Siem Reap Dan Angkor Wat…..Dulu Dan Sekarang


Tujuh tahun lalu, aku mengunjungi Siem Reap untuk pertama kalinya bersama seorang traveler Korea bernama “Jason”.  Aku bertemu dia  di Khaosan Road, Bangkok dan sepakat untuk jalan bareng ke Siem Reap. Kami menyeberang ke Kamboja melalui Aranyapathet dengan bus rongsokaan dan melanjutkan perjalanan ke Siem Reap dengan bus yang jauh lebih rongsok dari sebelumnya…..:-p.  Tujuan kami hanya satu, ingin melihat Angkor Wat yang megah itu. Siem Reap saat itu tak lebih dari sebuah kampung yang sedang berkembang pesat. Sebagian besar jalan masih jalan tanah yang tak beraspal. Karena kelangkaan listrik, sebagian besar Siem Reap juga masih gelap-gulita di waktu malam. Hanya ada satu-dua diskotek yang terbuat dari bangunan semi permanen yang memberi sedikit cahaya dengan lampu warna-warninya. Bisa dikatakan, Siem Reap saat itu bukanlah sebuah tempat yang menjadi tujuan utama turis. Sebagian besar orang yang datang kesini adalah traveler yang menganggap Siem Reap dan Angkor Wat masih sebagai tujuan yang eksotis……..

Lima setengah tahun kemudian, aku kembali ke Siem Reap. Kali ini aku tak pergi dengan seorang traveler, tetapi istriku sendiri. Yup, aku baru saja menikah ketika aku mengajaknya ke Siem Reap sebagai salah satu tujuan dari perjalanan Indocina kami. Siem Reap yang sekarang bukanlah Siem Reap yang kukenal tujuh tahun lalu. Kota ini sudah banyak berubah. Jalan-jalan yang dulunya sebagaian besar hanya jalan tanah sekarang telah berubah menjadi jalan beraspal. Di sisi kiri dan kanan jalan juga telah dipenuhi dengan hotel, ruko, perumahan mewah dan berbagai fasilitas bisnis. Rumah-rumah penduduk juga sebagian besar telah terbuat dari bangunan yang lebih permanen, menggantikan rumah-rumah kayu. Siem Reap telah bermorfosis menjadi sebuah kota dan tak lagi gelap-gulita di waktu malam……

Supir Tuk-Tuk- 6 tahun lalu

Supir tuk-tukku di perjalanan keduaku

Salah satu perubahan yang paling tak kuharapkan dari Siem Reap adalah perubahan harga-harga. Sayang, hukum ekonomi rupanya tak mengecualikan Siem Reap. Harga-harga di kota ini puncak meluncur seperti roket. Harga sewa tuk-tuk untuk perjalanan keliling kompleks Angkor yang dulunya hanya 7 dollar, sekarang naik menjadi 12 dollar. Pemilik warung makanan juga  di kompleks Angkor Wat juga tak mau kalah. Dulu, aku masih ingat harga sepiring nasi goreng cuma 1.5 dollar. Itu pun masih ditawar menjadi 1 dollar oleh teman Koreaku. Sekarang, harga nasi goreng naik menjadi 3.5 dollar. Gila-gilaan naiknya. Tak masalah bayar mahal kalau nasi gorengnya enak. Sudah mahal, rasanya juga tak jelas pulak….:-p

Angkor Wat

Angkor Wat yang  semakin popular menjadikan situs ini tak lagi hanya sekedar tempat “kongkow-kongkow” turis gembel. Tempat ini menjadi salah satu tujuan turis yang paling utama di Kamboja.  Kawasan yang tadinya aman tentram kini dipenuhi oleh bus-bus turis. Tujuh tahun yang lalu, bus turis sangat jarang terlihat. Padahal, aku berada disana saat puncak musim turis saat itu (sekitar bulan April).  Ketika aku datang kembali kesini bersama istriku di awal Desember yang termasuk musim sepi turis, Angkor sudah sangat padat dengan bus-bus turis. Gimana kalau kami datang kesini pada saat puncak kedatangan turis?

Ada satu hal yang ingin kulakukan ketika aku mengunjungi Angkor Wat, memanjat kuil ini sampai ke puncak.  Menikmati udara sore hari dari atas puncak Angkor sudah menjadi ritual yang biasa dilakukan oleh para traveler yang berkunjung kesini. Tujuh tahun yang lalu, aku bersama Kwan dan beberapa traveler bule dari berbagai negara berlomba memanjat sampai ke puncak Angkor.  Sayang, rencana memanjat puncak Angkor bersama istriku tak bisa kulakukan karena semua akses menuju puncak telah dipagari dan diberi papan pengumuman yang intinya melarang setiap pengunjung menaiki puncak Angkor. Rupanya, tak hanya soal harga yang berubah di Angkor Wat,  aturan juga berubah…..:-p.

Tangga ini Menuju Puncak Angkor Watt Dan Sekarang DItutup..

Pemagaran tak hanya terjadi di Angkor Watt, Banyon tempel yang terkenal dengan pepohonan yang tumbuh diantara tembok-tembok kuil juga turut menjadi “korban pemagaran”.  Pemagaran ini sangat tak jelas esensinya dan sangat merusak estetika. Semua jadi kelihatan tidak alami. Salah satu lokasi yang dipagari adalah pintu kuil yang dikelilingi oleh akar pohon yang membelah dinding kuil. Parahnya, tempat ini menjadi tempat favorit turis-turis dari Asia yang sebagian besar adalah ibu-ibu untuk “bernarsis ria”. Semua travel agen di Kamboja sepertinya mewajibkan tempat ini sebagai tempat “narsis”. Antrian super panjang pengunjung kuil yang mau foto-foto dan juga suasana kuil yang sudah tak alami lagi membuat aku dan istriku membatalkan niat untuk “bernarsis ria” disini.  Tujuh tahun yang lalu, hampir tak ada orang  yang datang kesini. Aku dan “Jason” bisa bernarsis ria sepuas mungkin sampai “nungging-nungging”……:-p.

Tak bakalan ada lagi yang bisa “narsis” seperti ini…..:-p

Tak semuanya berubah di Angkor Wat dan Siem Reap. Salah satunya adalah  “wan dala kids”, anak-anak kecil berumur 5-10 tahun yang berkeliaran meminta uang satu dollar kepada setiap turis yang lewat. Mereka masih ada disana “membujuk” para turis untuk memberi uang dengan “keahlian berbahasa yang mereka punya. Anak-anak ini memang belajar berbagai bahasa dari sebuah kursus gratis yang didirikan oleh traveler-traveler yang singgah di Siem Reap. Karena traveler-traveler ini berasal dari berbagai bangsa, anak-anak inipun belajar beragam bahasa sehingga mereka meminta uang dengan berbagai macam bahasa terutama Inggris, Perancis, Jerman, dan Spanyol. Tak selamanya anak-anak “wan dala” ini meminta uang. Mereka juga suka membantu, tentunya dengan sedikit “imbalan”. Dulu, saat lokasi “The Four faces” yang terkenal dalam film “Lara Croft  The Tomb Rider” masih dipenuhi semak belukar, anak-anak inilah yang menunjukkan jalan kesana kepada aku dan “Jason”.  Mereka tak meminta uang satu dollar kepadaku, tetapi yang rupiah. Mereka bilang untuk koleksi. Dengan senang hati, akupun membagi uang 1000-an yang kupunya kepada mereka.

Korban Ranjau Yang Masih Terus Menghibur Para Turis

Satu hal lagi yang tak berubah di Angkor Wat adalah kehadiran grup musik tradisional Khmer yang pemain-pemainnya adalah korban-korban ranjau darat. Mereka masih terus setia menghibur para turis dan traveler dengan musik yang mereka mainkan. Kelompok-kelomok pemusik tradisional Khmer ini  dengan mudah dijumpai di setiap jalan masuk menuju kuil-kuil yang ramai dikunjungi turis seperti Bantey Srei, Banyon, dan lain-lain. Aku berharap mereka masih tetap memainkan musik Khmer di tahun-tahun mendatang dan tidak menggantikannya dengan musik Rock……..:-p.

Cerita Perjalananku lainnya di Kamboja:

Orang Kanada Yang Sinting

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi
Copyright Photo: Jhon Erickson Ginting

About these ads