Gara-Gara Tampang Arab


Dalam sejarah perjalananku belum pernah aku diinterogasi polisi sesering di Mesir. Baru saja traveling tiga hari di Sinai, aku sudah diinterogasi berkali-kali oleh polisi Mesir terutama ketika melewati pos pemeriksaan polis. Bahkan ketika aku mau mendaki gunung Sinai bersama rombongan traveler dari beberapa negara lain, polisi sempat menahanku pasporku dan menyuruhku turun dari mobil untuk ditanyai. Padahal,  tak satupun traveler dari negara  lain ditanyai. Aku sempat bertanya-tanya kenapa cuma aku saja yang diperiksa.

Di Kairo, hal yang sama kualami ketika hendak masuk ke National Museum. Polisi bertanya asalku dari mana dalam bahasa Arab dan meminta pasporku untuk diperiksa olehnya. Kejadian yang paling menyebalkan kualami ketika aku lagi duduk-duduk di piramid Giza sambil menulis jurnal perjalananku. Dua orang polisi mendatangiku dan bertanya dalam bahasa Arab. Aku bilang saja aku tidak bisa bahasa Arab. Kedua polisi tersebut kemudian bertanya dengan bahasa Inggris yang terbata-bata soal tulisan yang kubuat. Aku bilang kepada kedua polisi itu kalau aku sedang menulis jurnal perjalananku dalam bahasa Indonesia tetapi mereka tetap ngotot mau melihat jurnalku. Aku yakin tak satupun kata dalam jurnalku yang mereka mengerti. Kedua polisi itu mungkin berpikir kalau aku sedang membuat rencana untuk meledakkan piramid Giza…:-p.

Kejadian diinterogasi polisi di Piramid Giza bukanlah yang terakhir karena ada banyak interogasi-interogasi lain yang kualami sepanjang perjalananku di Mesir terutama ketika aku harus bertemu dengan polisi yang menjaga museum, kuil-kuil kuno, dan pos pemeriksaan polisi. Pertanyaan pertama para polisi ini selalu dalam bahasa Arab. Setelah melihatku bengong, mereka akan bertanya dalam bahasa Inggris dengan pertanyaan, “Are you Arabic?” Aku akhirnya sadar juga kenapa polisi Mesir selalu menginterogasiku. Mereka pasti mengira aku orang Arab.  Wajahku memang mirip orang Timur Tengah. Aku masih ingat ketika tinggal di Turki, orang disana selalu menyapaku dengan bahasa Turki dan juga Arab. Para polisi Mesir memang menjadi sangat waspada ketika melihat orang bertampang Arab berbaur dengan turis asing bertampang bule dan oriental. Sudah beberapa kali serangan mematikan terjadi terhadap turis dalam beberapa tahun terkakhir. Wajar saja jika polisi Mesir berharap orang-orang dari negara Arab untuk tidak melakukan perjalanan dengan turis-turis dari negara barat dan Asia.

Soal “diskriminasi” oleh polisi Mesir bukan hanya dikeluhkan olehku yang selalu jadi korban interogasi. Hal yang sama juga pernah dikeluhkan oleh pemilik guesthouse tempat aku menginap di Luxor. Bedanya, polisi yang menginterogasi dia adalah polisi rahasia. Dulu, dia memang menerima orang-orang Arab untuk menginap di guesthouse-nya dengan konsekuensi diperiksa polisi rahasia setiap malam. Selain itu, dia harus menyediakan akomodasi penuh untuk si polisi. Karena tidak tahan “disatroni” polisi rahasia setiap malam, akhirnya dia memutuskan untuk tidak lagi menerima turis-turis dari negara-negara Arab. Sebuah ironi memang, orang Arab ditolak di negara Arab sendiri.

Tak selamanya punya tampang Arab menjadi masalah di Mesir. Pemerintah Mesir memberikan harga lokal kepada turis-turis yang berasal dari Timur Tengah untuk tiket masuk ke tempat-tempat wisata yang tidak bisa kumanfaatkan dengan baik. Bahasa Arabku yang terbata-bata tidak cukup ampuh untuk “menipu” penjaga tiket yang semuanya bertanya dalam bahasa Arab ketika mereka melihatku membeli tiket. Yup, jadilah tampangku cuma bawa apes saja selama berada di Mesir…..:-p.

 

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi

About these ads