Dari Hanoi Ke Kathmandu: “Shangrilla Dan Mencari Jalan Ke Tibet”


Beda kota, beda pula teman traveling. Begitulah kira-kira yang terjadi denganku selama perjalanan di Cina. Kali ini Matt yang menemaniku menuju Shangrila, sebuah kota dulunya lebih dikenal dengan nama Zhongdian. Kami berdua naik bus paling akhir dari kota Qaiotou sekitar pukul 4:30 sore dan tiba di Shangrilla sekitar pukul 7 malam. Suasana kota sudah sepi saat itu. Aku dan Matt memutuskan naik taksi menuju penginapan yang direkomendasikan oleh Margo ketika kami bertemu dia di Tiger Leaping Gorge. Penginapan ini tak ada di dalam daftar buku panduan manapun. Aku memang lebih memilih para traveler kelas berat yang menjadi “buku panduan” setelah buku panduanku dirampas oleh petugas imigrasi Cina. Dan, kelihatannya aku baik-baik saja tanpa buku panduan.

Penginapan yang direkomendasikan Margo memang bagus, murah dan bersih. Penginapan murah paling bersih Se-Cina yang pernah aku tahu….:-p. Sayang, aku tak ingat nama penginapannya sehingga tak bisa kurekomendasikan dalam tulisanku ini.   Aku dan Matt memilih kamar dormitory seharga RMB 25 per malam.  Setelah chek in kamar, kami langsung mandi karena kami sudah dua hari tak mandi selama trekking di Tiger Leaping Gorge…:-p.

Kota Shangrilla

Mencari makan adalah rencana kami berikutnya. Tak ada yang lebih direkomendasikan oleh pemilik penginapan selain “Tibet Cafe”. Aku telah mendengar tentang restoran ini sejak dari Lijiang, ketika aku bertanya kepada seorang pemilik restoran di kota itu yang biasanya memfasilitasi perjalanan menuju Tibet dengan jip. Pemilik restoran di Lijiang bilang bahwa dia tidak melakukan perjalanan ke Tibet lagi dengan jip  karena beberapa kali jip mereka ditangkap oleh petugas keamanan Cina. Maklumlah, perjalanan dengan jip ini memang tidak mempunyai “pemit” ke Tibet dan sebisa mungkin menghindari petugas keamanan sepanjang perjalanan. Pemilik restoran ini menyuruhku untuk mencari seseorang di “Tibet Cafe” yang mungkin bisa memenuhi keinginanku untuk naik jip ke Tibet melalui Shangrilla.

Selain menikmati makan malamku di “Tibet Cafe”, aku juga bergerilya mencari informasi tentang perjalanan dengan jip menuju Tibet yang katanya bisa difasilitasi oleh kafe ini. Anehnya, semua orang menjawab “tidak tahu” termasuk manajer kafe. Aku tak tahu apa yang mereka rahasiakan.  Tak ada satupun yang mau memberiku informasi. Sebenarnya aku tak heran mereka melakukan “aksi diam”. Perjalanan dengan jip ke Tibet termasuk ilegal karena tak mempunyai permit. Sejak dulu, traveling ke Tibet lewat darat bukanlah perkara yang mudah. Traveler-traveler “hardcore” (baca: nekad) selalu kucing-kucingan dengan polisi untuk bisa masuk ke Tibet, sedangkan “turis” lebih memilih ikut group tour daripada mencari jalan sendiri ke Tibet karena lebih mudah dan tanpa resiko ditangkap polisi di jalan gara-gara tak ada “permit”.  Saat itu, satu-satunya perjalanan darat menuju Tibet yang diberi izin oleh pemerintah Cina adalah perjalanan naik bus melalui kota Golmud. Pemerintah Cina memfasilitasi perjalanan dari Golmud ke Tibet dengan bus khusus turis. Setiap penumpang yang naik bus khusus turis ini diberikan “permit” oleh pemerintah Cina. Tapi, yang sering terjadi traveler-traveler banyak yang “nyaru” naik bus-bus umum yang dengan resiko ditangkap polisi karena naik bus khusus turis ongkosnya mahal. Pilihan lain yang “aman” dari razia polisi adalah naik pesawat melalui Chengdu.  Masalahnya, kedua kota ini sangat jauh dari Shangrilla.

“Kantor Playboy” Di Shangrilla

Pagi hari di Shangrilla, aku dan Matt nongkrong di depan penginapan sehabis sarapan pagi. Beberapa traveler mendatangi penginapan kami dan mengajak trekking di sebuah sebuah danau tak jauh dari Shangrilla. Aku tak berminat ikut dengan mereka karena aku masih ingin mencari jalan ke Tibet lewat darat. Matt pergi dengan mereka. Aku pu berkeliling kota Shangrilla sendirian dan berusaha mencari informasi tentang perjalanan ke Tibet ke beberapa penginapan. Sayang, tak satupun dari traveler ataupun pemilik penginapan yang kutemui di kota ini bisa memberiku ide. Semuanya memilih kata “tidak tahu”. Kota Shangrilla sendiri tak begitu kunikmati karena tak banyak juga yang bisa dinikmati di kota ini. Jalan-jalan kota juga penuh debu karena pembangunan jalan dan infrastruktur yang cukup masif. Mungkin Pemerintah Cina berusaha menjadikan kota ini sebagai kota turis seperti Lijiang, Dali, dan Lhasa. Aku rasa pemerintah Cina sedikit terlalu cepat mengganti nama kota ini dari Zhongdian menjadi Shangrilla. Shangrilla berarti surga di bumi. Tapi, kota “Shangilla made in China” ini sama sekali tak mewakili arti tersebut…..:-p. Kawasan di sekitar kota Shangrilla lebih mewakili arti tersebut karena pemandangan alamnya sangat indah. Kota Shangrilla sendiri hanya menawarkan Old Town dan “Shongzillan Monastery” sebagai sesuatu yang bisa dinikmati, sedangkan tak jauh dari kota ada “Napa Lake” yang cocok untuk mencari udara segar.

Shongzalin-si Monastery

Menjelang malam setelah seharian keliling Shangrilla, aku kembali ke Tibet Cafe” untuk mencari peruntungan soal perjalanan ke Tibet. Hasilnya tak jauh berbeda dengan kemarin. Tak ada orang yang mau berbagi informasi sedikitpun. Aku pun kembali ke penginapan dengan rasa kesal. Kebetulan aku bertemu Matt. Dia juga lagi kesala karena tak jadi trekking dengan traveler-traveler Israel. Traveler-traveler Israel terlalu pelit soal ongkos sharing taxi. Bah…!!!

Napa Lake

Hari berganti lagi dan tak terasa sudah tiga hari aku berada di Shangrilla dalam pencarian jalan menuju Tibet. Aku hanya bermalas-malasan saja karena merasa menemukan jalan buntu, sedangkan Matt  sudah keluar dari kamar dari pagi karena dia punya janji lagi dengan traveler-traveler Israel. Aku sedang memikirkan apa rencanaku selanjutnya jika aku sampai gagal pergi Tibet. Mungkin aku akan pergi ke Utara Cina (kawasan Xinjiang) yang katanya juga menarik.  Tak punya ide mau kemana hari itu, aku baru keluar menjelang siang. Kebetulan, tak jauh dari penginapan ada sebuah  travel agent dan aku masuk kedalam.  Mungkin saja mereka punya ide untuk membawaku ke Tibet tanpa harus ikut group tour. Setelah ngobrol sana-sini dengan satu-satunya pegawai yang ada disitu, aku mendapat secercah harapan ketika dia bilang bisa mengurus “permit” ke Tibet jika aku pergi naik pesawat ke Lhasa. Aku tak pernah tahu bisa terbang ke Lhasa lewat Shangrilla sebelumnya. Walaupun ragu, aku mengiyakan saja dan membeli tiket pesawat ke Lhasa dari travel agent ini seharga $ 90, sudah termasuk “permit”. Dia berjanji akan membawakan tiket sekaligus permit satu jam sebelum pesawat terbang ke Lhasa. Aku tak punya pilihan lain selain percaya kepadanya…..

Gerbang Kota Tua Shangrilla

Aku lalu menghabiskan sisa hari dengan keliling kota Shangrilla. Sore harinya aku ikut menari bersama dengan penduduk kota yang sedang melakukan tarian massal di alun-alun kota. Menjelang malam aku menuju kota tua yang menjadi tempat nongkrong para traveler yang berkunjung ke Shangrilla. Aku membeli beberapa perlengkapan trekking di sebuah pasar rakyat dan melakukan beberapa pemotretan sebelum kembali menuju Tibet Cafe. Aku masih penasaran dengan perilaku orang-orang disana yang sangat tertutup soal perjalanan ke Tibet, seolah-olah perjalanan tersebut adalah sebuah perjalanan yang sangat rahasia. Tak disangka aku bertemu dengan Suzia, Rasmus, French dan Paul disana, teman-temanku di Lijiang dan Tiger Leaping Gorge. Aku juga bertemu Ben dan pacarnya Vivian. Kedua orang ini berpapasan denganku ketika trekking di Tiger Leaping Gorge.  Setelah ngobrol ngalor-ngidul sebentar dengan mereka, aku kembali ke misiku semula yaitu mencari info soal perjalanan ke Tibet.

Tarian Massal Sore Hari Di Alun-Alun Kota Shangrilla

Kunjunganku kali ini membuahkan hasil karena manajer restoran buka mulut juga soal  “perjalanan rahasia” ke Tibet tersebut. Dia menyuruhku untuk berbicara dengan supir jip yang sedang bercengkrama dengan beberapa traveler bule di luar. Aku sedikit penasaran kenapa dia baru mulut sekarang, tapi aku lebih tertarik ngobrol dengan supir jip daripada “menginterogasi” si manajer. Kusapa supir jip dengan senyuman paling sumringah dan tanpa basa-basi aku langsung bertanya soal “perjalanan rahasia ke Tibet” yang akan dia lakukan. Tak lupa aku bertanya apakah masih ada bangku kosong yang tersisa di jipnya. Supir jip hanya berkata bahwa aku terlambat  karena dia baru saja menjual “kursi terakhir” di jipnya kepada seorang traveler wanita dari Inggris. Aku pun hanya bisa tepok jidat. Terus terang, aku rela kehilangan uang tiket pesawat $90 demi sebuah perjalanan lewat darat “ilegal” ke Tibet karena akan terasa lebih menantang dan mendebarkan, apalagi  ada resiko “kucing-kucingan” dengan polisi Cina yang siap menangkap orang-orang yang masuk ke Tibet secara “ilegal”.

Supir jip menyuruhku menunggu beberapa hari lagi untuk perjalanan berikutnya, tapi aku tak punya waktu untuk menunggu. Di akhir obrolan, si supir berpesan supaya aku tak berbicara banyak kepada orang-orang di dalam kafe soal perjalanan yang akan dia lakukan, terutama soal harga “kursi terakhir” yang dia jual kepada traveler wanita Inggris. Aku mengiyakan saja perkataannya dan berlalu. Sebelum balik ke penginapan, aku pamit kepada teman-temanku yang masih nongkrong disana. Aku perlu mempersiapkan ranselku untuk perjalanan ke Tibet lewat udara yang pasti tak semenarik perjalan lewat darat…..:-p.

Sekitar pukul 6:30 pagi aku cabut dari penginapan. Aku mengucapkan selamat tinggal kepada Matt yang masih “tidur”. Sebuah taksi yang kupesan lewat udara mengatarku ke bandara. Tak disangka aku kembali bertemu Ben dan Vivian. Mereka juga punya maksud yang sama denganku, pergi ke Tibet lewat udara. Ketika aku tanya apakah mereka punya tiket, mereka bilang tiket mereka akan diantar pagi ini. Aku tersenyum mendengar jawaban Ben karena dia punya kasus yang sama, termakan janji “travel agent”……:-p.

Kami beritga menunggu sekitar hampir setengah jam dan sekitar 45 menit lagi pesawat akan terbang ke Lhasa. Orang yang berjanji membawa tiket dan “permit” ke Lhasa belum juga muncul. Kami  tentu saja mulai gelisah. Pas saat pintu check-in hampir ditutup, seorang laki-laki bertampang panik dengan tergopoh-gopoh mendatangi kami bertiga dan bertanya nama kami masing-masing dengan bahasa Inggris yang terbata-bata. Ketika kami mengiyakan, dia langsung membawa kami kepada petugas polisi yang berdiri pas di pintu masuk. Mereka lalau “kasak-kusuk dalam bahasa Mandarin. Si polisi diam saja dan hanya mengangguk-angguk kayak orang bego. Pengantar tiket kami kemudian menyuruh kami masuk dan melakukan check-in untuk kami bertiga. Ben sempat bertanya soal permit ke Tibet, tapi pengantar tiket kami hanya menunjukkan selembar kertas dalam tulisan kanji yang tak kami mengerti artinya. Anehnya, dia tak mau memberi kertas tersebut kepada kami. Karena tak ada waktu lagi untuk berdebat soal permit, kami pasrah saja dan langsung naik ke pesawat.

Selama dalam pesawat aku berpikir tentang perilaku pengantar tiket yang sedikit aneh. Aku menduga bahwa travel agent tak pernah mendapatkankan “permit” ke Tibet buat kami. Pengantar tiket sengaja datang terlambat dan juga tak mampu berbahasa Inggris dengan baik supaya kami tak punya kesempatan untuk bertanya. Sekarang aku hanya bisa berharap mudah-mudahan kami tidak dihadang oleh polisi Cina ketika tiba di Lhasa gara-gara “permit” yang tak pernah kami terima. Permit ke Tibet memang sebuah misteri………:-p.

Copyright: Jhon Ercikson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi

Copyright Photo: Jhon Erickson Ginting

About these ads