Pengemis di Berbagai Belahan Dunia


Jarang mungkin orang bercerita tentang pengalaman mereka berhadapan dengan pengemis di berbagai negara tapi menurutku cukup unik juga kalau diceritakan. Pengemis di setiap negara punya cara yang berbeda-beda untuk mendapatkan uang. Dari pengalamanku, pengemis di Indonesia dan Laos adalah pengemis yang paling tidak agresif. Aku tidak tahu dengan pengalaman orang lain. Kalau tidak dikasih dan bilang tidak, mereka akan segera pergi. Mungkin dalam hal kreativitas, pengemis Indonesia lebih hebat karena mereka lebih mendramatisir keadaan. Kudis buatan sampai anak kecil yang disewa menjadi alat mereka untuk dibelaskasihani. Pengemis di Vietnam dan Kamboja lebih sedikit memaksa tetapi masih bisa dibilang tidak agresif.

Walaupun jarang sekali ditemukan, aku pernah menjumpai pengemis di Malaysia dan Singapura. Seorang temanku orang Singapura sampai minta bukti. Aku menunjukkan gambar yang kuambil di sebuah pusat keramaian di Singapura yang membuat temannku ini hanya bisa berkata, “ Dimana Pak John ambil foto ini?” Dia belum tahu kalau aku selalu keluyuran di tempat yang “salah”. Mungkin hanya di Timur Tengah, pengalamanku berurusan dengan pengemis bisa dibilang tidak ada.

Bicara soal pengemis yang agresif, orang pasti berpikir Afrika adalah tempatnya karena kebanyakan negara Afrika adalah negara miskin. Memang ada benarnya. Aku punya pengalaman yang sedikit ekstrim disini. Di Dar Es Salaam Tanzania, aku bersama temanku orang Amerika berjalan di kegelapan malam setelah pulang dari makan malam. Tak disangka kami diikuti oleh beberapa orang pengemis ibu-ibu setengah baya lengkap dengan anak-anak mereka di sebuah gang yang gelap. Awalnya mereka cuma minta tetapi kami tidak pernah berpikir mereka bakal sampai menangis menjerit-jerit. Lah, gimana mau ngasih duit ke orang sebanyak itu. Kami berduapun langsung ngibrit. Kami mengira tidak akan dikejar, ternyata kami salah. Mereka mengejar kami, kami lari makin kencang daripada bonyok di keroyok pengemis yang belasan orang jumlahnya itu. Mereka baru berhenti ketika kami tiba di keramaian. Yup, sedikit olahraga jantung setelah makan malam memang dilarang dokter tapi tidak ada salahnya dilakukan untuk menyelamatkan diri….:-p.

Pengalamanku di Kenya dengan pengemis sedikit lebih ekstrim dibanding di Tanzania. Aku memang berada di Kenya pada saat yang salah ketika negara masaih dilanda kerusuhan etnis (kebiasaan jelekku memang suka masuk daerah perang…). Hanya ada 2 orang turis yang kulihat selain aku ketika aku tiba di Mombasa. Tak ayal lagi aku langsung jadi rebutan para pengemis terutama anak-anak jalanan. Mereka berlari-lari meminta uang ketika melihatku di jalanan Mombasa padahal aku sudah berpakaian seperti orang lokal. Ketika hanya satu dua yang meminta aku memberinya. Ketika belasan yang meminta akupun langsung tancap gas. Seperti di Dar Es Salaam, mereka juga mengejar dan bahkan langsung menyerang ketika aku menolak memberi uang. Akupun langsung pasang kuda-kuda dan balik menyerang. Mereka berhamburan lari pontang-panting.

Selain di Mombasa, di Nairobi pun aku juga mengalami pengalaman yang sedikit “meyeramkan” dengan pengemis. Saat itu baru pukul 7:30 pagi, jam-jam dimana kehidupan di Nairobi mulai menggeliat. Aku pergi ke kantor perusahaan bus untuk membeli tiket ke Uganda. Sialnya, lokasi terminal bus ini adalah salah satu daerah paling rawan di Nairobi, Westerland. Mendekati daerah ini, aku diikuti seorang gelandangan dengan baju compang-camping. Dia terus mengikuti dengan tatapan mata tajam. Sebelum masuk ke dalam kawasan Westerland, ada sebuah jalan kecil yang sepi. Karena sepi, aku mengurungkan niat berjalan sendiri karena mungkin saja aku diserang si gelandangan bersama teman-temannya seperti yang terjadi di Mombasa. Aku berhenti di sebuah areal pertokoan yang ramai sambil berpikir cara yang terbaik untuk pergi ke kantor perusahaan bus tersebut. Si gelandangan juga berhenti sekitar 5 meter dariku dan menatapku tajam. Beruntung orang-orang disekitarku melihat situasi yang ganjil antara aku dan si gelandangan. Mereka akhirnya yang mengusir si gelandangan. Si gelandangan awalnya tidak mau pergi sampai beberapa orang mengepalkan tangan dan mau menonjokknya baru dia mau pergi. Situasi yang memang sedikit aneh.

Dari semua pengalaman bertemu dengan pengemis, mungkin pengemis yang kutemui di Kunming China adalah pengemis yang metodanya yang paling bikin orang susah tetapi efektif. Pengemis ini seorang anak kecil yang muncul tiba-tiba entah dari mana ketika aku berjalan di sebuah kompleks pertokoan. Anak kecil ini langsung menyergapku dan mendekapku dengan erat sambil nangis teriak-teriak. Aku benar-benar bingung dibuatnya. Tak ayal lagi aku jadi perhatian orang banyak dan sialnya tidak ada yang mau menolongku. Mau tak mau aku harus memberi uang kepada si anak kecil pengemis nekad tersebut. Uang 5 RMB cukup untuk membuatnya diam dan membuat duniaku normal kembali.

Walaupun pengemis di Kunming itu yang paling heboh tapi menurutku pengemis di India adalah pengemis yang paling menyebalkan. Mereka biasanya terdiri anak-anak kecil dan ibu-ibu. Mereka doyan mencolek. Kalau mencoleknya cuma sekali nggak masalah tapi ini bisa sampai berkali-kali. Sudah bilang tidak berkali-kali tetapi mereka akan datang kembali dan mencolek lagi. Di India, orang biasanya langsung pergi saja dan menghindar dari mereka. Ada juga orang yang berbaik hati membagi mereka makanan tetapi biasanya orang tersebut langsung dikerebuti belasan pengemis dalam waktu singkat sehingga diapun terpaksa menghindarkan diri.

Memang berurusan dengan pengemis menjadi sebuah dilema. Dikasih salah, malah kalau nggak hati-hati bisa-bisa jadi korban. Kalau nggak dikasih, hati nurani merasa bersalah. Tetapi, menurutku kalau mereka meminta jangan pernah marah. Tidak semua orang beruntung di muka bumi ini. Mereka hanya berusaha untuk bertahan hidup….

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi