam ke Mbeya.

Dude, look at those knife……TIA,” celetuk Tim lagi ketika dia heran melihat orang di dalam kereta api dengan mudahnya membeli pisau dari pedagang asongan,

Lain lagi celetukan dokter asal Norwegia yang bersamaku naik kapal ferry di “dek kelas VIP” dari Dar Es Salaam ke Zanzibar.  ”Wellcome to Africa….! T.I.A,” ucapnya ketika melihat tatapanku yang seperti orang kebingungan karena baru kali pertama kali aku berada di kelas VIP yang tanpa AC, tanpa tempat duduk, dan juga kambing bisa masuk……:-p.

This Is Africa…Source: ugandaskateboardunion.wordpress.com

Jika para pelaku bisnis di bagian dunia lain menggunakan kalimat “Pembeli adalah raja” untuk menunjukkan betapa pentingnya pelanggan dalam sebuah proses jual beli, orang di Afrika punya carannya sendiri. Disini, pembeli bukanlah raja. Paling tidak, hal inilah yang ditunjukkan seorang staf penjual tiket di sebuah perusahaan bus di Lilongwe, Malawi. Dia sama sekali tidak menunjukkan sebagai customer service yang baik. Jawabannya sangat ketus dan tidak informatif ketika aku dan temanku Tim bertanya tentang jadwal keberangkatan bus dan ongkos.

“T.I.A….. what do you expect?” ucap temanku Tim untuk menenangkan hatinya yang kesal dengan jawaban si staf penjual tiket.

Hal yang paling sering membuatku dan temanku mengucapkan kata-kata “T.I.A” adalah kebiasaan orang Afrika yang doyan minta-minta tanpa alasan yang tidak masuk akal, terutama di Tanzania dan Malawi. Padahal, orang yang meminta-minta itu bukanlah pengemis seperti kebanyakan yang terjadi di Indonesia. Aku dan temanku Tim sudah terlalu biasa dimintia uang oleh orang yang lewat di jalan karena alasan mau sesuatu  atau ada seseorang di bar berlagak sok akrab dan dengan seenaknya minta dibayarin minumannya.

“T.I.A… dude,” ucap kami berdua setiap kali kami dimintai sesuatu.

Entah dari mana asal kata T.I.A.. Aku juga tidak tahu siapa orang yang pertama kali mempopulerkannya. Yang jelas, banyak sekali kejadian atau pengalaman di Afrika yang membuat kami harus mengucapkannya. Aku rasa setiap pendatang ke Afrika harus bersiap untuk sebuah perubahan yang ekstrim selama berada disana karena orang Afrika juga tidak akan berubah dalam waktu dekat. “T.I.A….. what do you expect?”

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi

Copyright Photo: http://ugandaskateboardunion.wordpress.com