“Kisah Cinta Pilu” Dari Pathpong……


Beberapa tahun lalu ketika pertama kali ke Bangkok, aku sempat mampir ke salah satu kawasan paling maksiat di kota ini yang terkenal dengan sebutan Pathpong. Pathpong sebenarnya adalah nama sebuah jalan di wilayah Silom Bangkok yang terkenal dengan industry seksnya. Kelewatan sekali namanya kalau pernah ke Bangkok, tapi tak pernah tahu soal Pathponng…:-p. Diskotik-diskotik di kawasan ini selalu menawarkan “go-go dancers”, striptease, dan vagina show yang sudah sangat terkenal seantero jagad. Belum lagi pelacur-pelacur yang banyak berkeliaran mencari mangsa di sekitar diskotik dan tempat hiburan malam. Sayang, saat itu uangku tidak cukup banyak untuk diporotin di dalam diskotik-diskotik Pathpong yang terkenal suka menjual minuman yang super duper mahal. Jadilah aku hanya menikmati keramaian night market disini sambil sesekali melirik ke arah beberapa diskotik yang pintunya dibuka lebar-lebar. Tak bisa nonton langsung, ngintip-ngintip dari luar pun jadilah……:-p. Aku masih bisa melihat dengan jelas para “ladies man”  sedang melakukan “aksi panggung”.

Setelah “muter-muter” sana-sini nggak jelas, akhirnya aku mampir ke sebuah warnet untuk “ngecek-ngecek” email. Tak lama kemudian ada orang bule masuk ke warnet sambil teriak-teriak menanyakan harga internet per jam. Dia berusaha tawar-menawar tarif internet dengan staf warnet dari 10 baht per jam menjadi 5 baht per jam. Suara teriakannya yang cempreng mengganggu konsentrasiku.

“Dude, no cheap internet in Pathpong. Ten baht per hour is a normal price!!” celetukku menanggapi teriakan si bule.

Si bule sepertinya tidak begitu suka dengan “interupsi” yang kulakukan. Dia pun membalas teriakananku, “Man, It was cheaper in the other places!!”

“So, go to the other place then,” balasku tak mau kalah.

Si bule tak membalas celetukanku yang terakhir dan malah “ngenet”. Mungkin dia sudah ngidam main internet sehingga tak perduli soal harga lagi. Dia duduk persis di sebelahku. Kami pun kemudian berkenalan. Dia memperkenalkan namanya sebagai Andrei. Dia berasal dari Perancis dan bekerja sebagai sutradara film. Ketika aku mengaku berasal dari Indonesia, Andrei langsung bilang bahwa dia tidak begitu asing dengan Indonesia karena salah satu teman kuliahnya dulu adalah orang Indonesia. Mereka sama-sama mengambil jurusan penyutradaraan film di sebuah Universitas Swasta terkenal di Amerika. Andrei menyebutkan teman kuliahnya asal Indonesia itu sebagai orang yang baik hati….:-). Entah karena kesan baik yang didapat dari temannya yang baik hati itu, tiba-tiba saja kami sudah terlibat dalam sebuah obrolan yang akrab. Mungkin chemistery-nya “cucok”….:-p. Saking serunya obrolan, Andrei tak puas hanya ngobrol di warnet. Dia kemudian mengajakku nongkrong di sebuah kafe. Kami pun beranjak dari warnet dan menuju sebuah kafe, masih di kawasan Pathpong.

Suasana dalam kafe tak berbeda jauh dengan kafe-kafe atau diskotik-diskotik di Indonesia yang sering dikunjungi bule. Wanita-wanita berpakaian super seksi bertebaran dimana-mana, tak terkecuali pelayan kafe. Mereka terlihat begitu manja dengan Andrei dan tak memperdulikanku….:-p. Karena penasaran dengan sikap super manis dari para pelayan kafe, aku pun bertanya kepada Andrei, “Bro, have you been here before?”

“No, Thai girls are bitch!!” balas Andrei dengan ketus.

Aku sedikit bingung dengan jawaban Andrei yang ketus. Tapi, aku tak perlu bertanya karena Andrei “curhat” soal kisah cintanya dengan seorang wanita Thailand yang berakhir tak mengenakkan. Entah apa yang ada di otaknya sehingga dia tiba-tiba terbuka berbicara hal yang sangat pribadi kepada orang asing yang baru bertemu sepertiku. Tak merasa perlu tahu alasannya, aku memilih hanya mendengarkan saja “kisah cinta pilu” Andrei.

Kisah cinta Andrei dengan wanita Thailand itu bermula dari pertemuan mereka di sebuah kafe di kawasan Sukhumvit, Bangkok. Singkat cerita Andrei pun jatuh cinta dengannya, begitu pula dengan si wanita Thailand itu (menurut Andrei). Kadar cinta Andrei kepada si wanita Thailand itu memang benar-benar tinggi, terbukti ketika dia mengucapkan kata-kata “I really crushed on her.” Wajahnya yang marah berubah sendu dan matanya menerawang ketika mengucapkan kalimat tersebut. Mungkin orang Perancis kalau jatuh cinta bisa segitunya kali ye…..:-p.

Tak hanya soal kadar cinta yang diceritakan Andrei padaku, urusan ranjang juga. Andrei begitu bersemangat menceritakan bagaimana dia sangat dimanjakan oleh si wanita pujaannya serta hebatny seks yang mereka lakukan….hmmmmm. Soal detail hubungan seks mereka aku tak perlu ceritakan rasanya walaupun Andrei menceritakannya kepadaku. Kalau aku ceritakan, ceritanya bukan lagi tentang “kisah cinta pilu”, tapi ‘kisah cinta porno”….:-p.

Selama tiga bulan hidup Andrei seperti berada di “surga” sampai tiba-tiba wanita Thailand pujaannya itu menghilang begitu saja tanpa alaan yang jelas. Dia seperti lenyap di telan bumi. Andrei sangat stress ketika wanita itu menghilang begitu saja dari kehidupannya. Tapi, dia tidak mau menyerah begitu saja. Seperti seorang mata-mata kelas kakap, Andrei mencari tahu tentang wanita Thailand pujaan hatinya itu ke berbagai sudut kota Bangkok sampai suatu saat dia mendapat informasi tentang desa dimana orang tua si wanita tinggal. Andrei pun berangkat ke desa tempat tinggal orang tua si wanita pujaannya. Dari orang si wanita, Andrei akhirnya mendapat informasi bahwa si wanita Thailand pujaannya tersebut sudah menikah dengan seorang bule dari Australia. Informasi ini tentu saja menghancurkan hati Andrei. Kisah cinta pilu Andrei rupanya tak berakhir sampai disitu. Beberapa hari kemudian Andrei mendapat email dari “mantan pacarnya” itu. Dalam email tersebut, si wanita Thailand itu mengatakan bahwa dia hanya menghabiskan liburan di Bangkok selama 3 bulan dan menjadikan Andrei sebagai “intermezo” untuk mengisi kekosongan. Hati Andrei tak hanya hancur, tapi lebih tepatnya “remuk-redam”…..:-p. Dia merasa sangat dikhianati dan tentunya sangat marah. Andrei sampai tidak bisa menahan amarahnya ketika menceritakan bagian akhir dari kisah cintanya. Dia beberapa kali berteriak, “Thai girls are bitch!! They are all whores!!! Bitch!!!”

Aku membiarkan Andrei dan berusaha memaklumi kemarahannya. Dia pasti masih sangat terluka dan patah hati berat. Menurutku, si wanita Thailand itu terlalu hebat dan lihay baginya. Aku kagum dengan si wanita Thailand yang bisa membuat Andrei “klepak-klepek”, apalagi Andrei orang Perancis yang terkenal flamboyan dan jagoan soal wanita. Aku jadi ragu dengan ke-Perancisan Andrei. Tak pernah terlintas dalam pikiranku jika ada cowok Perancis yang bisa berantakan gara-gara urusan cewek. Mungkin Andrei terlalu melankolis dan tidak berpengalaman dalam permainan seperti ini.

Aku menemani Andrei sampai pukul 2 pagi sebelum balik ke hotel. Sepanjang itu pula dia menumpahkan uneg-unegnya. Sebelum kami berpisah, Andrei masih sempat mengungkapkan kekesalannya, “I want to kill her and her husband!! I will find her!! I will go to Australia!”

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi dan Andrei