Teman Perjalananku Di Berbagai Negara


Selama melakukan perjalanan di beberapa negara yang aku lakukan, aku selalu berusaha mendapatkan teman seperjalanan di setiap negara atau kota yang kusinggahi. Kalau beruntung, aku terkadang dapat teman jalan cewek. Kalau lagi tidak begitu beruntung ya pasti cowok dapetnya. Untungnya, aku belum pernah mendapat teman jalan yang bukan cowok, bukan pula cewek…..:-p.

Dalam melakukan perjalanan yang, aku tidak pernah mencari teman jalan dari awal perjalanan. Semua temanku ini adalah hasil “nemu di jalan”, jadi akrab dan akhirnya jadi teman jalan bareng. Sayangnya, aku tak pernah jalan bareng orang Indonesia selama perjalananku menyusuri negara-negara di luar Indonesia. Semuanya berasal dari luar Indonesia dan aku mencatat mereka berasal dari sekitar 11 negara yang berbeda.  Karena mungkin terbiasa tinggal di negara lain, aku tak pernah punya masalah dengan traveler-traveler dari negara lain yang menjadi teman jalanku.  Inilah kesan-kesanku tentang mereka.

1. Traveler Korea
Traveller dari Korea adalah yang paling favorit bagiku untuk dijadikan teman jalan. Mereka sangat ketat dalam urusan pengeluaran dan selalu menawar harga. Mereka gak pernah perduli dengan price list yang sudah tersedia. Mereka juga bisa dibilang paling tidak tahu malu. Mereka paling sering bilang kalau mereka tidak punya uang untuk mendapatkan discount ataupun sekedar mendapatkan makanan dan minuman gratis. Hal yang paling menyebalkan jalan bareng traveler Korea adalah setelah tawar menawar cukup lama dan harga sudah turun, mereka membatalkan transaksi karena masih terlalu mahal menuru ukuran mereka. Bagi traveller korea, 0.5 dollar adalah yang sangat berharga dan mereka bisa menawar berlama-lama hanya untuk pengurangan 0.5 dollar. Tidak perduli yang udah kerja maupun masih bestatus pelajar, traveller korea emang demen menawar harga.

2. Traveler Jepang
Teman jalan favouritku yang lain. Traveller Jepang biasanya sudah membawa buku perjalanan sendiri yang berbeda dengan buku-buku traveller barat seperti “Lonely Planet” atau “Rough Guide”. Buku panduan barat biasanya menekankan sisi kenyamanan selain harga, tetapi buku panduan jepang lebih menekankan sisi harga. Buku panduan Jepang memberikan informasi tentang semua hal-hal yang termurah di suatu negara mulai dari hotel, restaurant, transportasi dan sebagainya. Setiap kali teman jalanku yang berasa dari Jepang bilang “yang terbaik”, maksudnya selalu adalah “yang termurah”.  Tapi, mereka tidak doyan tawar-menawar dan minta discount seperti Korea. Mereka percaya bahwa buku primbon perjalanan mereka telah memberikan harga yang termurah…:-). Kalaulah saja buku travel Jepang diterjemahkan ke bahasa Inggris, aku akan pilih buku travel Jepang daripada “Lonely Planet” ataupun “Rough Guide”….:-p.

3. Traveler Kanada.
Tidak ada yang terlalu berkesan dengan traveler-traveler dari Kanada bagiku. Hanya sekali aku jalan bareng dengan traveler dari Kanada yaitu di Shangrilla China. Matt, seorang mahasiswa teknik lingkungan asal Kanada yang cukup bokek menjadi teman jalanku. Aku “terpaksa” berbaik hati membayar lebih kalo lagi bareng-bareng makan. Selebihnya aku ketemu traveler-traveler Kanada yang sangat paranoid dan sangat tidak bersahabat.  Kecuali Matt, aku selalu bertemu dengan traveler Kanada yang sombong dan paranoid. Mungkin aku lagi sedang sial saja.

4.  Traveler Swiss
Traveler-traveler Swiss yang pernah jalan bareng ketika aku di Vietnam dan mendaki gunung Kinabalu. Tidak ada yang kesan yang mendalam, tetapi bisa dibilang mereka cukup friendly.

5. Traveler Amerika
Jalan bareng traveler dari Amerika artinya siap-siap untuk menikmati hal-hal yang tabu dan beresiko. Traveler-traveler dari Amerika adalah orang-orang yang sangat friendly dan terbuka, tetapi  mereka cenderung sangat arogan sehingga beberapa pengalamanku dengan mereka adalah pengalaman-pengalaman yang mendebarkan. Hampir dipukulin di perbatasan Nepal-Tibet dan mabuk-mabukan di Africa, sampai nawar setiap cewek yang ditemui di bar adalah beberapa contohnya. Kegilaan mereka jangan ditanya lagi. Bar adalah kehidupan keseharian mereka. Untuk menghabiskan budget perjalanan dengan cepat, traveler-traveler amerika paling cocok dijadikan teman. Anehnya, sampai saat ini aku paling sering jalan dengan traveler dari Amerika dan menganggap mereka adalah salah teman perjalananku yang terbaik…:-)

6. Traveler Jerman
Traveler-traveler dari Jerman biasanya jalan sendiri karena di negara mereka pun mereka doyan sendiri dan tidak mau diganggu. Memang, tak semuanya mereka  dingin dan indvidualistis. Ada juga yang mau berakrab-akrab seperti Henrym dokter gigi yang sangat periang yang aku temui di mesir. Pengalamanku jalan bareng dengan orang  Jerman terjadi ketika aku berada di Malawi. Teman jalanku asal Jerman ini profilenya persis psikopat, sangat tenang dan hampir tanpa ekspresi sampai-sampai aku dan temanku yang lain dari Amerika berpikir kalo dia seorang psikopat. Aku dan teman Amerikaku bercanda bahwa kami berdua akan dibunuh saat tidur jika sharing satu kamar dengan teman Jerman kami…:-p.

7. Traveler Denmark
Aku sempat jalan bareng dengan sepasang traveler Denmark sewaktu berada  di Lijiang, China bersama dengan teman-teman lain asal Amerika dan Australia. Jalan bareng dengan jumlah teman yang paling banyak yang pernah aku lakukan. Tidak ada yang istimewa dengan sepasang traveler Denmark ini kecuali wanitanya lebih galak dari prianya sehingga kelihatan banget si cowoknya waktu itu hanya nurutin si cewek. Kecian deh lo….

8. Traveler Australia
Sama seperti orang Amerika, sama gilanya…hanya ada 2 kata bagi mereka: party and sex..he..he..he….Walaupun begitu selalu ada pengecualian. Aku pernah ketemu Paul, seorang Australia yang sangat gentle dan tidak suka keramian. Umurnya memang sudah lebih 40 tahun. Jadi, mungkin dia sudah lebih bijaksana dalam menyikapi hidup.  Berbeda sekali dengan Jake yang kutemui di Tibet. Dia adalah satu orang paling gila yang pernah aku temui….:-p.

9. Traveler China
Aku pernah beberapa kali ketemu traveler dari China, tetapi aku cuma punya satu kali pengalaman jalan bareng dengan mereka sewaktu aku jalan di Tibet dan Nepal. Orang dari China bisa dibedakan dari asal tempat mereka tinggal. Kalau mereka dari Shanghai dan Beijing mereka sepertinya lebih arogan. Tidak mau kalah omong bahkan dengan orang amerika sekalipun. Kebetulan teman jalanku ini dari Shanghai, seorang ahli IT. Dia dan istrinya sama arogannya sampai-sampai mereka alergi masuk restoran murah, terutama istrinya….:-p.  Berbeda banget dengan traveler China yang aku temui di Kunming . Kebetulan di berasal dari Hunan. Orang ini sangat rendah hati seperti kebanyakan orang-orang china daratan lainnya yang tinggal di kota-kota selain Shangai dan Beijing.

10. Traveler Malaysia
Kalo ketemu di suatu tempat yang jarang ada orang asia tenggara, ya seperti ketemu saudara sekampung aja. Kebetulan jalan bareng mereka waktu di Turki setelah kontrak kerja gua habis. Selain itu aku memang pernah tinggal di Malaysia juga, jadi ya selalu bisa berakrab-akrab dengan mereka.

11. Traveler  Inggris
Tidak ada yang cukup berkesan jalan dengan mereka. Aku bisa mengatakan mereka cukup friendly. Aku jalan bareng dengan Mark dan James ketika menyusuri  beberapa kota di sekitar Lijiang dengan sepeda.

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi