Dari Hanoi Ke Kathmandu: “Tibet Dari Sisi Yang Indah”


Mencari jalan ke Tibet selalunya adalah sebuah “seni”. Tak pernah mudah bisa masuk ke negara ini dari sejak jaman Dalai Lama sampai pemerintahan komunis Cina. Aku termasuk orang yang melakukannya dengan cara yang termudah dengan naik pesawat dari Shangrilla seperti yang kuceritakan sebelumnya dalam tulisanku.

Penerbanganku dari Shangrilla ke Lhasa taklah terlalu buruk walaupun tanpa petualangan yang mendebarkan. Pemandangan indah dari udara membuatku melupakan kekesalanku tak bisa masuk ke Tibet lewat darat. Aku di bandara Lhasa dengan perasaan sedikit galau karena aku tak mempunyai “permit” ke Tibet. Ben dan Vivian juga mempunyai kegalauan yang sama denganku. Beruntung kami tak dicegat petugas ketika keluar dari bandara.

Tibet Dari Atas Awan-Awan

Bagian Tibet Yang Lain Dari Atas Pesawat

Aku, Ben dan pacarnya Vivian menuju Lhasa dengan naik bus bandara yang murah meriah. Di Lhasa, kami akhirnya berpisah karena Ben dan Vivian memilih penginapan yang berbeda denganku. Aku menginap di dormitory room di Tibet Hotel, sedangkan Ben dan Vivian menginap di salah satu penginapan di kawasan Barkhour Market. Aku tak perlu menjelaskan detail apa yang kami lakukan di Lhasa tiga hari berikutnya. Yang jelas aku bertemu dengan teman-teman baru dan “ngalor-ngidul” sana-sini. Tapi, kami bertiga tetap sepakat untuk jalan bareng menjelajahi Tibet dan pegunungan Himalaya dari Lhasa ke Kathmandu dengan jip.

Mejeng sejenak Di Depan Istana Potala

Barkhour Street Market

Cara Orang Tibet Sembahyang

Singkat cerita, kami bertiga lalu mencari travel operator yang mau menyewakan jip lengkap dengan supirnya. Supaya lebih murah kami harus mencari satu orang lagi. Kami bertiga sempat berkeliling berbagai penginapan di Lhasa dan menempelkan pengumuman di penginapan-penginapan tersebut jika kami perlu satu orang lagi untuk perjalanan kami dengan jip Kahtmandu. Ternyata bukan hanya kami yang melakukannya karena banyak dari kelompok-kelompok traveler lain yang mempunyai masalah yang sama dengan kami, kurang orang. Akhirnya setelah dua hari menunggu,  seorang traveler Cina asal Shanghai bernama Jerry mau bergabung dengan kami.

Aku dan Ben lalu mengurus perizinan di tempat penyewaan jip tersebut.  Pemilik travel operator yang asli Tibet bertanya soal “permit” kami di Tibet. Tentu saja kami tak punya. Dia heran bagaimana kami bisa berada di Lhasa tanpa permit. Tanpa kami minta, dia menjelaskan panjang lebar soal permit ke Tibet kepada kami. Saat itu juga aku dan Ben sadar bahwa kami sudah “dikerjain” oleh staf travel agent di Shangrilla yang menjual tiket pesawat kepada kami. Mereka tak pernah mengurus “permit” kami ke Tibet. Untungnya kami tak dicegat polisi di bandara. Kalau sampai dicegat polisi, mungkin kami  bisa dibalikin lagi ke Shangrilla….:-p.

Jip Landcruiser dan supir sudah kami dapatkan, lengkap dengan permit  menuju Everest Base Camp. Sehari sebelum berangkat kami membeli makanan dan jumlah yang banyak. Pemilik travel operator sudah mewanti-wanti kami soal tidak enaknya makanan di pedalaman Tibet.

Tenjin…Supir kami dan Jip Landcruiser-nya

Yamdrok Tse Lake menjadi tujuan pertama dalam perjalanan kami. Tenjin, orang asli Tibet yang menjadi supir kami cukup cekatan dalam menyetir di jalan yang berkelok-kelok menuju Yamdrok Tse Lake.  Orangnyajuga murah senyum, ramah dan tak banyak bicara.

Pemandangan Dual Layer Pelangi dalam perjalanan ke Yamdrok Tse Lake.

Yamdrok Tso Lake, Tibet. Foto ini menjadi “Photo Of The Day” di Webshots 15/9/2008.

Yamdrok-Tso Lake on Mt Kangabala

Dari Yamdrok Tse Lake, perjalanan kami lanjutkan menuju kota Gyantse.  Pelkhor Choede Monastery menjadi tujuan kami di kota ini. Bisa dikatakan perjalanan kami cukup menyenangkan sampai saat ini.

On the Way To Ghyantse

The Stupa, Pelkhor Choede Monastery, Gyantse

Kota Gyantse Dari Atas Stupa Pelkhor Choede Monastery

Kami hanya singgah sebentar dan langsung melanjutkan perjalanan ke kota Shigatse sebelum matahari terbenam. Aku tak tahu alasan Tenjin harus mengejar waktu. Mungkin dia tak mau kelaparan di jalan…:-). Kami bermalam di sebuah penginapan yang diusulkan oleh Ben. Makan malam kami sedikit “mewah” karena Jerry tak mau makan di tempat sembarangan. Maklumlah, dia orang Shanghai. Orang Shanghai memang punya standar yang lebih tinggi daripada orang-orang Cina daratan pada umumnya.

Psalm 23 (On The Way ke Shigatse)

Keesokan harinya, kami berangkat menuju Thasilumpo Monastery setelah sarapan pagi. Saat itu sedang ada upacara orang Budha Tibet sehingga pengunjung di Monastery ini sebagian besar adalah orang-orang Tibet dari berbagai kota di wilayah Tibet.

Tashilumpo Monastery

Kota Shigatse

Kota Lhatse menjadi tujuan kami selanjutnya. Tak ada yang kami kejar disini kecuali makan siang. Jarak ke kota tujuan kami selanjutnya, Baiba memang cukup jauh. Aku tak pernah menemukan kata Baiba dalam berbagai referensi. Aku hanya mendengar nama kota itu dari Tenjin. Menurut Tenjin kami akan tiba di Baiba menjelang malam. Di Lhatse, kami membeli makanan tambahan dalam perjalanan jika kami tak sempat mengejar makan malam di Baiba

Salah satu pemandangan dalam perjalanan menuju Lhatse

Kota Kecil Lhatse

Kami tiba di Baiba menjelang tengah malam, sekitar pukul 10:30 malam. Kota yang terletak di gurun Tibet ini sudah “shut down” ketika kami datang. Tak ada lagi restoran yang buka. Hostel tempat kami menginap juga tak menyediakan makan malam kecuali segelas susu panas. Aku pun keluar mencari warung yang mungkin masih buka. Kebetulan ada satu toko yang masih buka. Aku membeli dua bungkus mi instan dan beberapa batang coklat.

Kota Baiba

Baiba Diantara Deretan Pegunungan

Pagi-pagi sekali kami berangkat dari Baiba dan menuju Tingri dan singgah sebentar disana.  Langit kebetulan lagi cerah dan puncak Qomalongma (MT Everest dalam bahasa Tibet) pun bisa terlihat dengan jelas. Kami tentu saja tak menyia-nyiakan kesempatan untuk memotret puncak gunung yang megah ini.

Mt Everest Dari Tingri

Kami tak punya banyak waktu bernarsis ria di Tingri dan langsung melanjutkan perjalanan ke Rongbuk Monastery dan selanjutnya berjalan kaki ke Everest Base Camp. Aku mengalami insiden yang hampir membuatku tak sadarkan diri. Karena terlalu lelah dan kurang tidur, aku kena demam. Tapi, aku tetap memaksakan diri untuk berjalan sejauh 7 kilometer dari Rongbuk ke Everest Base Camp. Untung saja Vivian berhasil menyadarkanku.

Everest Base Camp di Kala Senja

Puncak Mount Everest Yang Mengintip Malu-Malu

Tak banyak yang bisa kulakukan karena kondisi fisikku yang sangat lemah. Aku hanya berbaring dan berusaha untuk tidur. Sialnya,  salju turun menjelang pagi dan tenda yang kami tak sanggup menahan salju yang mencair merembes masuk ke dalam tenda. Benar-benar malam yang melelahkan. Sampai pagi aku hanya terjaga karena tak bisa tidur. Penjaga tenda yang kelihatannya masih remaja sedikit ketakutan dam meminta maaf dengan sedikit memelas.

Ketiga anak remaja penjaga tenda

Terpuruk Diserang Demam Dan Mountain Sickness

Kondisi kami yang berantakan karena tak tidur semalaman dan kurang makan membuat Ben sedikit bijaksana dan tak berniat untuk berjalan kaki lagi turun ke Rongbuk. Kali ini kami menyewa dokar yang dikendarai oleh seorang perempuan setengah baya.

Naik Dokar Dari Everest Base Camp

Setelah Everest Base Camp, tujuan kami selanjutnya adalah Zhangmu, kota yang berbatasan langsung dengan Khodari di Nepal. Tenjin mengendarai jip hampir seharian dan hanya berhenti di sebuah restoran Tibet di sebuah lokasi yang jauh dari mana-mana. Aku memesan kembali memesan nasi goreng karena aku ingin membalaskan dendam setelah tak bisa memakan nasi goreng yang kupesan di Everest Base Camp. Ternyata, rasa nasi goreng di rumah makan ini sama tidak enaknya dengan nasi goreng versi tenda di Everest Base Camp. Aku hanya memaksakan diri saja makan supaya punya sedikit tenaga menuju Zhangmu.

Di Bawah Kaki Tiga Gunung (On The Way To Zhangmu)

Rangkaian Pegunungan Himalaya

Walaupun kecewa dengan makanan yang kumakan beberapa hari ini, namun aku cukup terpuaskan dalam hal ini. Rangkaian pegunungan Himalaya yang melintasi Tibet memang memberikan pemandangan`yang spektakuler sepanjang perjalananku. Tentnu saja aku tak mau merusak rasa puasku dengan dua piring nasi goreng ala Tibet yang rasanya amburadul…..:-p.

Teman-Teman Sejalan: Ben, Vivian, dan Jerry

Zhangmu, Kota Perbatasan China Dengan Nepal

Kami tiba di kota Zhangmu ketika matahari hampir terbenam. Kali ini kami memilih untuk tinggal di penginapan yang sedikit “fancy”. Maklum saja, kami sudah empat hari tidak mandi.  Kami juga berencana makan enak di sebuah restoran yang cukup terkenal di kota ini. Maklumlah, rumah-rumah makan yang kami singgahi setelah Gyantse menawarkan makanan yang rasanya tak terdefinisi oleh lidah kami. Sepertinya orang Tibet masih perlu belajar dari orang Cina dalam hal masakan.

Kota Zhangmu menjadi tujuan terakhir kami di Tibet sebelum menyeberang ke Nepal. Untukku sendiri, dengan tibanya aku di kota ini berarti penjelahanku menyusuri pegunungan Himalaya di Cina yang kumulai dari Yunan telah selesai. Dan petualangan baru di Nepal akan segera dimulai………

PS: Kisah perjalananku di Nepal telah lebih dahulu kutulis dengan judul: “Insiden Di Perbatasan Nepal-Tibet: “We Will Kill You!!!” dan “Eksotisme Kathmandu: Kuil, Ganja, Dan Peninggalan Para Hippie”

Seluruh cerita lengkap perjalananku dari Hanoi ke Kathmandu dari awal perjalanan di Hanoi sampai ke Kathmandu sesuai urutan:

  1. “Vietnam”
  2. “”Rampok” Penakut”
  3. “Pengalamanku Dengan Orang Hmong”
  4. “Yunnan Part 1: Kunming Dan Dali”
  5. “Keramahan Orang Bai di Yunnan”
  6. “Yunnan Part 2: Lijiang”
  7. “Yunnan Part 3: Qiaotou Dan Tiger Leaping Gorge”
  8. “Orang Naxi Dan Pemalakan di Tiger Leaping Gorge”
  9. “Shangrilla Dan Mencari Jalan Ke Tibet”
  10. “Tibet Dari Sisi Yang Indah”
  11. “Potala Di Mata Orang Tibet”
  12. “Insiden Di Perbatasan Nepal-Tibet: “We Will Kill You!!!””
  13. “Eksotisme Kathmandu: Kuil, Ganja, Dan Peninggalan Para Hippie……”

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi

COpyright Photo: Jhon Erickson Ginting