Turki Yang Sekuler Diantara Dua Benua


Aku malas sekali bicara soal agama karena agama itu  sangat pribadi sifatnya dan tentunya menjadi urusan masing-masing.  Terlebih lagi, aku besar di Indonesia dimana orang-orangnya sangat “perduli” dengan agama dimana   mengisi formulir rumah sakit atau hal-hal yang tidak berhubungan dengan agama harus menuliskan agama. Kalau kita pacaraan pun, pertanyaan orang tua kita pertama kali bukan soal jenis kelamin orang yang kita pacari. Pasti agama yang pertama kali ditanyakan…:-p. Mereka baru sewot ketika kita pacaran dengan sesama jenis. Lah salah sendiri nggak nanya….:-p.

Turki Eropa Dan Asia

Kali ini aku sedikit melanggar “kode etik” dengan menyinggung soal  agama karena tak mungkin aku tak  menyinggung sedikit topik yang sensitif itu jika aku berbicara tentang Turki, negara yang pernah kutinggali selama setengah tahun. Keingintahuanku soal agama dan juga budaya di Turki bermula ketika aku dan beberapa teman kantorku yang asli Turki makan siang di hari pertama bulan Ramadhan. Kantor tempat aku bekerja di Ankara memang selalu menyediakan makan siang. Sebenarnya aku sudah bersiap untuk makan diluar atau ikutan puasa juga mengingat secara statistik penduduk Turki 99% adalah muslim. Tetapi, aku sedikit bingung ketika tak satupun teman kantorku yang orang Turki berpuasa. Disinilah aku pertama kali bersentuhan dengan kesekuleran orang Turki. Di meja makan, aku menceritakan keadaan di Indonesia dimana minggu-minggu pertama bulan Ramadhan banyak warung makanan tutup. Salah satu temanku orang Turki mengatakan bahwa di kota besar orang tidak begitu pusing lagi dengan urusan agama. “We are moslems from our parents but most people in the city do not practice it,” ucap salah seorang dari mereka. Menurut mereka, puasa di bulan Ramadhan masih dijalankan di kota-kota kecil atau desa-desa. Kelihatannya orang Turki terutama di perkotaan sudah berpikir seliberal orang-orang di Eropa Utara. Mereka malas berpikir hal-hal yang bersifat religius.

Turki menjadi sekuler sejak kekalahan Kesultanan Ottoman pada Perang Dunia I. Bapak Turki Modern, Kemal Attaturk seorang Jenderal dalam pasukan Kesultanan Ottoman mengambil alih kekuasaan setelah mengalahkan pasukan Inggris dan Yunani. Kekuasaan Kesultanan Ottoman yang dulunya membentang dari Timur Tengah, Afrika dan Eropa kemudian  menyusut menjadi seluas Turki yang sekarang.

Setelah menjadi negara republik yang sekuler, Kemal Attaturk melakukan banyak pelarangan terhadap simbol-simbol masa lalu Turki seperti pakaian, kebudayaan, simbol-simbol agama dan lain-lain. Bahkan dimasa jaya sekularisme di Turki, wanita berjibab sering mendapat perlakuan diskriminatif seperti tidak diizinkan kuliah di perguruan tinggi dan tidak diperboolehkan kerja di instansi pemerintah. Attaturk ingin membuat sebuah negara Turki modern yang sekular dimana pemerintahan terpisah dari agama. Militer Turki menjadi penjaga nilai-nilai sekular yang dipegang pemerintah Turki. Cita-cita Attaturk memang tercapai terutama di daerah perkotaan. Di daerah pedesaan dan kota-kota kecil, nilai-nilai agama dan juga budaya Turki masih  kuat.

Hagia Sofia (Aya Sofia) Gereja Yang Jadi Masjid Dan Sekarang Menjadi Museum

Kesekuleran Turki memang bukan hanya soal agama, tetapi juga budaya. Ketika  salah seorang teman kerjaku di Ankara yang kebetulan seorang wanita Turki melangsungkan pernikahan, tak ada sama sekali unsur budaya Turki di dalam acara pernikahannya.  Acara pernikahan tak ubahnya sebuah pernikahan ala Eropa lengkap dengan acara dansanya. Teman kerjaku dari Malaysia sampai berkata bahwa orang Turki telah kehilangan identitias diri karena terlalu banyak mengambil budaya dari negara lain menjadi budaya mereka.

Blue Mosque (Masjid Biru) Istanbul

Penjelasan yang masuk akal soal budaya Turki aku dapatkan dari seorang kawan lain dari Turki yang sudah berumur diatas 50 tahun. Menurutnya,  generasi muda mereka memang mengikuti budaya Eropa yang sangat liberal terutama di daerah perkotaan. Mereka ingin dianggap sebagai orang Eropa, tetapi orang-orang dari generasi yang lebih tua menganggap bahwa mereka masih menjadi bagian dari Asia yang menjunjung tinggi nilai-nilai orang Asia yang lebih konservatif.

Aku melihat Turki menjadi sebuah arena tarik-tarikan antara sekularisme dan Islam selain tarik-tarikan budaya antara Eropa dan Asia. Selama negara ini berdiri negara ini,  tarik-tarikan tersebut akan terus berlangsung.  Semoga tarik-tarikan itu tidak akan berubah menjadi sebuah perpecahan. Semoga saja………

Cerita-cerita saya yang lain tentang Turki dan kehidupan disana bisa dilihat di:

Lebaran Dan Sepakbola

Hal-Hal Yang Unik Di Ankara Part 2

Hal-Hal Yang Unik Di Ankara Part-1

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi
Copyright Photo: Jhon Erickson Ginting

About these ads