Travel…..My Style


Aku pernah ikut sebuah milis backpacker Indonesia beberapa tahun yang lalu dan kemudian keluar karena merasa tidak cukup hebat untuk menjadi seorang backpacker seperti teman-teman di dalam milis. Walaupun sudah keluar dari milis, cukup banyak juga orang yang bertanya kepadaku soal informasi negara-negara yang pernah kudatangi dan juga detail rencana perjalanan. Mereka minta dengan komplit sekomplit-komplitnya tentang kota yang aku kunjungi, tranpsort, harga-harga, hotel yang paling bagus tapi murah dan yang paling sering pertanyaannya adalah, ”aman nggak kesana?” Bahkan ada yang sedikit ngotot meminta tentang jalur perjalanan tapi cuma punya waktu yang sangat sedikit. Aku terus terang susah menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka karena konsep mereka bertraveling sangat berbeda denganku.

Banyak dari orang-orang yang bertanya kepadaku mempunyai konsep travel is a destination. Mereka mengutamakan banyaknya negara yang mereka kunjungi dengan waktu yang sangat singkat. Perencanaan perjalanan mereka sangat detail. Demikian juga gudget dan peralatan-peralatan yang mereka bawa, sangat lengkap. Aku menjadi merasa lucu ketika ada majalah atau koran yang membuat tulisan dengan judul “Peratalan yang harus dipunyai oleh seorang backpacker” (aku tidak pernah tahu kalau backpacker adalah sebuah profesi…….:-p) Konsep perjalananku jelas sangat berbeda dengan konsep diatas. Bagiku travel is a journey. Aku lebih menikmati kisah-kisah yang kualami selama perjalanan walaupun kebanyakan kisah aku alami bukanlah kisah yang mengenakkan.

Aku terus terang tidak pernah merencanakan perjalananku dengan detail. Aku hanya menentukan dari mana aku memulai perjalanan dan dimana aku mengakhirinya. Selebihnya aku berimprovisasi saja. Aku tidak pernah memesan penginapan terlebih dahulu dan juga nggak perduli soal keamanan sebuah negara. Delapan dari sekitar 30 negara yang pernah aku masuki adalah negara konflik. Soal visapun aku cuek. Aku hanya mengurus visa negara dimana aku memulai perjalanan. Semua visa yang kudapat aku urus di di negara tetangga negara tujuanku berikutnya. Rayuan dan bujukan aku lakukan supaya permohonan visaku diluluskan. Caraku mendapatkan visa dengan berbagai macam rayuan bisa dibaca pada tulisanku Merayu Petugas Konsuler.

Dalam perjalanan, aku selalu menunggu kejutan yang terjadi, disitulah nikmat sebuah perjalanan. Bagiku, sebuah perjalanan yang terlalu direncakan tidak lebih dari sebuah darmawisata. Mending ikut tour saja seperti yang pernah kulakukan 12 tahun yang lalu. Dengan caraku traveling yang “berbeda”, aku mengalami hal-hal yang sedikit ekstrim. Pengalaman mau dirampok, dijebak penipu, dipalak polisi, buku panduan yang dirampas, kehilangan paspor, diancam, diinterogasi intelejen sampai hampir dikeroyok orang pernah aku alami. Aku menikmati saja semua kejadian tersebut. Yang terpenting, berusalah untuk selalu low profile dan tidak kehilangan dignity serta jangan pernah kehilangan common sense.

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi