Pengalaman “Gila” Di Kapal Perang


Dulu, sekitar 16 tahun yang lalu aku mengikuti sebuah kegiatan latihan yang diprakarsai oleh ABRI (jaman itu namanya masih ABRI). Aku ikut kegiatan ini karena aku bisa pergi gratisan ke Lombok. Maklumlah, kantong anak kuliahanku tak mampu untuk membiayaiku pergi kesana. Rencana awalnya kami akan diberangkatkan ke Timtim dan dipersenjatai tetapi kemudian dirubah menjadi Lombok karena alasan keamanan. Kegiatan ini merupakan kegiatan latihan integrasi antara AKABRI, STPDN, dan Mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi.

Singkat cerita, diberangkatkanlah kami dari pelabuhan Semarang dengan kapal perang. Kapal yang memberangkatkan kami saat itu ada tigan kapal perang jenis LST (Landing Ship Tank). Dua kapal LST buatan AS tahun 1930-an sedangkan satu kapal LST hasil pembelian dari Jerman Timur. Kebetulan aku berada di salah kapal LST buatan 1930-an yang kecepatannya paling banter 8 knot. Sangkin lambatnya, singkatan LST oleh anak-anak AKABRI diubah menjadi Lambatnya Sak Taek (anak2 AKABRI lho yang ngomong…..:-p).

Para mahasiswa yang “manja” ditempatkan di ruang tidur para kelasi di dek paling atas sedangkan anak-anak STPDN dan AKABRI ditempatkan di dek paling bawah bersama dengan perbekalan. Sialnya, toilet dan kamar mandi hanya ada di dek atas. Jadi anak-anak STPDN dan AKABRI kalau mandi dan boker juga diatas. Jangan harapkan toilet dan kamar mandi yang normal di kapal perang tua ini. Toilet semua sudah tidak ada pintunya, jadi kalau boker yang mirip boker di sungai, boker sambil ngerumpi. Semua ekspresi orang yang lagi boker bisa terlihat dengan jelas….ada yang merem-melek ketika menjatuhkan “bom kuning” panjang yang menggantung, ada yang meringis, ada yang menikmati suara-suara yang dikeluarkan dan sebagainya………Semua ekspresi boker bisa terlihat dengan jelas…………weeeekkkkk.

Urusan mandi lebih nyentrik lagi. Bisa dapat air saja sudah syukur. Air hanya dihidupkan selama 5 menit, paling lama 7 menit setiap pagi dan sore yang waktunya pun tidak pernah ada yang tahu. Kadang-kadang air tidak mengalir sama sekali dan kadang-kadang air mengalir bisa kurang dari 5 menit. Menunggu air menjadi sebuah seni tersendiri.

Kalau pernah lihat di film-film perang dunia II, dek untuk tidur di kapal perang akan diisi beberapa tempat tidur gantung di setiap dinding (biasanya 2 atau 3 tingkat). Di tengah-tengah ada lorong untuk jalan yang lebarnya kurang dari setengah meter. Di setiap ujung dek yang panjangnya sekitar 7m ada kamar mandi yang besarnya cuma sekitar 2.5 m x 4m. Kebetulan aku tidur di tempat tidur paling bawah yang tingginya sedikit lebih rendah dari pinggang orang dewasa. Karena kebiasaan mahasiswa yang selalu tidur telat dan bangun telat, aku masih tidur ketika semua anak AKABRI dan STPDN sudah berbaris sambil berbugil ria di lorong yang sempit. Pemandangan pertama kali yang kulihat ketika bangun adalah ”burung-burung perkutut” yang menggantung dengan indahnya lengkap dengan bau-baunnya yang jaraknya kurang dari setengah meter dari wajahku sampai-sampai “bentuk ukiran burung perkutut” bisa terlihat dengan jelas….:-p. Aku tidak bisa menyalahkan mereka yang berbaris bugil di lorong karena wajar saja orang pada antri untuk mandi. Air yang cuma mengalir 5 menit dibagi untuk 2000 orang.

Jangan dikira setelah berbaris dengan rapi membuat urusan mandi bisa dengan mudah dilakukan. Pagi hari adalah waktu yang paling hiruk pikuk di kamar mandi yang ukurannya cuma 2.5 x 3.5 m itu. Di dalam kamar mandi ada bak kecil ukurannya sekitar 0.3 x 1.5 m dengan dua buah gayung yang menjadi rebutan ratusan orang yang mau mandi dan boker pada saat bersamaan. Untuk bisa berada di depan bak adalah sebuah perjuangan tersendiri. Ada puluhan laki-laki bugil pada saat yang bersamaan berada di ruang 2.5 x 3.5 m. Mau tak mau ”adu pedang” tidak bisa dihindarkan. Untuk menghindari “adu pedang”, kami menutup ”pedang pendek” kami dengan tangan sambil bergeser pelan-pelan ke depan diantara celah-celah yang bisa dilewati. Nah konyolnya, walaupun keadaan sudah sangat darurat ada saja peserta baik dari AKABRI, STPDN, dan Mahasiswa berpikir mereka sedang mandi di rumah atau di hotel. Mereka sabunan sampai busa menutupi seluruh badan. Mereka baru kebingungan ketika air tiba-tiba berhenti. Kami cuma ngakak aja ketika ada yang jadi korban mati air tiba-tiba. Terpaksalah mereka mandi air sabun.

Urusan makan tidak kalah nyentrik. Makanan yang dimasak untuk ribuan orang pasti tidak enak rasanya. Walaupun begitu karena tidak ada pilihan, kami tetap saja berebutan makanan ketika makanan disajikan di dalam tempayan selebar kira-kira 1m. Disini yang ada adalah insting survival. Tidak ada teman kalau urusan makan. Telur yang hanya dimasak beberapa biji saja menjadi barang rebutan yang paling berharga. Kami semua seperti pengungsi Afrika yang kelaparan, saling sikut untuk mendapatkan sedikit protein. ”Benar-benar biadab,” ucap salah satu peserta dalam satu groupku saat itu. Dia memilih untuk tidak makan daripada harus berebutan seperti itu. Tapi apa mau dikata lagi, lah wong ini di kapal perang gitu loh.

Terus terang aku tidak pernah komplain ketika mengikuti kegiatan ini. Aku justru sangat menikmati segala macam “kegilaan” yang terjadi. Aku selalu ngakak sendiri setiap kali ingat masa-masa kami berlayar dengan kapal perang Indonesia ini. Setelah kegiatan latihan selesai, kami para mahasiswa cukup beruntung karena ditempatkan di kapal LST buatan Jerman Timur yang masih anyar pada saat itu. Kami tidak perlu lagi boker sambil diliatin atau mandi berebutan air. Perjalanan pun lebih singkat karena kecepaannya yang mencapai 18 knotts. Walaupun rasa makanannya tetap tidak terdefinisi oleh lidahku tetapi kami makan lebih beradab dan tidak berebutan seperti pengungsi Afrika yang sudah berbulan-bulan tidak makan. Perjalanan balik dari Lombok ke Semarang jadi lebih terasa menyenangkan…..

Cerita Perjalananku Lainnya Di Indonesia:

“Backpacker” Jadul

“Kutukan” Bali

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi

About these ads