Pelacuran di Berbagai Belahan Dunia


Perjalananku ke berbagai negara yang tidak popular tak pelak lagi membuatku bersentuhan dengan hal-hal yang sedikit ekstrim dan tabu termasuk pelacuran. Aku sebenarnya agak sungkan menulis soal pelacur ini tapi itung-itung untuk mengangkat kampanye CNN “Real Men Don’t Buy Girls”, tak ada salahnya aku menulis sedikit soal ini. Terus terang aku paling tidak setuju dengan profesi yang sangat merendahkan martabat manusia ini tetapi begitu banyak alasan yang bisa dibuat untuk “membenarkan” seseorang melakukan pelacuran.

Pertama kali bersentuhan dengan dunia ini dalam perjalananku ketika aku berada di Bangkok yang sudah sangat umum terjadi disana. Supir tuk-tuk pasti selalu menawarkan berbagai macam iklan soal ini. Tak ada bedanya ketika aku di Kamboja walaupun para supir tuk-tuk menawarkannya dengan malu-malu. Aku tidak pernah memakan tawaran mereka karena pada prinsipnya aku memang tidak mau menyewa pelacur. Walaupun bukan orang yang suci-suci amat, tetapi menikmati pelacuran bukanlah gayaku.

Di Malaysia, tempat aku tinggal selama dua tahun pelacuran biasanya dipromosikan oleh para supir taxi yang mencari tambahan. Hal ini mirip dengan di Indonesia dimana banyak supir taxi yang nyambi juga jadi makelar. Ada sedikit yang membuatku malu dengan teman-teman Malaysiaku ketika mereka menyebut banyak wanita pelacur disana dari Indonesia. Aku sendiri pernah bertemu dengan wanita-wanita pelacur asal Indonesia ini ketika aku nongkrong di bar dengan teman-teman Malaysiaku.

Pelacuran adalah salah satu profesi tertua di dunia sehingga tak ada negara tanpa pelacuran walaupun negara seketat Saudi sana. Teman-temanku dari dunia perminyakan yang pernah bekerja disana yang memberitahuku soal ini. Pelacuran identik dengan kemiskinan dan tak pelak lagi di negara-negara miskin menjadi pelacuran adalah pilihan yang paling masuk akal. Tetapi, ada juga pelacur kelas tinggi yang mencari kemewahan. Contoh yang paling nyata soal pelacur mewah ini yang kutemui adalah di Dahab dan Sharm Ek Sheir Mesir. Beberapa teman orang lokal menawariku pelacur-pelacur Rusia yang punya koneksi dengan mereka. Aku menampiknya sambil bercanda bahwa uangku hanya cukup untuk makan doang. Tak cukup punya uang untuk membayar pelacur Rusia super mahal….:-p.

Ketika tinggal di Ankara, temanku orang lokal memberitahuku soal pelacuran disana. Tak berbeda dengan di Indonesia, ada yang kelas kakap dan kelas kambing. Kelas kambingnya berada di sebuah kawasan kumuh di Ankara. Aku sempat berniat melakukan sedikit petualangan di tempat ini tetapi temanku melarang karena kemungkinan besar aku tidak akan bisa keluar hidup-hidup. Menurutnya untuk orang Turki saja kawasan itu sangat berbahaya apalagi untuk orang asing.

Pelacuran di China aku temukan secara tak sengaja ketika aku sedang mencari restoran untuk makan malam di Kunming. Daripada harus keluar ongkos naik bus, aku memilih jalan kaki ke kawasan restoran murah yang dekat dengan terminal bus. Aku melewati sebuah jalan gelap yang sepi sebelum ke terminal. Tiba-tiba aku dipanggil oleh seseorang dari dalam kegelapan. Aku pikir orang ini mau menodong, eh nggak taunya nawarin cewek. Bah, aku pun langsung cabut dari situ.

Pengalaman yang sedikit lucu terjadi dengan teman Koreaku bernama Kwan di Amman, Yordania. Ketika itu dia mau massage di sebuah spa disana. Tak ada pikiran aneh-aneh di kepala Kwan karena dia memang mau massage. Pemijatnya berasal dari daratan China sana. Urusan pijat selesai tetapi si pemijat memohon kepada Kwan untuk berhubungan sex dengannya. Karena kalau dia tidak “ memberikan servis” kepada Kwan, dia tidak akan punya uang cukup untuk hidup. Kwan bukanlah orang yang naïf soal sex tetapi dia juga punya prinsip tidak mau membeli sex. Kwan menolak secara halus tetapi si cewek pemijat tetap ngotot menyosorkan kepalanya ke selangkangan Kwan untuk melakukan oral sex. Kwan yang melihat si cewek mulai kalap langsung lompat dari tempat pijatnya. Sepertinya si cewek pemijat benar-benar berharap Kwan memakai “jasanya”. Mungkin keadaan yang sangat sulit membuat si wanita pemijat seperti itu. Bukan hanya wanita pemijat asal China ini saja yang “menjual jasa” di Amman. Seorang polisi di Amman malah menunjukkan kepada kami sebuah kawasan yang dihuni oleh cewek-cewek Rusia. Katanya untuk perbandingan…:-p.

Pelacuran yang paling memprihatikan menurutku terjadi kota-kota Afrika sana. Hampir dipastikan di setiap bar yang aku masuki, pasti ada pelacur disana. Prostitusi memang berkembang biak dengan pesat di kota-kota Afrika ini. Tak ada tempat aman hanya sekedar untuk minum karena para pelacur ini pasti datang mengganggu. Tak perlu memaki dan marah terhadap mereka. Aku berusaha selalu menolak secara halus dan tegas sambil pasang muka sewot. Disini pelacur menawarkan harga yang berbeda berdasarkan pemakaian kondom atau tidak. Kalau pakai kondom harganya lebih murah sedangkan tidak pakai kondom harganya lebih mahal. Gila aja!!!! Para pelacur disini dijamin 99% kena AID’s.

 Ada sebuah pemandangan yang menarik perhatianku ketika suatu saat aku nongkrong di lantai dua Q Bar di Dar Es Salaam sana. Aku memperhatikan seorang bule dan seorang pelacur lokal menawarkan diri untuk duduk satu meja dengan si bule. Si bule mengiyakan saja. Si wanita pelacur tidak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung memesan makanan. Tentunya bill makanan akan ditanggung si bule. Aku sampai tak sampai hati melihat wanita pelacur itu makan. Dia makan dengan sangat lahap seperti orang yang tidak makan berhari-hari. Mungkin dia sepi dari klien beberapa hari ini. Si bule hanya menatap “wanitanya” dengan tatapan yang sama ibanya dengan tatapanku. Pasti dia juga tidak sampai hati melihat wanita ini makan dengan kalapnya. Persaingan pelacur di kota Dar memang sangat ketat. Setiap wanita pelacur berusaha mati-matian untuk mendapatkan. klien hanya sekedar untuk menyambung hidup. Para pelacur bisa saling cakar memperbutkan klien dan itu terjadi di bar. Biasanya yang berantem di bar itu cowok, nah kalau bar di Dar Es Salaam yang berantem itu wanita…:-p.

Pelacur juga seperti manusia lainnya perlu makan dan minum. Mungkin sebagian dari mereka hanya berusaha bertahan hidup walaupun tak sedikit yang punya alasan lain yang bisa bikin geleng-geleng kepala kalau mendengarnya. Tak perlu menghakimi mereka. Mungkin untuk para laki-laki yang biasanya “memakai jasa” mereka, setidaknya bisa sedikit berpikir sejenak dan menahan diri sambil bertanya dalam hati, “Does real man buy girls?”

Sisi Gelap Dalam Perjalananku Lainnya:

Petualangan Sex Para Traveler

Teler…..Cara Lain Menikmati Traveling

Kisah Seram Tentang Orang Albino Di Tanzania

TKW….Sebuah Ironi Yang Lain

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi dan Teman Seperjalanan

About these ads