Pengalaman Di Pos Militer (Military Checkpoint) Berbagai Negara


Cita rasa travelingku yang sedikit aneh membuatku sering keluar masuk negara-negara dunia ketiga dan negara-negara konflik.  Pemeriksaan di pos militer (military checkpoint) menjadi makanan sehari-hari ketika aku berkunjung ke negara-negara tersebut. Pos Militer ini tak hanya dibuat untuk tujuan perang, tetapi juga untuk urusan penyeludupan dan pemeriksaan teroris atau kriminal. Berbagai macam pengalaman yang terjadi ketika aku harus berhadapan dengan tentara dan polisi dari berbagai macam negara dan aku rasa tak ada salahnya aku sedikit berbagi tentang pengalamanku soal ini.

Sebenarnya Israel adalah negara pertama dimana aku berurusan dengan pos militer, tapi aku ikut pilgrim tour saat itu sehingga tak ada pengalaman yang mendebarkan seperti perjalanan-perjalananku setelahnya yang jauh lebih ekstrim. Saat itu bus kami baru menyeberang dari Yordania melalui “Friendship Bridge”. Tentara Israel berjaga-jaga di atas perbukitan lengkap dengan sarang senapan mesin siap tembak. Mereka hanya mengawasi setiap kendaraan yang lewat dan tak melakukan pemeriksaan penumpang. Kota-kota di Israel terutama di kawasan yang rawan konflik seperti Jerusalem dijaga ketat oleh personel militer Israel. Pemerintah Israel memang tidak mendirikan pos militer, tetapi setiap sudut kota dikawal oleh beberapa regu tentara Israel yang melakukan patrol jalan kaki. Keadaan yang aku ceritakan ini terjadi sekitar tahun 1999. Sekarang mungkin keadaannya sudah berubah.

Cina adalah negara pertama dimana aku berurusan dengan pos militer ketika travel sebagai “Independent Traveller”. Aku tak menyadari Cina punya pos militer di beberapa wilayahnya karena negara komunis ini termasuk negara yang jauh dari hingar-bingar konflik bersenjata. Rupanya, militer Cina menempatkan beberapa pos militer di provinsi yang dianggap rawan seperti Yunnan, Xinjiang, dan Tibet. Di Yunnan sekitar beberapa jam dari Kunming, bus kami berhenti di sebuah pos militer dan seorang tentara Cina meminta pasporku. Kunming dulunya terkenal dengan pemberontakan orang muslim China. Di Tibet yang memang terus dilanda pergolakan, ada 2 pos penjagaan militer. Satu pos militer berada pinggiran kota Lhasa dan yang satunya berada tak jauh dari Zhangmu, kota perbatasan antara Nepal dan Tibet. Selama ada permit atau tidak ketahuan tak punya permit, tak akan ada masalah dengan tentara Cina. Beberapa “hardcore traveler” memakai bermacam cara keluar masuk Tibet tanpa permit. Biasanya mereka bersembunyi di truk-truk yang membawa barang-barang ke Tibet. Jika tertangkap, mereka akan dikirim balik ke luar

Nepal semasa perang sipil adalah negara yang cukup unik karena tak hanya tentara pemerintah yang punya pos militer, tetapi juga tentara pemberontak komunis.  Dari perbatasan Tibet-Nepal ke Kathmandu ada 8 military checkpoint dan dua diantaranya adalah milik tentara komunis. Beruntung aku masuk negara ini di akhir masa perang sipil dimana komunis hampir pasti menang di meja perundingan. Aku dan tiga orang temanku tak perlu membayar 25 dollar kepada tentara pemberontak sebagai “sumbangan sukarela”. Padahal setahun sebelumnya, seorang temanku asal Irlandia masih “dipalak” oleh tentara komunis.

Aku tidak perlu cerita soal Irak karena pos  militer menjadi hal yang sangat biasa. Bedanya, pos militer jauh lebih kompleks terutama di beberapa instalasi penting seperti bandara dan kantor-kantor pemerintah. Barikadenya saja bisa sampai seratusan meter. Fungsinya untuk memperlambat kendaraan yang melewati pos penjagaan. Pertanyaan dari petugas militer adalah hal yang biasa bagi setiap kendaraan yang melewati military checkpoint di Irak. Beruntung aku berada di negara ini karena urusan kerja sehingga semua pertanyaan dijawab oleh pengawalku.

Mesir adalah salah satu negara yang mempunyai paling banyak military checkpoint terutama di kawasan Sinai, Middle dan Lower Egypt. Hampir setiap sudut negara ini dijaga oleh polisi dan tentara. Sialnya, tampangku yang sekilas mirip dengan orang Timur Tengah selalu menjadi sasaran interogasi setiap kali melewati pos militer. Ada saja alasan mereka meminta pasporku untuk diperiksa, padahal traveller-traveler lain yang bertampang western dan oriental tidak disentuh sama sekali. Kadang-kadang polisi ini juga menginterogasiku. Tak cukup hanya polisi dan personel militer, Pemerintah Mesir juga membuat checkpoint yang dijaga oleh milisi yang berpakaian hitam dengan sorban hitam dan dilengkapi dengan senjata shotgun. Checkpoint yang dijaga milisi ini berada disepanjang jalur kereta api dan dan juga jalan yang menghubungkan Luxor dan Aswan. Kawasan ini ini yang berada di kawasan Middle Eqypt ini memang dikenal sebagai sarang bandit dan juga sarang kaum fundamentalis.

Malawi, sebuah negara miskin di bagian Selatan Afrika punya banyak pos militer dan polisi. Biasanya polisi, tentara, dan pegawai sipil bersama-sama menjaga pos pemeriksaan. Tujuan dari checkpoint ini bukan untuk urussan perang atau menangkap teroris, tetapi untuk memberantas penyeludupan. Sepanjang perjalananku dari perbatasan Tanzania-Malawi ke kota Mzuzu di bagian tengah Malawi, bus kami harus mengalami beberapa kali pemeriksaan. Parahnya, di setiap pemeriksaan penumpang dan semua barang bawaan harus keluar dari bus. Polisi dan tentara kemudian membongkar setiap barang bawaan yang dibawa penumpang. Setelah selesai diperiksa, setiap penumpang harus mengangkat barang bawaannya sendiri melewati portal dimana bus telah menunggu. Begitu yang terjadi setiap saat kami bertemu checkpoint. Di salah satu checkpoint, aku dan temanku malah sempat diiterogasi oleh tentara yang melakukan pemeriksaan. Memang sedikit menyebalkan, tapi beginilah resikonya jika traveling di “negara hancur”.

Pengalamanku di Kenya dengan military checkpoint (pos pemeriksaan militer) adalah yang paling menyebalkan sekaligus mendebarkan. Kebetulan aku masuk ke negara ini saat masih dilanda kerusuhan etnis di awal tahun 2008. Perjalanan dengan bus malam dari Mombasa ke Nairobi menjadi menyebelkan dan juga mencekam karena hampir setiap setengah jam ada pemeriksaan oleh tentara dan polisi. Memang tidak ada interogasi, tetapi tentara yang masuk ke dalam bus dengan senter yang menyala terang sambil menenteng AK-47  bukanlah sebuah pemandangan yang menarik untuk dilihat. Di salah satu pos pemeriksaan, jantungku sempat berdegup kencang ketika ujung senapan AK-47  dari tentara yang memeriksa bus hanya beberapa centimeter dari wajahku. Aku membayangkan jika si tentara tiba-tiba mencet pelatuk secara tak sengaja. Bah, aku tak akan pernah menulis cerita ini. Travel di “negara hancur” memang ada harganya………

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi