“No Sick in Africa”


Soal penyakit mematikan, Afrika memang gudangnya. AIDS, Ebola, Bilharzias, Meningitis, deman kuning dan penyakit-penyakit berbahaya lainnya menjadi endemic di benua ini.  Walaupun begitu banyak penyakit berbahaya, fasilitas rumah sakit di Afrika adalah salah satu yang terburuk di dunia. Maklum saja, negara-negara yang ada di benua Afrika memang termasuk negara-negara dunia ketiga atau negara miskin. Ketiadaan obat dan malpraktek menjadi cerita yang klise.

Fasilitas rumah sakit yang buruk membuat para traveler yang berkunjung ke Afrika sangat berhati-hati. Kata-kata “No Sick in Africa” menjadi semacam mantera bagi para traveler yang kebanyakan orang bule untuk tidak jatuh sakit selama melakukan perjalanan di benua ini. Sakit yang ringan di Afrika bisa menjadi maut, begitulah rumor  yang berkembang di antara traveler bule yang ada disana.  Karena  takutnya terkena infeksi di Afrika, banyak dari traveler-traveler bule yang tidak berani membuka mulutnya ketika mandi karena takut kemasukan air yang mungkin terinfeksi oleh bakteri atau virus. Untuk berkumur sehabis menyikat gigi, mereka lebih memilih berkumur dengan air botol kemasan. Bisa dikatakan, aku juga jadi ikut-ikutan paranoid seperti traveler-traveler bule tersebut……:-p.

Penyakit yang paling ditakuti di Afrika bukanlah AIDS atau Ebola tetapi Malaria. Malaria Afrika adalah salah satu jenis penyakit Malaria yang paling berbahaya atau yang disebut Plasmodium falciparum Malaria. Penderita yang terinfeski  malaria tipe ini bisa meninggal dalam hanya waktu  24 jam. Sakit Malaria jenis ini di Afrika lebih ditakuti oleh para traveler daripada masuk daerah-daerah berbahaya seantero  Afrika.

Salah seorang temanku di Nkhata Baya, Malawi bernama Danielle bercerita tentang kejadian yang menimpa temannya disini.  Temannya itu jatuh sakit dan semua orang menduganya bahwa dia terkena sakit malaria Plasmodium Falciparum. Danielle segera membawa temannya itu ke rumah sakit di Mzuzu, ibu kota salah satu provinsi di Malawi karena tidak ada rumah sakit yang memadai di Nkhata Bay yang hanya sebuah kampung nelayan.  Oleh dokter temannya diberi cairan yang tidak jelas terbuat dari apa. Beberapa hari setelah dia “diobati” dengan cairan ini, hidup temannya ini pun berakhir. Sebuah harga yang sangat mahal yang harus di bayar untuk sebuah perjalanan di Afrika.  “No sick in Africa” memang ada benarnya.

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi

About these ads