Pengalaman Melintas Perbatasan Darat Berbagai Negara Di Dunia


Selama menyusurui jalan-jalan di berbagai belahan dunia, salah satu yang paling aku suka adalah melintasi perbatasan suatu negara lewat darat. Banyak hal yang bisa terjadi disini terutama kalau kita berada di negara-negara yang secara ekonomi termasuk dalam negara-negara dunia ketiga. Di dua negara yang berbatasan, biasanya terdapat areal kosong sepanjang 0.5 -1.0 km yang biasa disebut sebagai “no man’s land”. Tempat ini biasanya di penuhi oleh banyak pedagang mata uang, mulai dari yang jujur sampai penipu. Selain lewat darat aku juga pernah 2 kali nyebrang perbatasan lewat laut, tapi sensasinya tidak sehebat kalau menyebrang lewat darat. Dalam perjalanan lintas batas ini aku beberapa kali tertipu walaupun tidak semuanya seperti itu. Dari pengalaman ini bisa diambil pelajaran supaya tidak tertipu lagi. Ada 13 perbatasan negara yang pernah aku lintasi selama perjalananku. Semuanya memberi pengalaman yang unik.

1. Perbatasan Yordania-Israel.

Aku rasa perbatasan kedua Negara ini salah satu yang paling dijaga ketat di seluruah dunia terutama di bagian Israel. Aku menyebrang lewat “Friendship Bridge”. Perbedaan terasa sekali sewaktu masuk pos imigrasi Israel. Di pos imigrasi Israel ini kita ditanyain berulang ulang dengan pertanyaan yang sama. Siapa nama belakang kakek buyut, nama belakang kakek, nama belakang ayah dan seterusnya. Setelah ditanya berulang-ulang tanpa salah baru stamp diberikan di secarik kertas yang tidak boleh hilang selama kita di Israel. Paspor kita bersih dari cap stamp Israel. Setelah itu kita melewatin penjagaan yang super ketat. Di atas bukit-bukit pasir kelihatan tentara Israel dengan perlengkapan senjata berat. Aku juga sempat melihat beberapa sarang senapan mesin dan senjata anti pesawat.

2. Perbatasan Thailand-Kamboja

Perbatasan Thailand Kamboja biasa saja walaupun beberapa orang bilang disini banyak copet. Kalau bisa, nyebrang perbatasan dari Thailand ke Kamboja jangan pesan bus langsung dari Bangkok-Siem reap karena biasanya bisnya sangat mengecewakan. Selain itu biasanya sebelum sampai di Aranyapathet, supir bus akan berhenti di sebuah restoran lokal dimana orang-orang disitu akan bilang kalau mata uang “Bath” Thailand dan “Dollar” tidak berlaku di Kamboja.  Mereka juga bilang restoran tersebut adalah tempat penukaran terakhir dan satu-satunya yang ada sebelum menyeberang ke Kamboja. Jelas-jelas mereka adalah penipu. Dari tempat ini biasanya ada truk (bukan bis) yang menjemput ke perbatasan (imigrasi). Setelah melewati proses imigrasi kedua negara yang tidak banyak tingkah (turis biasanya didahulukan), aku naik bis yang sudah karatan dan tanpa AC (tidak seperti yang dijanjikan di Bangkok).

Poipet, kota perbatasan Kamboja dengan Aranyapathet Thailand

Poipet, kota perbatasan Kamboja dengan Aranyapathet Thailand

Pilihan terbaik menyeberang ke Kamboja (Siem Reap) dari Bangkok adalah dengan naik bus dari terminal bus Utara di dekat Chacucak Market menuju Aranyapathet. Dari terminal bus Aranyapathet naik tuk-tuk atau bus kecil menuju perbatasan.  Setelah tiba di Poipet Kamboja, naik sharing taxi ke Siem Reap. Beberapa perusahaan sharing taxi Kamboja melayani perjalanan Siem Reap ke kota perbatasan,Poipet. Selain cepat, mobilnya juga nyaman. Harga memang lebih mahal sedikit tapi bisa menghemat waktu dan tenaga.

3. Perbatasan Malaysia-Singapura dan Sebaliknya.

Aku beberapa kali melintasi perbatasan Malaysia-Singapura karena aku pernah tinggal di Malaysia. Aku pernah melintas perbatasan dengan kereta api dan juga bus. Naik kereta api perlu waktu yang lebih lama untuk urusan imigrasi daripada bus karena jumlah penumpang yang lebih banyak, tetapi aku pernah ketiban sial naik bus saat aku mau menyebrang dari Malaysia ke Singapura. Pada saat lagi kami menunggu proses imigrasi di pos imigrasi Singapura, bus kita tidak sabar menunggu dan meninggalkan kami begitu saja. Untungnya kami semua turun bawa tas kalo tidak kami pasti sudah jadi gembel.

4. Perbatasan Vietnam-Kamboja

Perjalanan Lintas batas paling simpel yang pernah kualami tapi ini terjadi tahun 2005. Aku pesan bus dari Saigon (Ho Chi Minh City). Semua urusan imigrasi di Moi Pet di urusin oleh kernet bus. Kita hanya duduk di dalam bus. Perjalanan terakhirku melewati perbatasan ini tahun 2010 sudah sangat berbeda. Pemeriksaan barang lebih ketat karena setiap penumpang harus turun dengan barang bawaannya masing-masing untuk diperiksa di imigrasi kedua negara.

5. Perbatasan Vietnam-China

Salah lintas batas paling sial yang pernah aku alami. Aku pesan tiket kereta dan bus langsung dari guesthouse tempat aku menginap di Hanoi karena aku lagi malas bersusah-susah. Tiket kereta dari Hanoi ke Lao Cai memang sesuai dengan yang kuminta, sleeper train. Masalah timbul waktu aku tiba di Lao Cai. Guesthouse di Hanoi tidak langsung memberiku tiket bus dari kota perbatasan di China Heikou ke Kunming. Aku harus mengambil tiket dari seseorang yang menemuiku di sebuah restoran di Lao Cai. Tiket yang kubeli VIP tapi yang dikasih malah kelas ekonomi. Aku mencak-mencak tetapi orang yang memberiku tiket pura-pura tidak bisa berbahasa Inggris. Sorenya aku menyebrang dari Lao Cai ke Heikou setelah beberapa jam ngelihat kampung-kampung orang Hmong di Sapa. Imigrasi Vietnam tidak ada masalah, tetapi pas melewat Imigrasi China masalah kemudian timbul. Buku panduanku, “Rough Guide”  diambil dengan alasan buku itu tidak menaruh Taiwan sebagai bagian dari China. Aku sudah berusaha merayu  petugas imigrasi yang kebetulan seorang gadis muda yang cantik, tetapi ada daya dia tetap berkeras tidak mau mengembalikan buku “Rough Guide” milikku. Jadilah aku keliling China tanpa buku panduan yang kebetulan jadi jauh lebih menantang dan menyenangkan. Sejak kejadian ini aku jadi jarang sekali menggunakan buku panduan dalam perjalanan-perjalananku.

6. Perbatasan Tibet (China)-Nepal

Sebenarnya dan seharusnya tidak ada masalah waktu aku melintasi perbatasan Tibet-Nepal. Biasanya, ada pemeriksaan sebelum nyampai di kota terakhir di China Zeikhou. Imigrasi China dan Nepal tidak ada masalah. Aku pergi berempat waktu itu dengan sepasang teman dari Amerika dan seorang teman dari China. Permasalahan timbul pada saat kami tawar menawar jeep dari perbatasan ke Nepal. Pada saat itu perang sipil mau akan berakhir. Aku tidak tahu persis apa yang terjadi antara temanku orang Amerika bernama Ben yang menawar ongkos jeep dengan orang-orang disekitar situ. Yang jelas ada orang yang tiba-tiba saja ada yang teriak-teriak. “Fuck Tourist!” Fuck America!” “We will kill you!!” Selanjutnya banyak orang yang sudah berkerumun menngelilingi teman Amerikaku itu. Beruntung ada salah satu pemilik jeep yang menawariku harga sesuai yang kami mau. Aku langsung menarik Ben dari kerumunan orang-orang yang mulai beringas itu. Ben masih mau berdebat dengan mereka tetapi aku langsung membentaknya. Aku menyuruh Vivian pacar Ben dan Jerry, temanku dari China untuk masuk kedalam Jeep sambil aku menarik kerah Ben menuju jeep. Sebelum keadaan lebih memburuk aku menyuruh supir jeep untuk langsung cabut. Mungkin dalam hitungan menit kalau kami tidak segera pergi, kami mungkin sudah jadi tape dipukuli puluhan orang.

Zheikou, Perbatasan China (Tibet)-Nepal

7. Perbatasan Macao-Hongkong (Lewat Laut)

Penyebrangan ferry seharga 175 dollar Hongkong yang nyaman, tenang dan cepat. Tidak ada kesan yang medalam kecuali melihat begitu banyak orang meludah di lantai ferry dengan cueknya….:-p.

8. Perbatasan Jordan-Mesir (Lewat Laut)

Dalam buku Lonely Planet dijelaskan kalau perjalanan Ferry melintas perbatasan dari Aqaba di Yordania ke Nuweiba di Mesir hanya menempuh waktu 1.5 jam. Sebenarnya LP tidak salah, tapi buku itu tidak menjelaskan kalau waktu memunggu proses imigrasi sebelum berangkat dan sebelum tiba memerlukan waktu sampai 4 jam. Jadi total lamanya perjalanan mencapai 5.5 jam. Selain itu harga tiket cukup mahal, $ 50!!

9. Perbatasan Tanzania-Malawi

Satu lagi perjalanan lintas batas yang paling gila. Saat itu aku dan Tim, seorang teman dari Amerika menuju perbatasan Tanzania-Malawi dengan menggunakan bus umum. Sekitar 1 km dari terminal bus di kota perbatasan, beberapa orang sudah loncat kedalam bus untuk menawarkan “bantuan” kepada kami. Mereka sudah “ngetek” duluan tas-tas kami dan bahkan mengambil tas-tas kami tanpa izin. Ketika kami turun dari bis di terminal, sekitar 40 orang yang langsung mengerumuni kami. Ada yang langsung ngangkut kedua ransel kami. Ada yang menawari taxi, bus, sepeda dan menemani jalan kaki ke perbatasan dengan “cara-cara yang sangat menyesatkan”. Semua orang ngomong sampai aku dan temanku Tim tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka lagi. Satu hal yang paling jelas adalah keinginan mereka untuk menguras isi kantong kami. Ada yang minta sampai 50 dollar ongkos ke pos imigrasi padahal letaknya cuma 300m. Tim yang baru pertama kali melakukan lintas batas lewat darat berusaha tawar menawar dengan orang-orang ini. Aku memilih berjalan kaki dengan cuek dan tidak meladeni para cecunguk  itu. Tim mengikutiku dari belakang walaupun tadinya dia lebih memilih untuk naik mobil dengan ongkos $ 50. Selama berjalan kaki ke perbatasan para cecunguk-cecunguk itu masih mengikuti kami dan berusaha menyesatkan kami. Aku terus berjalan sampai pos imigrasi Tanzania tanpa memperdulikan omongan mereka yang sesat. Di depan gerbang pos imigrasi para cecunguk ini minta duit 5 dollar karena telah “menemani” kami berdua berjalan ke perbatasan. “Go to hell!!!” Begitulah ucapan kami kepada mereka.

10. Perbatasan Tanzania-Kenya.

Perjalanan lintas batas yang simpel dan tidak ribet. Aku ngurus visa Kenya di kota perbatasan, Taveta. Simpel dan mudah. Harga Cuma 50 dollar. Perbatasan Tanzania-Kenya di kawasan ini bisa dibilang sepi. Hampir tidak ada gangguan kecuali beberapa orang yang menawarkan penukaran uang.

Taveta, Desa Perbatasan Kenya-Tanzania

11. Perbatasan Kenya-Uganda

Pada saat aku menyebrang perbatasan dari Kenya ke Uganda, kerusuhan di Kenya baru saja berakhir. Sisa-sisa kerusuhan masih berlangsung di Kisumu, salah satu kota terluar Kenya yang berdekatan dengan Uganda. Jalur bis melewati kota ini cuma untungnya tidak terjadi apa-apa. Selanjutnya perjalanan bisa dilakukan dengan tenang. Penukar uang di kota perbatasan, Busia  juga dilengkapi dengan pakaian yang menunjukkan mereka bekerja dengan resmi. Hampir tidak ada gangguan disini kecuali beberapa anak pengemis yang mengharapkan sumbangan sukarela.

Busia, Perbatasan Uganda-Kenya

12. Perbatasan Uganda-Rwanda

Salah satu perjalanan lintas batas yang ketat di Afrika terutama di bagian Rwanda. Setelah selesai pemeriksaan paspor, tas-tas akan diperiksa satu persatu. Rwanda mempunya kebijakan “no plastic in Rwanda”. Semua tas-tas yang terdapat bungkusan plastik dibongkar. Gara-gara urusan check kantong plastik ini, antrian jadi sangat panjang. Jadi, sebelum masuk Rwanda pastikan tidak ada kantung kresek di dalam tas untuk menghemat waktu.

13. Perbatasan Thailand-Laos

Untuk pertama kalinya aku menyeberangi sebuah perbatasan darat dengan istri karena saat itu aku baru saja menikah. Kami mengambil bus dari Udonthani menuju Nongkhai dan bertemu dengan dua wisatawan dari Selandia Baru di dalam bus. Yang masih muda dan terlihat gugup karena ini adalah pertama mereka melintasi perbatasan. Aku mengundang mereka untuk ikut dengan kami. Tiba di Nongkhai, kami menyewa Tuk-Tuk ke perbatasan. Sopir Tuk-Tuk mencoba mendapatkan tambahan uang dengan mengantar kami ke sebuah agen perjalanan yang bisa mengurus permohonan visa Laos. Aku dan istriku sudah memiliki visa namun kedua Selandia Baru belum memilikinya. Aku mengatakan kepada sopir tuk-tuk untuk terus perbatasan karena agen perjalanan akan mengenakan kedua traveler Selandia Baru sejumlah uang untuk layanan ini. Kedua anak muda Selandia Baru sepakat untuk mengurus visa langsung di perbatasan. Imigrasi Thailand kami lewati dengan mudah, tidak ada masalah sama sekali. Imigrasi Laos sedikit berbeda karena ada kutipan 2 dolar sebelum keluar dari imigrasi.

Lao-Thai border

Lao-Thai border

Di sisi Laos kami beruntung untuk menyewa Tuk-Tuk dengan hanya 50 Baht untuk membawa kami ke Vientiane. Biasanya 50 Baht untuk 1 orang tetapi kami hanya membayar 50 baht untuk 4 orang.

Copyright: Jhon Erickson Ginting

Sumber: Pengalaman Pribadi

Copyright Photo: Jhon Erickson Ginting

About these ads