Travel Tanpa Buku Panduan


Aku tiba-tiba saja berpikir untuk menulis artikel tentang ini. Kalau di tulisan-tulisan lain mungkin buku panduan sebagai sesuatu yang wajib dibawa pada saat traveling di negara lain tetapi aku mau memberikan tips yang sedikit berbeda. Terus terang, pertama kali travel tanpa buku panduan sebenarnya terjadi secara tidak sengaja ketika buku panduanku diambil oleh petugas imigrasi China di perbatasan China-Vietnam beberapa tahun yang lalu hanya gara-gara buku panduan yang kubawa (Rough Guide) tidak memasukkan Taiwan sebagai bagian dari China. Terpaksalah aku travel sepanjang selatan China dari Heikou di perbatasan China-Vietnam sampai Tibet tanpa memakai panduan. Awalnya memang ada sedikit ketakutan dan keraguan aku bakal bisa meneruskan perjalananan tetapi aku malah menikmati travel tanpa buku panduan karena lebih adventurous. Selama perjalananku di Afrika buku panduanku hampir tak pernah kugunakan. Di india aku juga tidak memakai buku panduan. Perjalananku yang terakhir dengan istriku di Indochina juga tidak memakai buku panduan.

Tanpa buku panduan, map menjadi pilihanku yang paling utama untuk menyusuri sebuah kota atau negara. Tak perlu susah untuk mendapatkan map karena tourist information di banyak negara selalu menyediakan map. Map yang disediakan gratis oleh tourist information biasanya menampilkan banyak rujukan soal tempat wisata dan penginapan. Guesthouse-guesthouse juga menyediakan map gratis. Kalau bener-bener pingin ngirit, google map juga bisa.

Travel tanpa buku panduan juga akan membuat kita mempunyai banyak teman selama perjalanan. Terus terang aku memang lebih mempercayai informasi yang kudapat dari traveller secara langsung. Mau tidak mau kita harus bertanya. Untuk rekomendasi hotel, transportasi, tour, tempat yang dituju dan sebagainya. Kalau aku belum pernah pergi ke suatu negara dan tak ada buku panduan, hal yang paling sering kulakukan adalah pergi ke daerah traveller spots dan menginap di salah satu guesthouse disitu. Disini aku akan berusaha mendapatkan teman untuk mencari info. Bisa saja pada saat makan atau lagi nongkrong sambil minum kopi aku mendapatkan teman baru dan mencari informasi darinya. Bergaul sedikit selama travelling tidaklah menyakitkan dan menurutku malah menyenangkan. Aku selalu mendapatkan teman baru kemanapun aku pergi.

Internet adalah gudang segala info termasuk informasi penginapan, informasi travel, informasi keamanan, transport, dan lain sebagainya. Hampir setiap guesthouse punya wireless dan juga fasilitas internet. Aku selalu mengumpulkan informasi lewat internet sebelum berangkat ke tujuan berikutnya. Banyak sekali website-website yang bisa dipakai sebagai acuan seperti http://www.travelfish.org/, http://www.tripadvisor.com/, http://wikitravel.org/, dan lain-lain. Untuk rekomendasi dan reservasi penginapan-penginapan murah ada banyak website yang bisa jadi acuan. Dulu aku pakai http://www.hostelworld.com/ atau http://www.hostelbookers.com/ untuk rekomendasi jika aku tidak mendapatkan teman traveller yang memberikanku rekomendasi. Sejak aku menikah aku memang lebih sering mereserve kamar hotel terlebih dahulu untuk memastikan hotel yang kami tempati bersih (maklum….permintaan istri..:-p). Aku sekarang menggunakan http://www.agoda.com/ yang memang lebih praktis dan terpercaya tetapi semua itu terserah pembaca mau pakai yang mana.

Buku panduan hanya sekedar alat, jadi tidak perlu terlalu mengagung-agungkan sebuah buku panduan dari terbitan tertentu. Malah kelihatannya kalau bawa buku panduan kemana-mana, kita seperti green traveller (traveller yang baru lihat dunia..:-p). Orang-orang seperti ini biasanya pasti menjadi incaran para penipu (touts). Travel tanpa buku panduan membuat kita memilih tempat-tempat yang mau kita tuju tanpa batas. Tak perlu bingung dan takut juga kalau nyasar. Seperti banyak traveller-traveler yang telah melanglang buana bilang yang juga menjadi motto National Geography Adventure dan aku sendiri, “ Let’s get lost……..”

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi