Dari Hanoi Ke Kathmandu Dalam Gambar: “Yunnan” (Part 2, Lijiang)
Tiga hari nongkrong di Dali, aku lalu berangkat menuju Lijiang dengan bus yang paling pagi. Di dalam bus aku bertemu dengan traveler Amerika, seorang mahasiswa bernama Daniel. Ngobrol sana-sini, sepakatlah kami jalan bareng. Bus kami tiba di Lijiang sekitar pukul 3 sore. Aku dan Daniel menginap di YMCA guesthouse di kawasan kota tua Lijiang. Baru beberapa menit meletakkan ransel, Daniel mengajakku keluar dan mendaki sebuah bukit yang terletak di dalam kawasan Taman Black Dragon Pool.
Hujan deras menyambut kami ketika kembali pulang penginapanan. Teman-teman Daniel di Dali sudah pada ngumpul di YMCA guesthouse. Aku pun berkenalan dengan Rasmus dan pacarnya French dari Swedia, Peter dan pacarnya Suzia yang bisa berbahasa Indonesia dari Australia.
Keesokan harinya, aku, Daniel, dan Suzia bersepeda menuju Desa Basha, Kampung orang Naxi yang berjarak sekitar 18 km dari Lijiang. Di perjalanan, kami bertemu Matthew dan Simon dari Inggris yang juga bersepeda. Perkenalan dilanjutkan engan acara bersepeda bareng karena tujuan kami sama, Desa Basha.
Di Desa Basha, ada seorang dokter terkenal bernama Dokter Ho. Dokter Ho terkenal berkat andil Michael Palin yang menjelajahi Himalaya untuk penerbitan bukunya yang berjudul “Himalaya”. Dokter Ho adalah dokter yang sangat antusias dengan pengobatan tradisional dan selalu berusaha menarik wisatawan yang datang ke kampungnya untuk “diceramahi”, tak terkecuali kami. Daniel dan Mathew yang kuliah di kedokteran sama antusiasnya dengan Dokter Ho, sedangkan yang lain hanya manggut-manggut saja pura-pura ngerti…:-p.
Puas nongkrong di Desa Basha, kelompok sepeda ceria kami menjelajahi kawasan perbukitan yang tak jauh dari desa tersebut. Daniel yang membawa buku Lonely Planet punya ide untuk mencari reruntuhan kuil Budha yang katanya tersembunyi di balik bukit. Karena tak satupun dari kami yang tahu persisnya dimana lokasi dari reruntuhan kuil tersebut, kami sempat di tengah persawahan walaupun akhirnya kami bisa menemukannya dengan sedikit “kerja keras”. ”Perjuangan” kami mencari reruntuhan kuil terbayar oleh pemandangan indah dari atas bukit .
Sepulang dari Desa Basha, kami menghabiskan waktu di Restoran Adam di salah satu sudut kota tua Lijiang. Adam, pemilik restoran adalah seorang yang unik. Restorannya sendiri tak tampak seperti restoran dan lebih mirip lokasi “uji nyali karena penuh dengan barang-barang antik. Daftar menu juga tidak ada. Dia hanya memasak makanan yang dia mau masak dan pengunjung menikmati. Kalau tidak suka ya jangan dimakan. Aku lupa berapa bayaran per orang yang diminta Adam, tapi berkisar RMB 50 per orang.
Malam terakhir di Lijiang kulalui dengan melakukan pemotretan malam, tapi sepertinya aku harus belajar lebih banyak lagi. Pemotretan malamku di kota tua seindah Lijiang bisa dibilang gagal total…..:-p. Aku hanya berani menaruh 1 foto saja dari pemotretan malamku yang gagal yaitu, lampion-lampion di salah satu restoran di sudut kota tua tersebut
Copyright: Jhon Erickson Ginting
Copyright Photo: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi











