Macau, Sebuah Wisata Kota…………”Yang Membosankan”


Suatu hari sekitar 6 tahun yang lalu aku memanfaatkan jalur baru yang dibuka oleh Air Asia ke Macau melalui Kuala Lumpur.  Aku masih tinggal di KL saat itu. Sebenarnya tujuanku bukan ke Macau tetapi Hongkong. Aku hanya mau ngopi-ngopi di Hongkong dan sekedar melepas stress kerja. Bolehlah sekali-kali pergi ke kota yang modern dan tak melulu pergi ke negara-negara konflik dan miskin yang memicu adrenalin. Tiba di Macau, aku tidur di bandara karena jadwal aneh Air Asia yang sedikit tidak masuk akal bagiku. Pesawat tujuan Macau dari KL berangkat pulul 10:30 malam saat itu. Sedangkan waktu terbang dari KL ke Macau sekitar 3.5-4 jam. Tentu saja aku tiba di Macau sekitar pukul 2 malam. Tak ada pilihan lain kecuali mencari sudut sepi dan tidur di bandara (PS: bagiku tidur di bandara dan emperan bukan petualangan yang luar biasa….Sumpah itu biasa banget!!!). Sekitar pukul 6 pagi aku pergi ke pelabuhan ferry dan berangkat ke Hongkong karena tujuanku memang kesana.

Dua hari di Hongkong dengan pengalaman yang sedikit romantis (hueek…), aku balik ke Macau dengan ferry. Aku ingin keliling beberapa jam di kota ini sebelum aku balik ke KL. Perjalananku kali ini tak ada bedanya dengan perjalanan turis-turis yang cuma lihat-lihat tempat wisata. Aku memang belum pernah melakukan wisata kota seperti ini sebelumnya. Hongkong, walaupun sebuah kota besar tak membuat perjalananku disana hanya untuk melihat-lihat kota. Interaksi sosial yang selalu kulakukan dalam setiap perjalanan lebih mendominasi daripada pergi ke tempat-tempat wisata. Di Macau, karena hanya punya beberapa jam, aku tak mungkin berinteraksi secara sosial. Aku hanya akan melihat “tempat-tempat menarik” saja disana.

Macau Tower

Dari pelabuhan ferry, aku naik bus menuju pusat kota. Terus terang aku bingung sekali mau kemana di Macau. Tak ada tujuan dan tempat yang terlalu menarik bagiku di Macau kecuali gedung-gedung kasino yang super gede dengan hiasan yang sedikit kampungan dan berlebihan…:-p. Aku mondar-mandir keliling kota dan bertemu dengan beberapa TKW Indonesia disana yang juga kelihatan bingung. Mungkin mereka sama bingungnya dengan aku. Buku panduan yang saat itu masih menjadi pedoman dalam perjalananku kubuka untuk menentukan tujuan. Macau Tower adalah yang pertama. Aku hanya mengambil foto dan tak berniat naik keatasnya.

Gereja St. Paul

Sebuah Patung Di Praca Louis De Camoes


Aku berjalan kaki ke reruntuhan gereja St. Paul yang menjadi salah satu landmark Macau yang paling terkenal setelah mengambil foto Macau Tower. Aku sudah seperti turis-turis Jepang dan Korea yang suka pergi ke berbagai negara cuma untuk foto-foto..:-p. Di gereja St. Paul sudah banyak orang berkumpul. Backpacker, turis asing, dan lokal serta pedagang asongan tumplek disini. Sepertinya Gereja St. Paul adalah landscape yang paling monumental dan bersejarah sehingga menjadi tujuan utama turis. Mungkin juga letaknya yang tak jauh dari tempat nongkrong dan shopping di Rua da Felicidade membuat gereja ini ramai dikunjungi. Bagiku, aku tak melihat reruntuhan gereja ini menarik sama sekali. Terus terang, perjalanan menjadi sangat membosankan tetapi jadwal penerbanganku masih lama. Aku tak punya pilihan selain keliling Macau. Beruntung tujuanku berikutnya, Fortaleza De Monte menaikkan sedikit semangatku. Aku bisa sedikit mengambil beberapa foto yang menarik dari benteng ini. Fortaleza De Monte adalah tempat wisata kedua yang paling ramai dan dengan pemandangan laut yang cukup indah. Benteng ini terletak di sebuah bukit dekat tepi laut dengan pemandangan pelabuhan Macau. Katanya benteng ini strategis sekali untuk mendeteksi dan melumpuhkan kapal musuh yang berusaha mendekati Macau.

Meriam Di Fortaleza De Monte

Tujuanku berikutnya adalah sebuah mercuar dimana di dekat mercuar dibangun sebuah chapel, Guia Chapel namanya. Guia chapel yang terletak di sebuah bukit diperuntukkan untuk para tentara portugis yang menjaga mercu suar.  Hanya ada beberapa orang turis lokal nongkrong di tempat ini. Itupun mereka lebih memilih untuk duduk-duduk di taman yang tertelak dibawah mercusuar. Aku sudah pada tingkat kebosananku yang paling tinggi karena aku tak terbiasa dengan wisata kota apalagi aku hanya sendirian disini. Walaupun begitu, aku juga tidak mau melewatkan tempat wisata terakhir di Macau, Avenida De Praia yang terletak di Pulau Taipa.

Macau City From Fortaleza De Monte

Bus yang kutumpangi ke Pulau Taipa hanya terisi beberapa penumpang. Aku menjadi benar-benar merasa berada di sebuah pulau sunyi tak berpenghuni….:-p. Dari pemberhentian terakhir aku berjalan kaki menuju Avenida De Praia. Tak ada hal yang istimewa disini kecuali beberapa bangunan tua peninggalan Portugis dan sebuah taman dengan patung penyair Portugis yang terkenal, Louis De Camoes. Aku berhenti sejenak dan duduk di sebuah kursi taman menikmati semilir sebelum pergi menuju bandara. Aku baru saja menyadari bahwa aku bisa survive juga dari sebuah wisata kota yang sangat membosankan…….:-p.

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi
Copyright Photo: Jhon Erickson Ginting

About these ads