Terjebak Masalah Saat Traveling


Traveling dengan cara yang sedikit “nyentrik” sudah menjadi kebiasaanku. Kehilangan paspor, dirampok, dipalak polisi, dan insiden-insiden lain adalah masalah-masalah yang biasa kuhadapi akibat kebiasaan travelingku yang tak biasa ini. Aku memang selalu berusaha supaya tak terlibat masalah, namun aku juga tak akan menghindar jika hal-hal tersebut harus terjadi.  Seperti kata seorang satu teman traveler asal Slovenia yang pernah menjadi “korban penculikan” saat traveling, “Don’t loose your dignity when you are in trouble”. Kata-kata tersebut memang cocok untuk  traveler yang doyan nyerempet-nyerempet bahaya sepertiku. Aku mau berbagi pengalaman-pengalamanku yang tak biasa ini. Mudah-mudahan bisa “menginspirasi pembaca untuk bertraveling dengan cara yang sedikit lebih “hardcore”. Tapi kalau tak punya nyali, jangan pernah melakukannya. “Don’t try it at home”,” kata iklan MTV jaman jadul…..

          Dipalak 

Pengalaman dipalak pernah aku alami ketika traveling di Pulau Zanzibar, Tanzania. Saat itu pasporku terjatuh tanpa kusadari dan lansung diambil oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab di sekitar pelabuhan Zanzibar. Orang yang mengambil pasporku meminta USD 200 sebagai tebusan. Aku hanya bersikap tenang dan bilang aku tidak punya uang sebanyak itu. Orang ini tak mau tahu dengan penjelasanku dan tetap memaksa. Dengan santai aku bilang kepadanya kalau aku hanya perlu melapor ke polisi dan dia akan ditangkap. Ketika mendengar kata polisi, pemeras ini mulai melunak.  Tak ada yang mau masuk penjara di Afrika sana…:-p Aku lalu berjanji kepadanya akan memberikan imbalan senilai harga paspor, yang jelas jauh dari harga USD 200. Rupanya orang ini kalah gertak. Dia menunjukkan pasporku dan dengan sedikit memaksa aku merebut pasporku dari tangannya.  Aku memberikan USD 30 sebagai ganti harga paspor. Kalau tadi aku kalah gertak, aku mungkin kehilangan USD 200. Tidak panik dan tidak kehilangan “dignity’” tadi adalah kuncinya.

Sedikit nasehat soal paspor: Taruhlah copy scan dari paspor dan akta kelahiran di internet. Seandainya paspor hilang ketika traveling di luar negeri,  bisa langsung diurus dengan mudah diperbaharui di KBRI setempat.

Buku panduan dirampas atau hilang.

Satu-satunya pengalaman buku panduan dirampas terjadi saat aku traveling di Cina. Buku panduanku “Rough Guide” dirampas oleh petugas imigrasi perbatasan China-Vietnam tepatnya di kota Heikou karena buku tersebut tidak memasukkan Taiwan sebagai bagian dari China. Aku memang sempat panik pada awalnya, apalagi saat itu jarang sekali orang Cina yang bisa berbahasa Inggris sehingga buku panduan sangat penting bagiku. Tapi, setelah perjalananku dari Heikou ke Kunming dengan bus malam, aku malah terinspirasi untuk mulai travel tanpa buku panduan. Dan sejak saat itu, aku lebih sering travel secara independen tanpa menggunakan buku panduan. Rasa petualangannya jelas lebih terasa dan sering nyasar tentunya……:-p.

Sedikit nasehat soal buku panduan: Jaman sekarang jaman internet. Panduan di internet seringkali lebih up to date daripada buku panduan. So, manfaatkanlah teknologi saat traveling. Lagipula, anda akan terlihat seperti “green traveler” jika bawa buku panduan kemana-mana…..:-p.

Berurusan Dengan “Touts” (Calo)

Calo bisa dikatakan adalah orang-orang yang berusaha memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. terutama  kepada turis-turis yang sedang kebingungan. Walaupun demikian, tidak semunya calo suka menipu. Menurut pengalamanku ada sekitar 5% yang berusaha untuk tetap “jujur”. Biasanya para calo banyak berkeliaran di bandara dan tempat-tempat wisata, menawarkan barang dagangan, hostel travel agent, guide, dan sebagainya yang mereka bisa tawarkan dengan harga yang berkali lipat dari harga yang sebenarnya. Kebanyakan calo juga agresif dan sangat ngotot. Sangat sulit menghindar dari mereka. Percuma melaani mereka. Kalau tak terdesak banget, aku biasanya diam dan bersikap tidak perduli. Membuka pembicaraan hanya akan membuang waktu.  Dari perjalananku ke lebih dari 30 negara di dunia, aku bisa mengambil kesimpulan bahwa calo yang paling yangg paling parah adalah calo di Luxor, Mesir dan Arusha,  Tanzania.

Sedikit nasehat soal buku panduan: Calo suka mencari korban dari traveler yang  jalan sendirian karena lebih mudah dikerjai. Mencari teman selama traveling tak ada salahnya. Selain itu  calo suka cari gara-gara jika tawaran mereka ditolak supaya emosi calon korbannya terpancing. Kalau sampai emosi terpancing, para calo ini punya seribu alasan untuk “ngerjain” anda. So, bersabarlah menghadapi mereka.

Dipalak Polisi

Sebenarnya, tak perlu jauh-jauh traveling sampai ke luar negeri untuk mendapatkan pengalaman seperti ini. Sudah menjadi rahasia umum jika polisi di negara ini doyan malak…..:-p. So, aku tak perlu panjang lebar untuk bercerita soal ini karena aku yakin para pembacara mungkin lebih berpengalaman dariku soal yang satu ini.

Sedikit nasehat soal polisi malak: Pengalaman dipalak polisi jarang terjadi di negara-negara maju. Di negara-negara berkembang dan juga negara-negara miskin, polisi malak itu hal yang biasa. Tak perlu marah-marah. Uang $ 1-2 sudah cukup membuat mereka diam.

Dijebak Polisi

Kejadian seperti ini paling sering terjadi di negara-negara dunia ketiga. Aku sudah sering dengar kejadian begini di Indonesia. Kasus yang sama juga terjadi di Afrika. Biasanya yang kena jebak yang lagi sendirian di jalan pada saat sudah malam sudah mulai larut. Perbedaannya di Afrika bukan polisi yang langsung ngejebak tapi orang lain yang berpura-pura menjual narkotik. Biasanya pemakai narkotik di Afrika adalah kaum rasta yang menggunakan narkotik sebagai alat ritual paling sering ganja. Tapi, tidak semua rasta adalah pencinta damai. Banyak diantara mereka juga maling. Jadi sekali lagi pulang sendirian tengah malam di negara dunia ketiga bukanlah hal yang baik. Kalau tidak berpengalaman mengurus perjalanan sendiri lebih baik jauh-jauh dari orang-orang yang berniat menjual ganja karena mungkin aja itu jebakan.

Tersesat

Bertanya kepada penduduk sekitar adalah hal yang paling masuk akal untuk dilakukan. Tidak perlu panik. Menunjukkan rasa panik hanya akan membuat orang-orang yang mengincar anda akan merasa lebih senang. Pengalamanku kalau pada daerah yang tidak friendly seperti di Afrika aku tidak pernah mau dengan tawaran mengantar ke tujuan karena biasanya kita lebih disesatkan dan mereka akan minta imbalan.Hal yang aku sering lakukan aku sudah benar-benar hapal luar kepala peta tempat yang kutuju. Pada daerah friendly seperti di Yunan China, aku sama sekali tidak keberatan kalau ada orang yang menawarkan diri mengantar. Pergunakansedikit intuisi untuk melihat keadaan yang ada.

Kendala Bahasa

Tuhan menciptakan mulut bukan hanya untuk berbicara dan makan tapi juga tersenyum. Senyum adalah bahasa universal. Dibantu dengan tangan untuk menggunakan bahasa isyarat, komunikasi biasanya lancar. Tak perlu heboh….

Tertipu

Kalau sudah tertipu ya ini yang paling sulit. Nasihatku jangan sampai tertipu. Kalau sudah tertipu hampir tidak ada yang bisa kita lakukan. Ingat, kita adalah pendatang jadi harus selalu hati-hati. Jangan pernah makan dan membeli sesuatu sebelum menanyakan harga di negara-negara dunia ketiga seperti afrika. Harga akan bisa berubah hanya dalam hitungan jam. Tapi dari semua negara yang paling parah Indonesia adalah salah satunya. Sudah banyak temanku traveler dari negara asing yang mengatakan bahwa harga-harga sering dinaikkan sampai sepuluh kali dari harga normal. Aku juga pernah mengalami hal yang sama di luar negeri tapi tidak pernah sampai 10 kali, paling banter hanya 2 kali. Aku rasa sampai saat ini orang-orang Bai dan Naxi Yunan di China adalah orang jujur dan ramah.

Menghadapi kerumunan orang

Bagaimana rasanya kita sampai di suatu tempat yang asing dan langsung dikerubutin sekitar 40 orang yang menawarkan jasa membawakan tas, menunjuk jalan dan sebagainya sambil menarik-narik ransel atau tas kita? Kalau kita menggunakan bus umum di Indonesia dan sampai di terminal bus hal-hal seperti ini sudah biasa. Bersikap tegas tapi ramah adalah kuncinya. Bicara baik-baik tapi tidak memberi kesempatan mereka untuk melanjutkan aksi mereka.

Massa yang marah

Kejadian ini pernah aku alami sewaktu nyebrang dari Tibet ke Nepal. Aku dengan ketiga temanku sudah masuk ke Nepal dan berusaha mendapatkan tumpangan ke Kathmandu. Pada saat itu perang sipil masih berlangsung di Nepal. Kita berusaha mencari tumpangan yang murah ke Kathmandu, tapi yang terjadi kesalahpahaman antara temanku yang dari Amerika dengan salah seorang touts disana. Touts ini berteriak-teiak memaki dan mengucapkan kata-kata kasar dan mengancam. Apa yang aku lakukan pada saat itu adalah menghindar dari tempat itu secepatnya. Aku minta maaf kepada orang itu atas nama temanku walaupun temanku asal AS ini masih pingin berdebat, tapi melihat situasi dimana kerumunan orang yang bertambah mengelilingi kita dan mulai ikut teriak aku langsung ambil tindakan penyelamatan diri. Setelah meminta maaf aku berusaha secepatnya menjauh dan menghilang dari tempat itu sebelum kerumunan itu berubah anarkis. Beruntung ada yang menawarin tumpangan. Kami bisa pergi dengan segera. Pengalamanku dalam kerumunan yang penuh amarah seperti ini, sikap anarkis akan tersulut dengan segera. Menghilang dari pandangan mereka adalah cara yang terbaik.

Menghadapi Kerusuhan.

Suasana kerusuhan terjadi jika massa yang marah sudah tidak terkendali dan mulai melakukan tindakan-tindakan anarkis. Berdasarkan pengalalaman saya sendiri para saat massa bringas kita yang berada di dalam kelompok massa tersebut terikut dalam emosi yang meluap-luap sehingga akal dan logika tidak ada lagi. Kalap mungkin lebih tepat untuk menggambarkannya. Hal yang paling bagus menghadapi kondisi ini adalah menjauh dari lokasi kejadian. Semua juga orang tahu mungkin tapi pada saat terjadinya banyak orang yang tidak bisa berpikir lagi. Hal yang saya lakukan pertama menghadapi situasi seperti ini adalah mencari jalan keluar dari lokasi kerusuhan. Bila kerusuhan melanda kota, yang akan saya cari adalah jalan keluar menuju hotel dan bandara. Jadi, kemanapun kita pergi pengetahuan tentang suatu tempat yang kita kunjungi harus benar-benar punya kalau tidak mau celaka.

Diculik

Terus terang aku belum pernah diculik dan tidak pernah pinging diculik tapi berada di suatu negara dunia ketiga yang penuh konflik aku selalu bersiap untuk itu. Cerita berikut ini adalah cerita teman traveler asal Slovenia yang diculik polisi di Georgia. Pada waktu itu dia sedang menjelajahi negara-negara bekas Uni Soviet dengan bersepeda dan sampailah dia di Georgia, negara yang baru diserang oleh bekas penjajah mereka Russia. Polisi disini lumayan parah. Apa yang dia lakukan cukup berhasil. Dia tetap tenang dan santai. Dia bilang pada Polisi Georgia tersebut kalau dia tidak punya uang sehingga menahannya adalah percuma, tapi polisi Georgia tidak melepaskannya. Akhirnya dia dibawa di dalam mobil oleh Polisi Georgia tersebut dan yang paling bikin dia ngeri ketika salah satu polisi bilang,” We will take a ride first and we will decide what we will do to you later.” Teman saya dari Slovenia ini sudah berpikir dia akan ditembak dan mayatnya dibuang di tengah gurun. Tapi dia tidak hilang akal, ketika mobil mereka lewat di depan sebuah supermarket. Anehnya si pemilik supermarket tahu kalau dia diculik oleh polisi-polisi ini dan menawarkan dia untuk melarikan diri, tapi dia menolak. Dia kemudian membeli beberapa botol vodka untuk merayakan hari terakhirnya bersama polisi-polisi penculiknya. Polisi-polisi ini kemudian berpesta vodka bersamanya dan mereka sangat senang ada yang mentraktir mereka vodka. Temanku ini berteman akrab dengan polisi-polisi ini dan akhirnya polisi-polisi Georgia ini memutuskan untuk melepaskannya. Beruntung benar dia. Tapi aku rasa dia bukan sekedar beruntung tapi juga tetap tenang dan tidak kehilangan harga diri walau diculik. Dia akhrinya lepas dari sekapan para polisi korup ini. Bagaimana kalau diculik oleh gerilyawan atau perampok yang meminta ransom? Kalau yang ini ya bersikap kooperatif dan berharap uang tebusan dibayar kalau tidak ya terima nasib dibunuh….Resiko perjalanan seperti ini pernah dialami oleh traveler-traveler dari Inggris yang terbunnuh di Guatemala seperti diceritakan teman perjalananku Danny dari Irlandia. Satu bisa meloloskan diri dan satu laginya tidak beruntung ditikam di dada dan mayatnya dibiarkan di hutan.

Terperangkap dalam tembak menembak.

Salah seorang pengawal saya di Irak aja pernah bilang begini, “Never get caught in gun fight”. Dia mengerti betul artinya. Bagi orang yang tidak terbiasa dengan suara tembakan mungkin tidak begitu masalah tapi bagi yang tidak terbiasa suara pistol aja bisa bikin jantungan. Tembak menembak atau serangan bom di negara seperti Iraq dan negara-negara berbahaya lainnya tidak akan pernah bisa diprediksi kapan dan dimana. Hal yang bisa kita lakukan adalah berlatih menghadapi keadaan seperti ini. Biasanya kalau kita dikawal, para pengawal selalu menyuruh kita berada di dalam mobil yang anti peluru. Jangan pernah gegabah untuk mengambil moment tembak menembak apabila anda bukan seorang wartawan perang yang berpengalaman dan siap matiuntuk sebuah berita. Kilauankamera atau benda-benda yang bisa memantulkan cahaya akan menjadi panduan bagi sniper untuk menembak anda. Mendengar arah tembakan dan berusaha menjauh sambil berlindung dari arah tembakan adalah tindakan yang masuk akal kalau kita tanpa pengawalan tapi semuanya tergantung dari naluri, keberanian, dan ketenangan dari orang yang mengalami.

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi