Wanita-Wanita Petualang dan Pebisnis


Sekitar 2.5 tahun lalu ketika baru saja kembali ke Indonesia, aku diajak teman-teman wanitaku nonton film yang dari judulnya saja sudah bikin aku malas nonton. Karena mereka “memaksa”, akupun nonton film tersebut bersama mereka. Fim ini dibintangi Merryl Streep, judulnya “Mamma Mia”. “Mama Mia” bercerita tentang seorang anak perempuan yang mau menikah dan menginginkan sang “bokap” ikut hadir dalam pernikahannya. Masalahnya, si anak tidak tahu siapa ayahnya karena ada tiga orang laki-laki yang mempunyai kemungkinan bisa menjadi ayahnya (Wow….!!!). Sang ibu, Donna Sherridan yang diperankan oleh Merryl Streep adalah seorang traveler yang akhirnya terdampar di sebuah pulau di Yunani dan bercinta dengan tiga pria sekaligus dalam waktu yang hampir bersamaan (Damn…What a woman!!!) Sehabis menonton film ini, aku jadi teringat dengan wanita-wanita yang pernah kutemui dalam perjalananku di berbagai negara yang kisahnya mirip dengan cerita film Mama Mia. Yang kumaksud disini bukan kisah mereka berhubungan seks dengan tiga pria sekaligus, tetapi kehebatan mereka menjadi petualang sekaligus pebisnis yang membuka usaha di tempat mereka bertualang.

Margo adalah wanita pertama yang kukenal membuka usaha penginapan di luar negaranya. Dia  berasal dari Inggris yang sudah 20 tahun menetap di China. Aku bertemu dia sewaktu menyusuri trek Tiger Leaping Gorge di Quitou, Yunan China. Margo membuka guesthouse untuk para traveler di Quitou. Letaknya persis di pertigaan antara Quitou-Lijiang-Shangrilla (Zhongdian). Selain itu dia juga menjadi guide bagi para turis “manja” yang mau menyusuri trek Tiger Leaping Gorge. Margo rupanya tidak mengikuti gaya hidup Donna Sherridan yang bohemian. Margo cukup konservatif. Mungkin dipengaruhi oleh usia juga. Dia menikah dengan dengan suaminya yang juga orang Inggris. Mereka sepertinya hidup tenang di bawah naungan Gunung Changsan.

Wanita kedua yang akan aku ceritakan adalah Valentina yang berasal dari Italia. Dia membuka guesthouse di Petra Yordania bersama suaminya yang orang lokal. Valentina cenderung pendiam dan tidak banyak cakap. Hidupnya juga tidak seheboh Donna Sherridan yang bercinta dengan tiga orang lelaki sekaligus. Valentina lebih memilih hidup tenang dengan suaminya yang berasal dari Yordania. Mereka pada saat ini telah mempunyai seorang anak. Berdua mereka mengelola guesthouse yang diberi nama Valentine Inn, suatu oase bagi para traveller untuk melepas lelah. Valentine Inn adalah salah satu guesthouse terbaik yang pernah aku tinggali.

Selama di traveling di Afrika, aku menemui lebih banyak wanita-wanita petualang yang tinggal dan berbisnis di tempat-tempat eksotis disana. Mereka ini merupakan wanita-wanita tangguh yang mencintai kebebasan tapi juga paham tentang kapitalisme sehingga tidak perlu harus hidup melarat atau hidup jadi “backpacker” yang harus luntang-lantung mencari kerja kesana kemari untuk membiayai perjalanan mereka. Dari sekian wanita yang kutemui ini aku memilih Sarah karena keliarannya hampir mirip dengan Donna Sherridan. Dia masih doyan minum dan pesta gila walaupun tidak sampai punya anak dari hubungan dengan tiga orang pria. Sarah seperti juga Margo berasal dari Inggris. Seperti yang lainnya, Sarah juga membuka usaha guesthouse, Big Blue Star Guesthouse di Nkhata Bay Lake Malawi. Pengelolaan guesthouse-nya sangat kekeluargaan. Para asistennya adalah traveler yang lagi perlu uang dan kebetulan singgah di Malawi.

Ketiga wanita yang kutemui ini adalah “Smart Traveller” yang bisa menyalurkan hobi menjadi sebuah bisnis. Mereka bertualang jauh dari negara mereka ke negeri lain dan membuat perbedaan. Ketiga wanita diatas membuktikan bahwa menjadi traveler tidak harus “kere” dan gembel. Tidak perlu juga menjadi terlalu “gila” seperti Donna Sherridan yang berhubungan dengan tiga pria dalam waktu yang hampir bersamaan. Mereka mungkin pernah “kere” dan melakukan kegilaan, tetapi tidak untuk selamanya. “There is always the time for a time”.

Copyright: Jhon Erickson Ginting
Sumber: Pengalaman Pribadi

About these ads