“1001 Cara” Mendapatkan Visa


Bagaimana caranya aku mendapatkan visa banyak negara? Sebuah pertanyaan yang sering kudengar teman-temanku. Jujur saja, hanya 3 negara yang visanya pernah kuurus di Indonesia yaitu Australia, India, dan Turki. Visa ketiga negara tersebut kuurus di Indonesia bukan untuk traveling, tapi karena urusan pekerjaan. Selebihnya, aku mengurus visa negara-negara lain di luar Indonesia. Aku memang pernah tinggal di luar Indonesia. Selain itu, aku terbiasa dengan perjalanan panjang menyusuri berbagai negara. Kalau visanya kuurus satu persatu sebelum pergi, waktunya terlalu lama. Jadi, aku mengurus visa negara-negara yang akan kukunjungi sambil melakukan perjalanan. Biasanya, aku mengurus visa sebuah negara di  kedutaan besar yang ada di negara tetangganya. Jauh lebih mudah dan aturan “bisa dibelokkan” sedikit. Hal itulah yang sering kumanfaatkan dalam mendapatkan visa sebuah negara walaupun Indonesia mungkin tak termasuk dalam daftar sebuah negara yang warganya bisa mengurus visa negara tersebut tanpa status permanent resident di negara lain.

Jujur saja, aku sudah sering ditolak oleh petugas konsuler kedutaan negara lain di luar negeri saat mengurus visa. Alasannya biasanya karena pemegang paspor Indonesia tak bisa mendapatkan visa tanpa status permanent resident di negara yang sedang kukunjungi.  Kalau ditolak sekali dan langsung pergi, aku tidak akan pernah melakukan perjalanan. Dengan bermodalkan sedikit “muka tembok” , aku sering   mengeluarkan “rayuan maut” yang sedikit “lebay” untuk meluluhkan hati petugas konsuler yang menolakku. Namanya juga usaha, perlu perjuangan kan?

Setiap petugas konsuler memang punya sifat dan karakter yang berbeda. Ada yang baik hati, tapi ada juga yang ketus dan sombong. Aku tentu saja melakukan pendekatan yang berbeda ketika “merayu” mereka. Tak semua memang usahaku berhasil mendapatkan visa, tapi paling tidak aku sudah berusaha. Berikut adalah beberapa pengalamanku “merayu” petugas konsuler di berbagai kedutaan besar negara lain di luar negeri.

Petugas Konsuler Zambia

Petugas konsuler Zambia di Mesir adalah petugas konsuler pertama yang menolak permohonan visaku ketika aku traveling di Afrika. Zambia menurutku adalah negara miskin yang sombong. Baru saja aku masuk kedutaannya di Kairo, petugas konsulernya (seorang ibu-ibu gendut) sudah bertanya aku dari mana dengan nada tinggi. Ketika aku bilang aku dari Indonesia, si petugas langsung saja bilang tidak bisa memberikan visa kepada pemegang paspor Indonesia tanpa basa-basi. Aku tidak perduli dengan nada bicaranya yang tinggi dan tetap masuk untuk memohon visa dan menjelaskan keinginanku untuk masuk negara tersebut. Si ibu gendut itu tidak menggubrisku dan tetap memandang komputernya. Aku tetap menunggu di depannya sampai dia kembali mengatakan dengan nada bicara yang lebih lembut dari sebelumnya bahwa paspor Indonesia memerlukan waktu dua minggu untuk pengurusan visa Zambia. Alasannya, pasporku harus dikirm dulu oleh departemen luar negeri Zambia di Lusaka.

Di Tanzania, aku kembali memohon visa Zambia. Petugasnya jauh lebih ramah tapi walaupun aku sudah merayu sedemikian rupa dengan memuja-muji keindahan air terjun Victoria yang terkenal itu, aku tetap tidak mendapatkan visa. Alasannya sama dengan alasan petugas konsuler kedutaan Zambia di Mesir. Akhirnya aku membatalkan perjalanan ke Zambia. Pak Dubes Indonesia berusaha membantuku tapi sudah telat karena keesokan harinya aku harus pergi ke Malawi.

Petugas Konsuler Malawi
Berbeda dengan tetangganya Zambia, Malawi lebih mudah memberikan visa. Aku mengurusnya di Kedutaan Malawi Dar Es Salaam, Tanzania. Seperti pengurusan visa di negara lainnya, dokumen yang diperlukan adalah foto 4 x6, formulir aplikasi dan uang 75 dollar. Ada sedikit wawancara dengan petugas konsuler. Si petugas konsuler juga seorang ibu-ibu gendut tapi sangat ramah. Dia hanya bertanya tentang tujuanku pergi ke Malawai dan jumlah uang yang dibawa selama berada disana.  Tentunya aku sedikit mem-boost up tentang jumla uang yang kubawa. Untuk meyakinkan si ibu, aku juga mengatakan kalau orang Malawi sangat ramah.

“I have thousands of dollars in my bank, so I could spend some of them in your country. I want to see your people hospitalitiy in your home country,” kataku saat itu.

Kata-kata rayuanku cukup meluluhkan hati si ibu petugas konsuler tersebut. Satu jam kemudian pasporku pun sudah berisi visa Malawi.

Petugas Konsuler Uganda

Visa Uganda cukup sulit cukup sulit kudapatkan karena perlu kata-kata rayuan yang lebih banyak. Aku mengurusnya di kedutaan besar Uganda di Nairobi. Seorang petugas konsuler, kali ini seorang ibu yang mendekati umur pensiun dengan kacamata model lama yang dulu sering dipakai oleh nenekku menyambutku dengan ramah.  Ketika dia  menanyakan tujuanku datang ke Uganda, aku jawab untuk tourist activity. Tapi, aku keceplosan bilang kalau aku juga bakal ke Rwanda setelah dari Uganda. Tidak tahu ada sentimen apa antara Rwanda dengan Uganda, si petugas langsung mengatakan tidak akan memproses aplikasiku jika aku berniat pergi ke Rwanda. Aku terpaksa kembali mengeluarkan rayuan mautku.

“You know man, Uganda is beutiful country. I know it from many source friends, magazines, internet, etc. I come so far from my country to see your beautiful country. I want to do rafting in Nile river. I want to see the source of Niler river…bla…bla…bla…….

Aku menunggu sekitar 10 menit di depan si petugas sambil terus memohon dengan wajah memelas supaya aplikasi visaku disetujui (aku bisa muntah kalau melihat wajahku sendiri saat itu…..weekk!!). Ibu petugas konsuler itu akhirnya capek juga mendengar rengekanku.

“Allright, I will proceed your visa opllication but don’t write in your application if you want to go to Rwanda,” ucapnya dengan sedikit ketus.

Tak sampai 5 jam, aku sudah mendapatkan visa Uganda.

Petugas Konsuler Lebanon.

Pengalamanku memohon visa Lebanon adalah sebuah pengalaman yang unik. Aku mengurus visa Lebanon di kedutaan besar mereka di Ankara yang kebetulan tak jauh dari kantorku. Seorang petugas konsuler yang mempunyai masalah kebotakan menyambutku dengan senyum termanis yang dia punya. Aku sudah yakin saja kalau dia bakal memberiku visa hari itu.

Aku lalu menjelaskan maksud dan tujuanku untuk mendapatkan visa Lebabon. Tak sedikitpun terlintas dalam pikiranku hika petugas konsuler yang mengaku bernama Said itu menolak permohonan visaku (dengan tetap tersenyum).

“I cannot give you visa because you are not permanent resident in Turkey,” katanya.

“Can you make an exception for me? You know Indonesia and Lebanon have a very close relationship. We send our peacekeeping force there. Come on my friend,” kataku merayu sedemikian rupa untuk membuatnya merasa bersalah.

“Still cannot, my friend,” kilahnya. Dia tak termakan dengan jebakan kata-kataku.

I am a consultant. You don’t need to worry if I short of money travelling in your country,” lanjutku dengan kalimat “lebay” yang lain.

Said tidak bergeming dan masih tetap tersenyum. Dia kemudian mengajakku masuk ke ruang tamu kedutaan.

“I want to tell you something,” katanya sambil masuk ke dalam sebuah ruangan.

Dia menyuruh seorang office boy untuk memberiku teh dan kue-kue kering. “Baik banget nih orang,” bisikku dalam hati sambil terus mikir kok orang ini bisa tiba-tiba menjamuku.  Sambil menunggu, aku membaca-baca brosur tentang traveling di Lebanon.

Said lalu keluar sambil membawa sebuah brosur dan tersenyum lebar kepadaku. Dengan bersemeangat dia menjelaskan maksudnya. Said mengatakan dia ikut bisnis multi level marketing (MLM), Amway. Dia sangat terinspirasi oleh seorang tokoh Amway Indonesia yang sangat berhasil membangun jaringannya. Berkali-kali Said mengatakan bahwa dengan bisnis MLM orang Indonesia itu mempunyai BMW, rumah mewah, jet pribadi, dan lain-lain yang serba wah. Aku mendengar sambil manggut-manggut sok serius mendengar presentasinya.

 “So, what is your point?” tanyaku pura-pura bego.

 “I want you to be my subordinate,” jawabnya sambil tersenyum. Dia lalu menjelaskan keuntungan-keuntungan yang kudapat jika menjadi anggota Amway. Bah!!! Bukannya memberiku visa malah jualan. “Sialan juga nih orang, ” bisikku dalam hati.

 “OK. Will you approve my visa application If I become your subordinate?” tanyaku berusaha barter.

“Sorry my friend, I cannot. Regulation is regulation.”

 “So, I will never be your subordinate,” jawabku bernegosiasi.

Said penasaran dan kini giliran dia yang merayuku mati-matian. Aneh!! Aku tetap tidak mau. Visa sudah harga mati sebagai syaratnya. Akhirnya Said menyerah juga setelah dia melihatku tak mau menurunkan syarat. Jujur saja, baru kali ini rasanya aku mengalami kejadian nyentrik seperti ini. Mau apply visa malah jadi target operasi MLM. Visa juga nggak dapet…nasib..nasib….

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi

About these ads