Tentang Survival: Kisah Dua Potong Roti Di Perbatasan Kenya-Uganda


Ada sebuah pengalaman menarik yang kualami di perbatasan Kenya-Uganda. Pengalaman ini selalu membuatku berpikir tentang “survival” atau bertahan hidup. Saat itu bus yang kutumpangi dari Nairobi (Kenya) menuju Kampala (Uganda) sedang menunggu proses imigrasi di perbatasan Kenya-Uganda. Sambil menunggu proses imigrasi, aku turun dari bus untuk membeli makanan kecil. Dua anak kecil mengikutiku dengan harapan mendapatkan sedikit uang.  Aku tidak memperdulikan rengekan mereka dan memilih kembali masuk ke dalam bus sambil menunggu proses imigrasi selesai. Sudah terlalu sering aku dimintai uang selama perjalananku di Afrika.  Semua orang dari anak-anak sampai orang tua memang doyan minta-minta di hampir setiap negara Afrika yang kukunjungi. Sebuah mental inferior yang semakin mewabah di Indonesia…..:-p.

Kembali kepada dua anak tersebut, mereka rupanya tak mau menyerah begitu saja. Dengan setia keduanya  tetap menunggu dari luar bus tepat di bawah jendelaku sambil menengadahkan tangan. Hatiku akhirnya tergerak juga untuk membagi makanan, bukan uang. Aku lalu memberi kode supaya mereka berbagi. Aku menjatuhkan dua potong roti terakhirku ke salah satu anak. Dia menangkap kedua roti yang aku taruh dalam kantung plastik tadi dengan sempurna. Apa yang terjadi kemudian benar-benar membuatku berpikir. Si anak yang menangkap roti tadi langsung ngeloyor pergi begitu saja tanpa berbagi dan peduli dengan temannya. Si anak yang tidak mendapatkan roti masih menengadahkan tangan. Sayang, tak ada yang bisa kuberikan padanya karena aku tidak punya roti lagi.

Suasana di Busia, Perbatasan Kenya-Uganda

Terus terang, aku sangat marah terhadap sikap anak itu yang membawa lari roti dan tidak mau berbagi kepada temannya. Tapi, sebelum aku menghakimi sikapnya yang egois, sebuah pertanyaan melintas di pikiranku. Apakah dia memang tak perduli terhadap temannya atau hanya berusaha untuk bertahan hidup? Barangkali saja dia sudah tidak makan berhari-hari. Atau, mungkin juga dia membagikan roti tersebut dengan angota keluarganya yang lain. Terus terang, aku hanya bisa menebak-nebak tentang alasan anak itu bersikap sangat egois.

Kemudian, sebuah pertanyaan kuajukan terhadap diriku sendiri.  Bagaimana aku akan bersikap jika berada dalam keadaan survival antara hidup dan mati? Apakah mungkin aku akan bersikap toleran kepada teman atau sebelahku? Kemungkinan besar aku akan mengambil sikap seperti anak itu tadi, walaupun ada hal yang mungkin membuatku bersikap sebaliknya.

Setiap orang pasti punya alasan berbuat sesuatu yang tidak kita mengerti dan kita mungkin bertanya kenapa? Sebelum menghakimi perbuatan mereka, marilah berhenti sejenak untuk berpikir tentang kata “kenapa” tadi. Kita mungkin jadi orang yang lebih menyenangkan daripada yang dibayangkan orang sebelumnya. Itu pelajaran yang kudapat pada hari itu.

Cerita perjalananku yang lain di Uganda:

Nonton Film Ala Uganda

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi