Insiden di Perbatasan Nepal-Tibet: “We Will Kill You!!!”


Sekitar enam tahun yang lalu, aku melakukan perjalanan dari Lhasa di Tibet menuju Kathmandu, Nepal bersama tiga orang temanku Jerry, Ben dan pacarnya Vivian. Kami menyeberang ke Nepal melalui perbatasan Zhangmu (Tibet)-Kodari setelah perjalanan lima hari dari Lhasa, Tibet. Saa itu Nepal berada pada akhir masa perang sipil.  Selama lima perjalananku dengan jip menyusuri Tibet sampai ke perbatasan Nepal, ada satu hal yang sangat mengganggu, yaitu perdebatan Ben dan Vivian yang tiada habisnya. Tak pernah seharipun dari perjalanan kami tanpa mendengar perdebatan pasangan ini. Ada saja yang mereka perdebatkan, mulai dari politik Amerika sampai filsafat. Terus terang, aku tak bisa membayangkan perjalanan seperti apa yang mereka alami selama 4 bulan menjelajahi Asia seperti pengakuan Ben. Satu hal yang pasti, perjalanan mereka pasti penuh dengan perdebatan sengit. …..:-p.

Ben dan Vivian adalah “pasangan top”. Aku katakan seperti itu karena Ben lulusan MBA dari Universitas Stanford, sedangkan Vivian adalah lulusan Berkeley. Mereka mungkin punya masalah “superior complex” sehingga tak satupun mau mengalah. Jerry, lulusan University of Shanghai yang cukup prestitius di Cina pun hanya diam saja mendengar perdebatan mereka, apalagi aku yang cuma lulusan ITB..:-p

Aku, Ben, dan Vivian di perbatasan Nepal…

Aku dan Jerry tak pernah mencampuri perdebatan Ben dan Vivian. Kami hanya diam dan tak pernah berkomentar sepatah katapun. Mereka berdua juga tak pernah meminta pendapat kepada kami.  Aku dan Jerry hanya memaklumi saja perdebatan mereka walaupun sangat merusak suasana, terutama ketika kami berusaha menikmati suasana pedalaman Tibet yang sangat tenang dan sepi. Mungkin beginilah jadinya jika orang Amerika keturunan Yahudi seperti Ben berpacaran dengan Vivian yang  keturunan Cina. Aku tak tahu apa jadinya kalau mereka menikah. Mungkin setiap hari rumah tangga mereka akan diisi oleh perdebatan.

Mobil jip yang kami sewa di Lhasa hanya bisa mengantar kami sampai kota perbatasan China, Zhangmu. Kami berempat pun menyeberang ke kota perbatasan Nepal, Kodari dengan berjalan kaki. Di kota ini kami harus mencari transportasi menuju Kathmandu yang berjarak sekitar 4 sampai 5 jam perjalanan dengan mobil.

Kodari sangat berbeda dengan kota Zhangmu baik  dari segi infrastruktur dan keamanan. Kami harus melupakan segala kenyamanan perjalanan kami selama berada satu malam di Zhangmu yang nyaris tanpa gangguan. Di Kodari, kami tak akan mendapat “kemewahan” tersebut. Begitu keluar dari pintu kantor imigrasi, kami langsung disambut oleh “kaum oportunis” terutama calo-calo yang ingin mendapatkan keuntungan besar dari turis. Sebagian besar dari mereka menawarkan penyewaan mobil ke Kathmandu, tentunya dengan harga yang di-mark up sampai 50%. . Harga sewa mobil ke Kathmandu yang seharusnya 4000 Rupee Nepal di-upgrade menjadi 6000 Rupee.

Ben, sebagai lulusan salah satu sekolah bisnis terbaik di muka bumi ini tentunya merasa yakin dengan kemampuannya berdebat dan tawar menawar dengan para calo. Tanpa diminta pun, dia langsung mengajukan diri menjadi “jurubicara” kami dalam urusan tawar-menawar harga sewa mobil. Sebagai orang yang beberapa hari ini mendengar perdebatan Ben dengan pacarnya Vivian, aku tentu sedikitpun tidak meragukan kemampuannya dalam hal ini. Jerry pun tidak berkata apa-apa dan hanya bersikap pasif saja. Aku, Vivian, dan Jerry  pun membiarkan Ben bernegosiasi dengan para calo dan menunggu di salah satu pojok bangunan imigrasi Nepal. Baru 10 menit berlalu, tiba-tiba aku mendengar makian yang sangat kasar dari arah tempat Ben bernegosiasi.

“Fuck you tourist!! Fuck you!!!”

Sudut mataku langsung mengarah kepada Ben. Aku bisa melihat dia sedang berusaha menenangkan  calo yang barusan saja memaki-makinya dengan kasar. Aku tidak tahu kenapa Ben bisa gagal dengan negosiasi ala Stanford-nya. Karena khawatir terjadi sesuatu, aku langsung mendekati Ben dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Ben dengan gugup menjelaskan duduk persoalannya kepadaku. Kelihatannya si calo memang sengaja memprovokasi karena menurut Ben, dia “bernegosiasi dengan cara yang sopan”.

Teriakan-teriakan si calo langsung memancing orang-orang yang ada disitu dan dalam sekejap mereka telah mengerumuni aku dan Ben. Insting-ku pun langsung mencium bahaya yang sedang mengintai kami. Tanpa pikir panjang, aku keluar dari kerumunan dan langsung mencari mobil yang mungkin bisa disewa sesegera mungkin. Kalau kami tidak segera pergi dari tempat ini, kerumunan massa bisa semakin beringas karena terprovokasi oleh si calo yang terus teriak memaki-maki.

Tuhan itu memang baik adannya. Di tengah suasana yang serba panas itu, tiba-tiba ada orang  yang berlari dari arah jalan raya dan menawarkan sewa mobil dengan harga 4000 Rupee kepadaku. Tanpa berpikir lebih lama, aku langsung saja setuju dengan tawarannya karena harga normal sewa mobil dari Kodari ke Kathmandu memang segitu. Aku pun menyuruh Vivian dan Jerry untuk segera masuk kedalam mobil. Jerry sempat bengong seperti orang bego karena mungkin tak terbiasa dengan situasi yang anarkis. Aku harus memberi dia sedikit “sentuhan” kepadanya supaya dia segera masuk kedalam mobil.

Setelah memastikan Vivian dan Jerry aman berada di dalam mobil, aku langsung berlari menuju Ben dan menariknya keluar dari kerumunan. Saat itu bukan hanya si calo yang berteriak, tetapi beberapa orang dari kerumunan massa. Teriakan mereka pun sudah sangat mengancam.

“Fuck you American!!! We will kill you!!! Fuck you tourist!!” teriak beberapa orang dari kerumunan massa berkali-kali.

Ben, seperti orang Amerika lainnya yang selalu merasa superior tak mau merasa kalah. Dia masih berusaha untuk menenangkan massa ketika aku menariknya keluar dari kerumunan. Bah….dia tidak tahu kalau sudah teriak-teriak begini, aturan jalanan yang berlaku bukan lagi negosiasi ala Stanford…:-p. Aku terus menariknya keluar, tetapi dia tetap tidak mau ikut denganku ke mobil. Dia baru mau menuruti kata-kataku setelah kuancam akan memukulinya  jika dia tetap tak mau ikut denganku ke mobil. Aku terpaksa memberi sedikit ancaman karena aku  tak mau dia mati dipukuli orang banyak.

Dengan setengah berlari kami menuju mobil yang sudah bersiap-siap tancap gas. Massa masih terus berteriak-teriak mengancam, tetapi tak ada yang berani memulai pemukulan. Mungkin perlu beberapa menit lagi bagi mereka untuk benar-benar kalap dan memukuli kami jadi “lemper”. Sayang keinginan orang-orang Nepal yang marah itu sepertinya tidak akan tercapai karena kami berhasil masuk kedalam mobil dan  langsung meninggalkan lokasi tanpa insiden.

Di dalam mobil, Ben masih berusaha membela diri ketika. Walaupun hampir saja dipukuli orang satu kampung, dia masih saja merasa mampu menenangkan massa yang marah tadi dengan kemampuan negosiasi ala Stanford-nya.

Tak mau mendengar dia ngoceh lebih banyak, aku langsung saja teriak, “Ben! Shut the fuck up, dude!”

Tak ada balasan dari Ben setelah mendengar teriakanku. Sepertinya dia memilih untuk berhenti mengoceh. Vivian juga diam saja dan tak berusaha membela pacarnya. Dia mungkin masih shock dengan kejadian barusan. Keduannya tak banyak bicara sepanjang perjalanan kami ke Kathmandu. Perjalanan jadi terasa lebih menyenangkan tanpa suara bising ocehan mereka…….:-p.

Cerita tentang Nepal lainnya kutulis di:

Eksotisme Kathmandu

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi
Copyright Photo: Jhon Erickson Ginting

About these ads